Come in with the Rain

Minggu, 05 Agustus 2012

Beng


Tebak-tebakan jayus antara saya dan Dince setelah mendengar nama yang unik “Beng”.

Oya, baidevei Dince itu adik saya, nama asli kita samarkan saja karena kalau suatu saat dia baca tulisan ini pasti bakal ke-ge-er-an sampe ileran :D 

Rina       :  “Kalo dia berdua jadi apaan Dince?”
Dince     :  “Ga tau..”
Rina       :  “Beng-Beng..”
Dince     :  “Ga nyambung..”
Rina       :  “Kalo dia miring jadi apaan Dince?”
Dince     :  “Apaan sih ga jelas banget..”
Rina       :  “Jadi Bengkok dooong,,hehehe..”
Dince     :  “Yeee.. “
Rina       :  “Kalo dia nongkrong di lampu merah jadi apaan Dince?”
Dince     :  “Tauuu.. “
Rina       :  “Bengcong dong cyiiin… “
Dince     :  “Najoooongg…” :D
Rina       :  “Kalo dia ga punya mobil gimana Dince?”
Dince     :  “Bodo ah..”
Rina       :  “Salaah..jadinya neBeeeng doooong..ahahahaha…”
Dince     :  “Rina stress yak?” :D
Rina       :  “Trus kalo mobilnya ga bisa jalan gimana Dince?”
Dince     :  “Tau ah capek dengerinnya..” (-.-‘)
Rina       :  “Aaah..payaaaah..gitu aja ga tauu..kalo mobilnya ga jalan ya isi Bengsin dooong..gyahahaha..”

Padahal masih pengen ngelanjutin tapi keburu diomelin Ibu gara-gara berisik, hihihihihi…

Oya, maaf ya yang namanya Beng, bukan maksud menghina kok..Cuma nama kamu menginspirasi sekali.. maaf yaaaa…jangan tersinggung yaaa..Cuma bercanda koooook.. Piiiissss.. v(^.^)v


Kamis, 19 Juli 2012

Aksi = - Reaksi


When you made an action, everybody will react.

Just like the 3rd Newton Principles, Action = -Reaction.  Every action will cause a reaction with an exact energy but in an opposite direction.  That’s why when we act, we will get some reaction, and some of them will be in the opposite. 

And when I made a decision, people surround me gave reactions.  Some said that I’m stupid, some said that I’m selfish, some might said that I’m brave, some doubt I’d survive, some other felt pity for me, and some part of them (who knows me best) said that they understand and they support me.

I’m not stupid absolutely.  I know myself better than any other does, and when I think it’s enough, I will finish it.  And the other reasons will follow.  I have think about it over and over, I wrote down notes, and then I pray, and when there’s no more solution, I will take it.  I’m not little Miss Spoil and Selfish, I fully realize that my life is not only about me, that’s why I can’t be selfish, and I never feel sorry to have such destiny.

I’m not playing hero.  I have no intention to be a hero.  But I have to be brave.  Brave enough to embrace whatever happen next.  Maybe some people will doubt I’d survive, but they never know, neither do I.  So why they bothering about my future, when they already have theirs to worry about.  And please don’t feel pity, I’m not that pitiful.  I passed some problems that maybe some other never dreams about.  And I’m strong enough to stand with my head held up high.  Believe me.

Lucky me, I have such amazing family and friends that never judge me.  Because they trust me.  They know I’d never do something without some good reasons.  And that’s all I need.  Trust.  And I can trust them back.  To catch me when I fall, to hold me when I fly to high.  

And my God.  Another bigger reason.  Atheist may say I’m crazy, to believe in something I never know and I never see.  But should it be seen when I feel it everywhere.  When I know, everywhere I go, whatever I did wrong, I could always be forgiven and I would guided to find my way back.  Faith.  I hope it would never go away.

Tak usah kita pikirkan ujung perjalanan ini.

Saat saya memutuskan melangkah keluar dan meninggalkan tempat yang mendewasakan saya selama tiga tahun terakhir, saya hanya menerima, menerima apapun yang dikatakan orang lain.  Menerima apa yang mereka pikirkan, menerima takdir yang menuliskan demikian.

Tiga tahun itu, yang diwarnai dengan begitu banyak pelajaran yang berarti.  Perjumpaan, perpisahan, persahabatan, pertengkaran, tawa, air mata, kebencian, pengkhianatan, dan cinta.  Manusia dengan sifatnya masing-masing.  Manusia dengan kepentingannya masing-masing.  Manusia dengan hati yang berwarna-warni.  Kadang putih, kadang hitam, kadang abu-abu.  Sungguh banyak yang telah saya lihat.

Dan ketika saya harus pergi, saya akan pergi dengan hati yang lapang.  Dengan rasa lega karena hati saya telah berkata cukup, dan seperti kata-kata dari seorang sahabat “sudah saatnya kamu mencari kebahagiaan di tempat yang lain.” 


Thanks to Aulia Rachman, for those last words in the note.

Sabtu, 14 Juli 2012

Bahagia itu Sederhana


Untuk Angelia Nilda Rianti, yang menuliskan judul di atas di salah satu status Facebooknya.

Bahagia itu sederhana
Ya kan,
Sesederhana angin yang menerpa wajah saat dibonceng di atas sepeda motor
Sesederhana semburat senja di langit sore
 Sesederhana wangi tanah yang tersiram hujan
Sesederhana taburan bintang di langit malam yang dengan bebas bisa kau pandangi
Sesederhana lukisan Cumullonimbus yang berarak seperti gumpalan kembang gula raksasa

Atau mungkin lebih sederhana,
Sesederhana gelak tawa teman-teman saat kau melontarkan sesuatu yang lucu tanpa sadar
Sesederhana menonton acara kuis di tengah-tengah ruang tivi bersama keluarga
Sesederhana aroma nasi goreng buatan Ibu
Sesederhana harum kopi Bapak

Bahagiaku lebih sederhana
Sesederhana memandangi fotomu dan ikut bahagia untuk kebahagiaanmu
Sesederhana kata “Bahagia” dan “Sederhana” itu sendiri.

If only happiness always that simple..

Minggu, 24 Juni 2012

Apa yang Aku Lakukan Ketika Kurindu..

Aku melihat laut,
karena hal itu yang dulu kau katakan padaku
karena kecintaanmu pada laut
dan laut akan membawamu padaku

Aku membaca pesanmu
menelusuri setiap abjad yang tertulis disana
dan membayangkan ekspresimu
saat mengucapkannya langsung

Aku mendengarkan lagu
yang dulu pernah kau nyanyikan untukku
dan berharap suaramu yang mengalun
menghiburku

and then,
when I miss you
I just close my eyes
and I'll see you...



Selasa, 19 Juni 2012

Hidup Tanpa Spasi.

     We never know what we've got till it's gone, dan tombol "space" atau "spasi' menjadi sangat berarti saat tombol tersebut tidak berfungsi, seperti salah satu teman saya yang mengalami kemalangan tersebut pada handphone-nya.  Dan kehidupan tanpa spasi-nya pun dimulai.  Mengirimkan pesan tanpa spasi pun menjadi membingungkan dan bias.  Sampai akhirnya dengan perpaduan kreatifitas yang disebabkan kombinasi dari seni kepepet dan belum cukup dana untuk membeli yang baru, akhirnya teman saya pun mengganti spasi dengan tanda "." titik .
     Kejadian itu pun membuat saya berpikir.  "Spasi" atau "Space" yang di dalam kamus Oxford berarti "amount of an area or place that is empty and available for use" atau yang diartikan "sejumlah area atau tempat yang kosong dan tersedia untuk digunakan".  What a meaningful word for a button.  Membayangkan hidup tanpa spasi berarti menjalani hidup penuh dengan ketergesa-gesaan.  Hidup yang berkejaran dengan waktu dan bertubrukan satu sama lain.  Hidup penuh dengan orang-orang yang lalu lalang tanpa menyadari siapa yang kita temui.  Pathetic.  
     Hidup tanpa spasi pun menjadi hidup dengan menyimpan semua beban.  Hidup dengan mengubur luka dan kesedihan.  Hidup yang hanya sekedar menjalani dengan menjejalkan semua yang datang, tanpa memberikan ruang kosong dengan membuang hal-hal yang seharusnya tidak disimpan terlalu lama.  Padahal, kalau hidup itu sendiri mengalir, menuangkannya terus-menerus ke wadah yang sudah penuh akan membuatnya tumpah dan terbuang sia-sia.  Pilihan yang tersisa kemudian adalah: Membuang sebagian, atau Menambah volume wadahnya. 
     "Space" atau "Spasi" juga memiliki arti "the universe" atau "semesta" dan "whole area in which all things exist and move" atau "ruang yang seluruh komponen di dalamnya nyata dan bergerak".  Wow, bahkan kita memiliki semesta di genggaman tangan, dan kita menggerakkannya tanpa disadari.  Kata "spasi" ini pun terus mengusik kepala saya, dan saya pun mulai berpikir, dan menghubungkannya dengan teori dari Paulo Coelho di dalam buku The Alchemist-nya "When you really want something, all the universe will conspires in helping you to achieve it".  Ketika kamu menginginkan sesuatu, seluruh semesta akan berkonspirasi untuk membantumu mewujudkannya.  Tentu saja, karena tanpa sadar, kita yang menjadi penggerak dari semesta.  
     Dan akhirnya, setelah menyadari arti "space", saya akan menjalani dan menghargai hidup dengan spasi.  Dengan memberi ruang untuk yang datang dan yang pergi.  Dengan jeda yang akan saya ambil setiap kali saya merasa terengah-engah.  Dengan menggunakan jarak di dalam spasi itu sendiri untuk mengamati yang ada di belakang dan di depan saya.  Dengan menyadari, memiliki semesta dalam genggaman tangan berarti sebuah tanggung jawab yang besar, namun bukanlah sebuah beban.  Tanpa sebuah spasi, ternyata hidup ini menjadi kurang bermakna.


#terimakasihyachristianyosuasiraituntukmengirimipesansepertiiniyangmembuatsayaberpikirsaatmembacanyadanternyatamembuatsayaberpikirlebihpanjangsetelahnyasemogahapenyacepetsembuhyaatausemogacepetdapetgantinyahehehe..

Minggu, 20 Mei 2012

My First Incidentally Meeting with Something Called "Sastra"

I love reading.  Bahkan sebelum saya bisa membaca dan merangkaikan huruf-huruf menjadi sebuah kalimat.  Saat Ibu saya mulai tidak sempat membacakan dongeng-dongeng dari majalah Bobo milik kakak, saya pun terpaksa - dan dipaksa - untuk membaca sendiri.  Di bawah didikan ala Sparta dari kakak, saya berhasil membaca koran di usia 4 tahun, dan pelajaran di bangku Taman Kanak-Kanak pun menjadi sangat membosankan. #smug :)

Saya suka membaca apa saja.  Bahkan saat di perjalanan, mata saya tidak pernah berhenti memandangi huruf-huruf yang berkelebatan.  Tapi, pertemuan pertama saya dengan karya sastra adalah dengan sebuah puisi karya Sapardi Djoko Damono di halaman depan pojok kanan bawah Kompas Sabtu, lebih dari 10 tahun lalu, dan sampai saat ini saya tidak tahu judulnya, tapi saya hapal mati puisinya..

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Setelah membaca puisi itu, saya langsung tertarik dengan penuturan cerita yang menggunakan tata bahasa yang baik dan benar dan -kebanyakan- metaforis, atau yang biasa mereka sebut "Sastra".  Saya sendiri sih tidak begitu mengerti.  Saya pun tidak bisa membedakan mana yang baik dengan yang buruk, mana yang kontemporer mana yang klasik, saya hanya membedakannya menjadi tiga jenis: 1. Yang saya mengerti dan enak dibaca.  2. Yang saya mengerti tapi tidak enak dibaca.  3. Yang saya tidak mengerti dan tidak enak dibaca.  Yah, penggolongan yang saya baca memang murni berdasarkan selera saya, dan pasti tidak sama dengan orang lain. Dan sungguh (bukan) sebuah kebetulan saya bersekolah di SMA dengan koleksi buku lengkap di perpustakaan.  Jadi mulai SMA, saya sudah terbiasa dengan karya macam Memoirs of Geisha, Sam Pek Eng Tay, Ca Bau Kan, Da Vinci Code, sampai sastra lama seperti Salah Asuhan.

Tapi tidak ada karya sastra yang mampu merubah pola pikir dan cara pandang saya selain karya dari Dewi "Dee" Lestari.  Buku pertama yang saya baca adalah Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh.  Dan setelah perkenalan dengan buku pertama, saya pun mulai kecanduan dengan semua karyanya.  Books, Songs, and coming soon Movies.  It was just like finding an oasis in the middle of the dessert (Oke, mungkin terdengar sedikit lebay).  But it's true, please feel free to proof it yourself.  Membaca karya-karyanya membuat saya merasa tidak tahu apa-apa dan rasanya jadi ingin membaca lebih banyak supaya bisa tahu lebih banyak, hehe..
Saya akan re-post puisi-puisi yang tercetak di halaman awal seri Supernova.  Buat yang ingin tahu lebih banyak, bisa baca bukunya langsung, or just simply follow her @deelestari, or @deequotes or www.dee-idea.blogspot.com .  Hope you like it too.. ;)

Supernova : Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh

Engkaulah getar pertama yang meruntunhkan gerbang tak berhujung mengenal hidup.
Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta tak bermuara.
Engkaulah matahari firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara.

Kau hadir dengan dengan ketiadaan.
Sederhana dalam ketidakmengertian.
Gerakmu tak pasti.

Namun aku terus disini.
Mencintaimu.
Entah kenapa.

Supernova : Akar

Engkaulah gulita yang memupuskan segala batasan dan alasan.
Engkaulah petunjuk jalan menuju palung kekosongan dalam samudra terkelam.
Engkaulah sayap tanpa tepi yang membentang menuju tempat tak bernama namun terasa ada.

Ajarkan aku.
Melebur dalam gelap tanpa harus lenyap.
Merengkuh rasa takut tanpa perlu surut.
Bangun dari ilusi namun tak memilih pergi.

Tunggu aku.
Yang hanya selangkah dari bibir jurangmu.

Supernova : Petir

Engkaulah kilatan cahaya yang menyapulenyapkan segala jejak dan bayang.
Engkaulah bentang sinar yang menjembatani jurang antar duka mencinta dan bahagia terdera.
Engkaulah terang yang kudekap dalam gelap saat bumi bersiap diri untuk selamanya lelap.

Andai kau sadar arti pelitamu.
Andai kau lihat hitamnya sepi di balik punggungmu.

Tak akan kau sayatkan luka demi menggarisi jarakmu dengan aku.

Karena kita satu.

Andai kau tahu.

Supernova : Partikel

Engkaulah keheningan yang hadir sebelum segala suara
Engkaulah lengang tempatku berpulang

Bunyimu adalah senyapmu
Tarianmu adalah gemingmu

Pada bisumu, bermuara segala jawaban
Dalam hadirmu, keabadian sayup mengecup

Saput batinku meluruh
Tatapmu sekilas dan sungguh
Bersama engkau, aku hanya kepala tanpa rencana
Telanjang tanpa kata-kata

Cuma kini
Tinggal sunyi

Dan, waktu perlahan mati.

 

Rabu, 09 Mei 2012

Judulnya Mencoba Menghibur Diri Sendiri...

Ibu saya - yang lebih banyak ngomel daripada ceramah, hehe.. - pernah memberikan satu kalimat yang selalu saya ingat..
"Manusia itu ada yang dicoba dengan kemudahan, ada juga yang dicoba dengan kesulitan"
just a simple sentence i know, but it means a lot.
Pernah ngga sih, bertemu orang yang menurut kita "perfect" ? Saya..sayangnya sering.

Kakak kelas saya jaman SMA, is absolutely perfect - at least, that's how i saw him.  Gimana nggak, pinter, anak orang pinter, kaya dari lahir, ketua osis, aktivis rohis, plus guanteng yang bikin semua orang kelibas (yg ini agak saya perbuas,hee..).  Ibarat orang Jawa bilang, Bibit-Bebet-Bobot sudah lulus uji kelayakan.  Semua yang kakak ini kerjakan pasti hasilnya oke, kalo pidato di depan orang juga keren, dan semenjak dapet beasiswa kuliah di NTU, kakak ini tinggal di sana..terakhir dengar kabar kalau sudah menikah dengan teman sekelasnya pas SMA dulu..life just like a fairy tale for him.
Ada lagi teman saya, super cantik, pinter, kuliah di kampus no.1, uang bukan sesuatu yang dipikirkan, lembut tutur katanya, plus dapet suami dokter yang juga tipikal perfect seperti itu.. Haaah..life sometimes seems so unfair.  Seperti sebuah kalimat di novel yang pernah saya baca "Betapa mood Tuhan sedang bagus saat menciptakannya.."

Sebagai orang yang terlahir dari kaum rakyat kebanyakan, kasta sudra mungkin kalau di India, ditambah terlahir di dunia di mana materi berwujud menjadi benda-benda yang harus diperjualbelikan, hal yang material memang selalu jadi tolak ukur keberhasilan -garis miring- kebahagiaan.  Walaupun statement saya akan dicap sebagai hal yang materialistis, saya akan mengambil poin "realistis" dari kata tersebut.  Mereka yang pernah merasakan penderitaan sampai ambang batas kesabaran tidak akan berkata "uang bukan segalanya" atau "money can't buy happiness".. i've been there..and that was something i would never ever ever let it happen to me again. 

Dan seperti cerita saya, ada banyak orang yang sepertinya menjalani hidup dengan sangat mudah, apapun yang diinginkan pasti mudah didapatkan, yang sayangnya sering mengundang rasa iri.  Tapi, saya pribadi tidak pernah merasa iri.  Kalau berkata "kapan ya bisa kayak gitu.." atau "coba kalau saya seperti itu juga.." itu sih jujur aja lumayan sering :D 
tapi setelah itu yaa kembali melanjutkan kehidupan normal saya yang sudah menanti. 

Di sisi lain, ada juga orang-orang yang ditakdirkan hidup dalam kondisi serba kekurangan.  Orang-orang tua yang seharusnya di rumah menggendong cucu namun masih memulung sampah, mereka yang tinggal di gerobak, mereka yang mencari makanan sisa yang masih layak, dan mereka-mereka lainnya yang saya tidak pernah sanggup untuk menatap matanya lama-lama, bukan karena jijik atau lain hal, tetapi karena saya belum bisa melakukan apa-apa untuk membantu.  Saya malu.  Dan saya tidak ingin mereka melihat saya terharu.

Manusia, memang pada dasarnya makhluk egois yang suka membanding-bandingkan.  Kita sering membandingkan kebahagiaan dan penderitaan.  Merasa lebih jika mendapat kebahagiaan.  Merasa senang jika masih ada yang kurang beruntung.  Padahal, seperti yang Ibu saya katakan
"Manusia itu ada yang dicoba dengan kemudahan, ada juga yang dicoba dengan kesulitan"
jadi, semua yang kita miliki pada hakikatnya adalah cobaan.  Apakah dengan cobaan-cobaan itu kita masih dapat mengingat unsur utama kita yang diciptakan dari tanah.  Saya selalu berusaha mengingat kata-kata Ibu itu setiap hari, terutama saat saya sedih.  Tuhan pun memiliki cara Nya sendiri untuk menghibur saya, setiap kali saya merasa sedih, saya akan naik ke lantai paling atas (kost-kostan saya tingkat 3 :p ) dan di langit malam, pasti ada hamparan bintang yang berkilauan, yang seperti berkata "you're just gonna be allright".  Seriously, it's real.  And i will take a deep breath, menghibur diri sendiri sambil berkata "mungkin memang sedang dicoba dengan kesulitan, siapa tau lain kali dicoba dengan kemudahan."