Come in with the Rain

Minggu, 20 Oktober 2019

Makkah Al Mukarramah


Makkah al Mukarramah – Makkah yang dimuliakan.  Dalam rangkaian perjalanan umroh kemarin, kami dijadwalkan berada di Makkah selama 4 hari juga.  Kami berangkat dari Madinah di hari keempat setelah bermiqat di Bir Ali dan berniat umroh.  Perjalanan dari Madinah ke Makkah sekitar 4-5 jam menggunakan bis rombongan.  Kami berangkat dari Madinah sekitar pukul 4 sore, dan karena sudah briefing sebelumnya bahwa solat Magrib akan dijamak dengan Isya, kami hanya berhenti tanpa turun di rest area dan bisa sampai di kota Makkah sesuai rencana.

Tiba di Makkah kami hanya istirahat sebentar dan menaruh barang-barang di hotel, kemudian langsung bersiap untuk melaksanakan umroh.  Pada waktu melihat jadwal umroh, saya sebenarnya agak kaget dan waswas, karena di jadwal kami baru mulai umroh sekitar jam 11 malam, which is itu sudah jam tidur saya dan biasanya kalau belum tidur saya akan merasa mengantuk dan lelah.. tapi saat itu saya hanya berdoa semoga dikuatkan dan dimudahkan dalam pelaksanaan umrohnya.

Alhamdulillah selama melaksanakan inti ibadah umroh tersebut, benar-benar saya merasa diberi kekuatan dan kemudahan, sampai tidak berhenti menangis karena I don’t think I deserve it.  Rasanya semua orang yang diberi kesempatan solat di Baitullah akan merasakan hal yang sama.  Saat itu saya cuma berpikir kenapa bisa sebaik ini ya Allah, padahal dosa-dosaku begitu banyak.. sampai rasanya berdoa saja tidak terpikir apa lagi yang mau saya minta.. I’ve already had this much.. it’s more than enough, much more than I deserve..

Dan sebelum saya berangkat, saya mendengar cerita orang-orang yang sudah pernah berangkat, katanya apa yang kita pikirkan atau ucapkan, pasti kejadian.  Mendengar itu sebenarnya agak waswas mengingat saya ini suka komentar dan suka berpikir negatif.  Makanya sewaktu di Makkah – dan Madinah, setiap saya mulai berpikir aneh sedikit, langsung mengingatkan diri sendiri untuk berdzikir.  Dan saya mengalami kejadian itu sendiri.  Saya ingat sempat bergumam sendiri di Masjid Nabawi “pasti bagus banget ya kalau bisa melihat payung-payung ini kalau lagi dibuka pagi-pagi..”dan besoknya langung dikasih, sambil menunggu solat dhuha saya duduk di luar dan tiba-tiba payung-payung itu mengembang.. I was so speechless.

Di Makkah juga saya sempat berpikir saat melihat orang-orang solat di pelataran Masjidil Haram saat magrib “gimana rasanya ya solat diluar gini, kan penuh dan ramai .. “ ternyata besoknya kami tidak kebagian tempat di dalam waktu solat Isya karena berangkatnya telat, dan akhirnya harus keluar lagi dan solat di pelataran.  I was like, oh this is it, I get what my thought told me yesterday :D
Saya juga ingat sempat berpikir “disini bacaan solatnya panjang-panjang dan bukan dari juz 30 yang familiar.. padahal pengen banget denger surat Al A’la atau Al Lail langsung dari imam Masjidil Haram ya..” dan langsung dibayar tunai besok hari waktu solat Subuh, Al Lail dibacakan langsung oleh Imam Masjidil Haram.  Rasanya seperti dikasih tau “I hear you and I will give it to you..” Masya Allah ..

Yang paling saya ingat di hari kedua setelah umroh, setelah Isya Pak Ustadz pembimbing mengajak kami untuk mencoba solat di Hijr Ismail karena beliau melihat keadaan tidak begitu ramai dan sepertinya bisa kalau mau coba solat di sana, tapi tidak wajib dan hanya yang mau saja.  Hijr Ismail itu adalah salah satu tempat mustajab dan berdoa atau solat di dalamnya itu seperti solat di dalam Ka’bah.  Siapa yang tidak ingin solat di sana coba.. akhirnya saya dan Ibu pun pergi bersama sedikit rombongan, karena memang tidak wajib dan kami berserah diri sambil berdoa semoga sekali saja bisa diberi kesempatan ini.  Waktu sampai disana memang tidak terlalu ramai, tapi tetap saja di pintu masuk Hijr Ismail sudah bergerombol orang yang mengantri.  Waktu saya mengantri, yang ada di pikiran saya cuma doa “Ya Allah, sekali saja.. Cuma sekali dan sebentar saja, saya tidak akan lama-lama supaya bisa bergantian dengan orang lain, setelah Ibu saya bisa masuk, ijinkan saya sekali saja, 2 rakaat saja, even if this is my last time, but I hope it wont be my last time, sekali saja ya Allah, ingin berdoa di jarak terdekat dengan-Mu..” dan jalan itu terbuka.. untuk saya, Ibu saya, dan rombongan kecil kami.  Walau tetap harus berdesakan, tapi kami semua Alhamdulillah bisa solat dua rakaat.  Kami semua yang keluar setelah solat penuh dengan air mata.  I don’t know what others think, but again, I think this was too much.. why do I get everything more than I deserve.. 

Allah begitu baik.

Selama di Makkah saya dipertemukan dengan ayat-ayat ini saat tilawah

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu” ( Ar Ra’d : 2)

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Ibrahim : 7)

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Ibrahim:34)

I really wish and sincerely prayed semoga saat itu adalah bukan saat terakhir saya mengunjungi Makkah dan Madinah.  Semoga ada kesempatan lagi dan bisa pergi bersama orang-orang yang saya sayangi, dan berharap kami bisa berkumpul bersama di surga nanti.




Jumat, 04 Oktober 2019

Madinah al Munawarah

Madinah al Munawarah - Madinah kota yang bercahaya.
Tiba di Madinah di malam hari memang penuh dengan cahaya.  Tapi al Munawarah yang dimaksud adalah kota ini akan menjadi kota yang bercahaya di hari kiamat nanti karena kesuciannya.
Jadwal yang kami dapat adalah 4 hari berada di Madinah, sebelum berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan umroh.

Day 1-2
Setelah penerbangan sembilan jam dari Jakarta, kami tiba di hotel sekitar jam 12 malam waktu setempat.  Selama di Madinah, kami menginap di Nozol Munawarah, hotelnya hanya 5 menit berjalan kaki dari/ke masjid Nabawi.  Jadi setelah pembagian kamar, kami hanya beristirahat sebentar, kemudian menuju ke Masjid Nabawi untuk solat tahajud dan solat subuh. 


Prince Mohammed bin Abdul Aziz Int'l Airport

Yang pertama kali dirasakan saat masuk ke Masjid Nabawi tentu saja terharu, tidak menyangka bisa sampai ke tempat ini dan berada dekat sekali dengan Rasulullah SAW.  Walaupun Masjid ini tidak pernah sepi, ada kedamaian yang terasa menyelimuti di tengah hiruk pikuk lalu lalang jamaah.  It's just a peaceful atmosphere surround us. 
Inside Masjid Nabawi


Setelah solat subuh, kami kembali ke hotel untuk sarapan pagi, dan kemudian bersiap untuk ziarah dalam Masjid Nabawi, Makam Baqi, dan Raudhoh.
Saat ziarah ini, Alhamdulillah kami dipandu langsung oleh Aa Gym, beliau menjelaskan segala hal tentang Masjid Nabawi, dan kami juga dibawa berziarah ke Makam Baqi, tempat dimakamkannya orang-orang soleh, dan menurut riwayat, orang-orang yang dimakamkan disini akan dibangkitkan lebih dulu saat hari kiamat nanti.






Setelah keliling Masjid, jamaah wanita dan jamaah pria dipisahkan karena akan mengunjungi Raudhoh dan Makam Rasullullah SAW.  Kalau jamaah pria lebih beruntung karena bisa mengunjungi makam Rasulullah SAW, namun untuk jamaah wanita, dibatasi hanya sampai Raudhoh, tempat diantara mimbar dan rumah  Rasullullah SAW yang menjadi tempat mustajab untuk berdoa.
Namun perjuangannya untuk sampai ke Raudhoh luar biasaaaa saudara-saudara.  Kami sudah mengantri untuk masuk, dan begitu sudah sampai ke batas Raudhoh, dimulailah dorong-mendorong terjadi karena penuh sekali jamaah yang ingin masuk, dan akhirnya saya dan Ibu menyerah dan tidak sempat solat di saf depan, kami mencari tempat yang agak sepi dari dorong-mendorong jamaah lain.
Beberapa orang bilang kalau malam lebih sepi, tapi rasanya kami tidak berani mencoba lagi, karena jamaah dari negara-negara Arab dan India badannya jauh lebih besar dan bergerombol, tenaganya pun besar dan benar-benar membuat kita merasa akan jatuh terpental :p



Personally, saya suka sekali solat di Masjid Nabawi, karena ketenangan dan keteraturannya.  I don't know why but everything seems so beautifully in order, bahkan burung-burung merpati yang terbang di halamannya pun dalam satu irama yang sama.  Mengingatkan saya pada ayat “Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan). Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersamanya (Daud) di waktu petang dan pagi. Dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul (sehingga bertasbih bersamanya). Masing-masing burung itu amat taat kepada-Nya.” (QS. Shad:17-19)




Day 3-4
Di hari ketiga, kami city tour kota Madinah dengan mengunjungi masjid Quba, makam syuhada Perang Uhud, dan kemudian kebun kurma.  Diriwayatkan bahwa keutamaan solat di Masjid Quba adalah sama seperti pahala berumroh. 



Masjid Quba
 Tapi dari city tour hari ketiga ini, yang paling mengharukan adalah saat berziarah ke Makam syuhada perang Uhud.  Ustadz pembimbing kami mengisahkannya dengan sangat indah, bahwa para syuhada ini tidak gentar dan menuruti perintah untuk tetap berada di posisi mereka walaupun dikepung musuh dalam jumlah yang jauh lebih besar.  Pak Ustadz bilang, para syuhada ini sebenarnya tidak pernah mati, mereka menunggu dalam kenikmatan sampai hari dimana mereka akan masuk ke syurga, hanya bagi kita di dunia saja mereka terlihat sudah menjadi jenazah, tapi saat ada perbaikan makam dan terpaksa membongkar makam, jenazah mereka masih utuh dan bahkan darahnya belum mengering.  In my memory, adegan perang paling keren adalah di Lord of The Ring The Return of The King, waktu adegan Aragorn membawa pasukan hantu yang dulu pernah berkhianat untuk kembali berperang bersamanya agar mereka bisa beristirahat dengan tenang.  But this story of Syuhada is a lot more affected me, dan seribu kali lebih mengharukan.
Di makam itu pun saya berdoa, semoga saat hari akhir nanti, saya bisa melihat mereka, dan berada di barisan yang sama, walaupun saya berada jauuuuh sekali di paling belakang, it doesn't matter.










Minggu, 15 September 2019

H - 7


Sejujurnya, sampai sekitar 3 tahun lalu, saya tidak pernah membayangkan dan memimpikan untuk pergi Umroh ataupun Haji.  The main reason of course masalah biaya, sudah kebayang berapa yang harus dikeluarkan, belum lagi, kalau pergi sendiri tapi orang tua belum pergi rasanya juga kurang pantas.
Setelah berhitung-hitung dan merasa mustahil, akhirnya terlupakan juga.
Tapi salah satu hal yang paling saya syukuri adalah saya selalu dikelilingi orang-orang baik, yang selalu mengingatkan tentang hal-hal baik, walaupun saya sendiri juga ga baik-baik amat.. Dan somehow teman-teman ini membawa saya ke hal-hal yang mengingatkan kembali untuk berpikir “oh iya ya, daripada jalan-jalan ke Korea atau Jepang, mendingan umroh aja dulu ..” tapi kembali terpikir “Cuma kalo pergi bertiga jadi berapa ya?” dan kemudian nyengir sendiri karena rasanya impossible kalo ngitung-ngitung tabungan dan gaji.
But I have this funny connection with Allah.. kalau lagi galau atau lagi bimbang, selalu saja Allah ingetin dengan nemu ayat yang artinya pas dibaca kok kayak paasss banget gitu.. atau tulisan-tulisan yang rasanya juga kok kayaknya dituntun buat gue baca yaa.. :D rasanya agak kege-eran sih..tapi bener-bener kejadian..
Dan kemudian lewatlah tulisan dari Ustadz Salim A. Fillah yang di-share salah satu teman di FB, dan walhasil wara-wiri di timeline FB saya, and that was my A-HA moment to fix my “niat” to go Umroh..

APA KIRANYA PERASAAN...
<Salim A. Fillah>

1) Apa kiranya perasaan Ash Shiddiq saat Nabiﷺ bersabda, "Andai kuambil kekasih di antara insan; pasti kujadikan Abu Bakr sebagai Khalilku"?

2) Apa kiranya perasaan 'Umar, saat dia berpamit 'umrah & Nabiﷺ bersabda padanya, "Jangan lupakan kami dalam doamu duhai saudara tersayang"?

3) Apa kiranya perasaan 'Utsman saat membekali pasukan Tabuk & Nabiﷺ bersabda, "Tiada bahayakan 'Utsman apapun yang ia lakukan setelah ini"?

4) Apa kiranya perasaan 'Ali kala Nabiﷺ bersabda, "Hanyasanya kedudukanmu di sisiku laksana Harun di sisi Musa, tapi tiada Nabi sesudahku"?

5) Apa kiranya perasaan Thalhah saat Nabiﷺ bersabda, "Siapa yang ingin melihat syahid yang masih berjalan di atas bumi, lihatlah Thalhah"?

6) Apa kiranya perasaan Az Zubair saat RasuluLlahﷺ bersabda, "Setiap Nabi memiliki Hawari, dan Hawariku adalah Zubair ibn Al 'Awwam"?

7) Apa kiranya perasaan Abu 'Ubaidah saat Nabiﷺ bersabda, "Setiap ummat memiliki Amin, dan orang kepercayaan ummat ini adalah Abu 'Ubaidah"?

8) Apa kiranya perasaan 'Abdurrahman ibn 'Auf saat dirinyalah dimaksud oleh sabda Nabiﷺ kepada Khalid ibn Al Walid, "Jangan cela sahabatku..Demi Allah andai kalian berinfak emas seberat gunung Uhud; hal itu takkan menyamai shadaqah segenggam atau setengah genggam tepungnya."

9) Apa kiranya perasaan Sa'd ibn Abi Waqqash saat Nabiﷺ bersabda, "Panahlah duhai Sa'd, panahlah! Ayah & Bundaku sebagai tebusan bagimu"?

10) Apa kiranya perasaan Mu'adz ibn Jabal, di saat RasuluLlahﷺ bersabda padanya, "Wahai Mu'adz, demi Allah, aku benar-benar mencintaimu"?

11) Apa kiranya perasaan Ibn 'Abbas, saat Nabiﷺ merengkuh & mencium kepalanya lalu berdoa, "Ya Allah faqihkan dia & ajarkan tafsir padanya"?

12) Apa kiranya perasaan Ubay ibn Ka'b, saat Nabiﷺ berkata padanya, "Allah memerintahkanku tuk membacakan Surat Al Bayyinah ini kepadamu"
hingga dengan wajah berseri-seri dia bertanya, "Ya RasulaLlah; benarkah Allah menyebut namaku kepadamu?" & Nabiﷺ menjawab, "Benar!"?

13) Apa kiranya perasaan Abu Musa Al Asy'ari, di saat Nabiﷺ bersabda, "Esok datanglah menjumpaiku, aku ingin mendengarkan bacaan Quran-mu"?

14) Apa kiranya perasaan 'Aisyah, saat Nabiﷺ menyebut namanya tanpa ragu di urutan pertama, kala ditanya 'Amr siapakan yang paling dicintai?

15) Apa kiranya perasaan Ibn Mas'ud, kala betis kecilnya ditertawakan; maka Nabiﷺ bersabda, "Betis itu di sisi Allah lebih berat dari Uhud"?

16) Apa kiranya perasaan 'Ukasyah, saat disebut 70.000 orang masuk ke surga tanpa hisab & Nabiﷺ berkata, "Engkau termasuk di antara mereka"?

17) Apa kiranya perasaan Bilal ibn Rabah, saat Nabiﷺ bersabda, "Ceritakan padaku hai Bilal, 'amal apakah yang paling kau jaga dalam Islam, sebab sungguh aku mendengar bunyi terompahmu di surga?", lalu dia menjawab tersipu, "Menjaga wudhu' & dua raka'at syukur atas wudhu'"?

18) Apa kiranya perasaan orang-orang Anshar, di kala Nabiﷺ bersabda, "Jika manusia memilih jalan melalui sebuah lembah, sedang kaum Anshar mengambil suatu celah, niscaya aku turut serta di celah yang dilalui para Anshar. Ya Allah rahmatilah Anshar & anak-cucu kaum Anshar"?

19) Apa kiranya perasaan para sahabat semuanya, yang mereka berjumpa Nabiﷺ pada petang & pagi, berjalan mengiringi, beroleh senyum & doanya?

Yang lebih penting & jelita dari itu semua; bagaimana dengan kita? Apa kiranya perasaan kita saat kelak bertemu Nabiﷺ & para sahabatnya?

Adakah Nabiﷺ kan bersabda, "Kaliankah orangnya, yang telah membuatku menangis karena rindu, yang telah membuat para sahabatku cemburu"?

"Kaliankah orangnya; yang beriman kepada apa yang kubawa meski kita tak berjumpa; yang mengucap shalawat atas namaku meski tak bertemu?"

Ini kami Ya Rasulullah; yang rindu tapi malu, membaca shalawat dengan lidah kelu; adakah kami layak jadi ummatmu, & beroleh syafaa'atmu?

Ya Allah, limpahkan shalawat pada Muhammadﷺ, sampaikan salam kami padanya. Pula ridhaMu atas semua sahabat; jadikan kami bersama mereka.

I was instantly crying when I read that post, and I automatically saved it to my FB.  Membayangkan bagaimana rasanya menjadi sahabat Nabi dan juga orang-orang yang pernah bertemu dengannya, selalu terpikir ah..bagaimana ya rasanya.. pasti bahagia sekali..
Dan kalau denger ceramah, katanya orang-orang yang beramal sholeh dan memiliki timbangan amal yang lebih berat daripada timbangan kejahatannya, akan berjalan dalam rombongan Rasullullah SAW nanti di hari kiamat, bersama-sama menuju surga.  It was like a slap.  Rasanya kalau ngandelin amal, masih jauuuuh banget untuk sampai ke surga.  Padahal saya ingin sekali berjalan dalam rombongan itu, walaupun di barisan paling belakang dari entah berapa milyar or trilyun orang – orang soleh sepanjang masa.  Dan kemudian saya putuskan, at least, kalau amal saya masih jauh, dan entah apakah akan cukup membawa saya dalam rombongan itu, saya ingin sekali saja dalam masa kehidupan ini, bisa berada di jarak terdekat dengan Rasulullah, sekali saja berada di rumah Allah, whatever will happen to me there, or whatever it takes to get me there.  Even if it’s just once in my lifetime.

Kemudian, dari niat itu, saya buka tabungan haji supaya ga bisa diutakatik uangnya, dengan niat “Ya Allah, terserah mau berapa lama harus nabung, tapi kalau sudah jalanku, mudahkanlah..” kalau ga salah cuma modal lima juta pas awal buka tabungan.  Kalau diitung-itung saya nabung sebulan Cuma 500 ribu, dan kalo dibagi biaya umroh, itu harusnya kira-kira 8 tahun baru kekumpul kalau mau pergi berdua – karena niatnya ya kalau ga cukup bertiga, buat Ibu sama Bapak dulu aja deh.  Sekali lagi ini hitungan manusia.  Ketika denger ceramah tentang haji, lupa siapa yang ceramah, beliau bilang “Allah itu memampukan yang diundang, bukan mengundang yang mampu” Saat itu saya kembali ge-er :D dan berdoa “Ya Allah, undanglah aku dan keluargaku, sekaliiii aja.. boleh yaa.. “ gitu aja terus diulang-ulang.  Terus kata Pak Ustadz kan kalau kita sedekah di jalan kebaikan, Allah pasti ganti berkali-kali lipat, yah minimal 10 kali katanya.  Saya mikir gimana ya caranya sedekah.. kalau ngasih pengemis tu agak males setelah melihat liputan mereka bisa ikut arisan yang jumlahnya bisa lebih gede dari gaji gueeh… :D

Akhirnya karena saya adalah pengguna ojol tiap pagi, saya niatkan sedekah dengan kasih tip abang ojol, karena somehow kalo sama abang ojek suka ga tega, mengingat Bapak dulu juga profesinya opang – ojek pangkalan, hehe.. And believe it or not, setiap berangkat kerja saya kasih tip abang ojol 5000, ya 5000 aja, yang mereka terima dengan senang dan sumringah, kadang pake drama “mbaa ga usaah.. kan udah pake gopay” sambil Tarik-dorong tu uang ahahahaha.. Dan Alhamdulillah, ketika akhirnya uang saya terkumpul untuk pergi berdua sama Ibu –karena Bapake diajak ga mau – saya mulai menghitung, jangan-jangan uangnya ini hasil perkalian dari 5000 tiap pagi.. karena kok ya paas banget.. Dan saya ga perlu nunggu selama 8 tahun seperti hitung-hitungan awal, saya juga ga tau dateng dari mana itu tabungan, gaji kan segitu-gitu aja, bonus juga segitu-gitu aja.. dan kemudian mewek again. 

Setelah daftar pun, sibuk lah dengan urusan yang lain.  Tapi kemudian terasa sekali betapa Allah mudahkan semua urusan.
Waktu buat paspor untuk Ibu, ternyata di surat nikahnya ga ada tulisan tanggal lahir, padahal akte kelahiran juga ga punya.  Rasanya sempet lemes karena Ibu petugas imigrasi bilang ‘kami kan harus menyamakan KTP dengan akta lahir atau buku nikah, sebagai pembanding, tapi di punya Ibu ga ada.. tapi sudah sering kasus begini kok saya maklum aja karena di kampung dan jaman dulu banget ya.. jadi minta surat keterangan aja di KUA kecamatannya, mudah-mudahan bisa, kalau ga bisa ya terpaksa ke tempat ngeluarin buku nikah ini..”
Terbayang harus pergi ke Cijambe untuk ngurus buku nikah yang salah tersebut sodara-sodara.. akhirnya hari itu juga langsung pergi ke KUA , dan ternyata diminta buat surat pengantar dulu di Kelurahan, cuss ke kelurahan, balik lagi ke KUA, hujan banjir, tapi Alhamdulillaaaah selesai hari itu juga sebelum imigrasi tutup, dan bisa langsung balik buat ngasih kekurangan surat-suratnya.

Waktu urusan vaksinasi pun, semua dimudahkan.  Tidak terlalu ramai, sistem antrian dan pendaftaran jelas, dokternya baik, dan yang penting suntiknya ga sakit ;D semua juga selesai dalam 1 hari.

Dan karena uang saya ya Cuma segitu-gitunya, sempet bingung juga mau pilih travel apa ya, secara ga punya pengalaman dan takut juga kalo sampe kejadian kayak first travel kan.. akhirnya Bismillah pilih yang tau aja deh, akhirnya ikut MQ Travel punya Daarut Tauhid, yang dalam pikiran saya””Insya Allah ga akan kejadian, kan ini punya Aa Gym..” dan beruntungnya dapet paket hemat.. dan lebih beruntung lagi karena ternyata landing Madinah jadi ga perlu ada perjalanan darat dari Jeddah atau transit di Oman..
Pas manasik kemarin pun, baru tau kalau nanti Insya Allah bisa ikut tausiyah bareng Aa walaupun bukan paket gold, dan pembimbing di bis nya pun Ustadzah Erika yang bertanggung jawab dalam masalah fikih wanita.. haaah.. rasanya Allah baik banget..

And I wrote it down here, semoga Allah membebaskan hati ini dari rasa riya’ dan ujub.. saya menulis ini hanya untuk mengingatkan diri sendiri akan momen ini, dan siapa tau bisa menjadi motivasi untuk yang kebetulan membaca.. sama seperti saat saya membaca blog orang lain dan kemudian berdoa semoga saya bisa merasakan hal yang sama seperti penulis blog itu..

Waktu manasik kemarin pun, Aa Gym menyampaikan tausiyah, kata beliau, banyak orang yang lebih soleh, lebih banyak amalnya, lebih rajin tahajudnya, tapi belum diundang ke rumah Allah .. jangan-jangan kita yang diundang ini justru karena yang banyak dosanya – auto mewek again – dan begitulah.. saya yang terlampau banyak dosa ini dan masih disayang orang-orang karena Allah menutupi aib saya, sangat bersyukur, dan berharap sampai umurnya untuk benar-benar bisa berangkat dan beribadah di Mekkah dan Madinah, di jarak terdekat dengan Rasullullah..

And if this is my last post, I hope you will remember all the good things about me and pray for me.


(picture from reddit.com)


Selasa, 07 Mei 2019

Taat

Ketika kau merasa kehidupanmu berjalan lambat, 
Dan hidupmu seolah dalam stagnasi yang tanpa makna,
Percayalah,
Bagi mereka yang hidup dalam perang tak berkesudahan, 
Kehidupanmu adalah Surga yang mereka impikan..

Ketika kau merasa kehidupan orang lain terlihat sangat menyenangkan, 
Sementara kau harus berjuang Hari Demi Hari, 
Percayalah,
Tidak ada doa yang tersia-sia tanpa didengar oleh sang Pencipta..

Ketika teman-teman sebayamu sudah menjalani tahapan kehidupan yang berbeda, 
Dan kau merasa Sepi
Gurau canda yang dulu menghiasi kini tak seperti dulu lagi,
Kalian mulai berjalan sendiri-sendiri dengan masalah kehidupan masing-masing
Dan kau hanya bisa diam-diam mendoakan kebaikan untuk mereka,
Percayalah,
Tidak akan berkurang sedikit pun kebahagiaanmu 
Kamu, mainkan saja peranmu..
Tugasmu hanya taat, kan?

*mengutip kalimat Ust Salim A Fillah,
 “Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat, kan?”  

Selasa, 15 Januari 2019

The Kite Runner



There were times I think the deaths are luckier
They don’t have to think about tomorrow anymore
They don’t even have to think about yesterday anymore
But my faith taught me that death is not an end, it’s just another beginning for the after life
An eternal one
And in the waiting for the eternal one, there will be hundred years to spent in darkness, or in light – depends on what you’ve done in your lifetime
There were also times I think other people are luckier
For what they have
For what I have not
For what they did
For what I did not
But I forgot to count my blessings

For you, for the thousandth times
My first book on this year is Khaled Hosseini’s “The Kite Runner”, that my lovely boss gave me few days ago, and I just finished it only on two days. It’s not an evening coffee book, and yes it’s a little scary inside, but the book makes me think a lot.
That before the war, every place must be a beautiful place, a meaningful place for someone.
A place where they start breathing, a place where they start to fall in love, a place they learned about life, a place they want to spent the rest of their lives or even a place where they want to be buried after they die.
To live in such a peaceful place I think is the greatest gift for me.
I can’t even imagine if I have to live my life in a war zone, no, I don’t even dare to think about it
To be surrounded by nice people is also another blessing.
People that always remind you to do good thing, to have a positive thinking and attitude, to be grateful for everything you have.
People that you love so much and you don’t want them to feel hurt, and for them you will do anything, even if it means letting them go from your life – or worse-  walking away from their life, and all you can do is pray for their happiness.
People that even for so many times they might hurt you, you can never do the same. 
And for those people this phrase exist "Tapi untukmu, walaupun untuk yang keseribu kalinya"


“Datanglah, ada jalan untuk kembali menuju kebaikan”
And reading this book I found the same feeling I felt few years ago
When I think about how many things I did wrong
And how could I be still alive after that, when I feel I don’t deserve it
I remember what Rahim Khan said to Amir “There’s always a way to come back to the right path”
And in one way or another, God helps me through it and I can never be more thankful than that.

When this book was handed to me, I also knew it’s another reminder
To start reading again, to start wondering again, to start writing again
To open my eyes so I can see the hidden messages, to open my mind so I can understand them, and to open my heart so I can accept them
For myself so I won’t get lost anymore.


Ps. Many thanks to Ms. Angela Soedjana for the book, a book is indeed a best gift for a bookworm 😘

Selasa, 22 Maret 2016

Colors




I don't know if others have issues about noises in their head, but I certainly do.  My mind seems louder than it should be, and I have to figure out some ways to make it stay at the right place.  It sounds a little bit freak but no it certainly not.  I just think I'm fully aware about what happen inside and outside my mind.



  
I've been trying many things to turning down the noises a little bit.  Running, writing, swimming, and recently, coloring.  Coloring used to be a childhood activities, but lucky me, this year became the best seller year of adult coloring book.  The difference between children and adult coloring book is the details of the picture drawn.  In adult coloring book you'll find intricate details of things all over the pages.  

It will be stressful to color it all if you do it unwillingly, but if you like it, it will be a peaceful and pretty addictive to spend your time with.  If with reading we'll gain something from the book, and with writing we create something from ideas, then coloring always make me feel like I'm straightening the haywire inside my head and then transferring energy into colors.  And it turns out beautiful. 




From many choices of adult coloring books in the bookstores, I bought the Enchanted Forest by Johanna Basford, with beautiful patterns and details that I can't wait to color all the picture inside.  But I think to make it into beautiful colors, you have to do it in the right mood, not in order to achieve a target to finish the book.  




It's a great way to relaxing your mind and playing with colors even if you can't draw or paint.  I always love the feeling when I completed one page: it's like finding a way to Wonderland, and I don't mind to get my self lost in it.  




Ah, and one last quote from Leonardo da Vinci
"For those colors which you wish to be beautiful, always first prepare a pure white ground."

World, stories, mind, heart,  For everything you wish to be beautiful, always set a pure heart first, 
then you can show your true colors. 

Minggu, 24 Januari 2016

Lumineux!



I got this enchanting crystal flower as my birthday gift from one of my best friend last year.  This beautiful crystal is something we have to work on before it “grows”, and it will be a chemistry experiment that absolutely easy and simple.  Inside the box, we will find an empty bottle, a crystal powder, a crystal growing tablet, a wood stick, a cork, LED lamp, batteries, and an instruction leaflet.



To grow the crystal powder, simply follow the instructions on the box or we can find it on the instruction leaflet too.  To start the experiment, prepare all the items from the box and follow the instruction.


1.       First, we prepare boiling water and pour it into the empty bottle, there’s a line on the wood stick as a marker for how much you should pour the water.  Add the crystal powder and stir it until the powder dissolve.
2.       Place the crystal growing tablet into the solution.
3.       Close the bottle with the cork lid and let it be for 24 hours.



4.       The next 24 hours, open the cork, you can see the crystal slowly grow on the tablet.
5.       Continue to open the cork for the next 12-15 days or until you get the crystal form you want (for mine, I waited for 3 weeks).


6.       Dry out the remaining solution, and clean up the bottle, but be careful not to drop water into the crystal, just use a wet towel or tissue to clean the bottle.
7.       Place the batteries inside the cork lid and close the bottle.  Now you can see the colorful light reflects on the crystal flower and it will shine more brilliantly on a dark place.




I really love to see the lights on the crystal before I go to bed.  It’s somehow relaxing and gives a new hope for a better day tomorrow.  Ah, you can find this enchanting Lumineux on Gramedia bookstore everywhere.  Trust me, you’ll love it!

Ps. The crystal flower comes with 12 beautiful words, and mine is "Happines", as if it's a reminder that even when we can't find happiness, we can always create them, with simple things or a complicated chemistry reaction like this one. J