Loving you is not red,
it's orange like morning light
It's warm
Like being under a blanket in a rainy day
Like wearing socks when asleep
Warm as a teddy bear's hug
Finding you is like the first summer after a long day of winter
It's grace like watching a deer jump across the river
Laughing with you is like watching a firework show
it's comforting as a simple serenade flow
Loving you is like dancing flame,
because loving you is warm.
#puisinya udah, yg mo dikasih ga ada ahahaha.. :D
Come in with the Rain
Jumat, 07 Desember 2012
Kamis, 29 November 2012
Menjadi Seorang “Roker” (ROmbongan KEReta)
Sudah dua bulan ini saya masuk ke lingkungan kerja
yang baru dan beradaptasi dengan kekejaman jalanan ibukota. Karena letak kantor yang cukup jauh dari
rumah, saya pun memilih menggunakan jasa angkutan kereta listrik (bukan kereta
api) atau nama kerennya Commuter Line (CL) jurusan Jakarta Kota atau Tanah
Abang (tergantung telat tidaknya saya berangkat dari rumah). Pilihan untuk mengandalkan CL tentu saja
karena lebih cepat dan bebas macet.
Selama tidak ada gangguan berarti -yang sayangnya cukup sering- sebenarnya
angkutan CL sudah cukup nyaman, walau dapat dipastikan saya tidak pernah dapat
kursi sampai stasiun Sudirman. Yah,
lumayanlah untuk olahraga pagi-sore. Dan
saya memilih untuk naik di gerbong wanita, walaupun kehilangan kesempatan untuk
cuci mata (he :D) tapi rasanya lebih nyaman kalau berdesak-desakan dengan
sesama wanita.
Di dalam kereta yang dipenuhi mungkin sekitar seratus
orang setiap gerbongnya, bercampurlah segala macam wujud dari kaum xx ini. Ada yang make-up nya seperti artis lenong mau
manggung, ada yang ngobrolin pembantunya yang pacaran dengan tetangga sebelah,
ada yang menelepon anak-anaknya, ada yang ngomongin korupsi di kantornya (ini serius
lho saya pernah denger), ada yang sibuk main games dengan tablet-nya, dan ada
juga yang tertidur (atau pura-pura tidur, wallahu a’lam) di kursi. Dan saya kehilangan makna dari kata
“ramah-tamah” dan “tolong-menolong” setiap kali saya berada di dalam
kereta. Oke mungkin tulisan saya ini
hanya untuk sepersekian orang yang berlaku “kurang pantas”, saya pun ingin
meyakini masih banyak orang baik di Jakarta, dan semoga saya tidak berlaku sama
saat ada di posisi mereka.
Saya selalu merasa miris setiap kali melihat ibu hamil
ikut berdesak-desakan di kereta, dan makin miris saat kami sudah hampir
berteriak ke penumpang yang beruntung mendapatkan tempat duduk untuk memberikan
tempatnya tapi mereka hanya diam.
Mudah-mudahan mereka memang tertidur, dan mudah-mudahan ini hanya
suudzhon saya semata. Kalau mereka hanya
pura-pura tertidur dan mendengar kami yang meminta tolong namun tetap
bergeming, biarlah karma yang akan berbicara.
I mean, they are women too.
Tidakkah mereka membayangkan bagaimana nanti kalau mereka hamil dan di
posisi seperti itu. Dan laki-laki pun
sering berlaku sama, bisa duduk dengan tenang dan pura-pura tidur padahal di
depannya wanita-wanita tangguh yang membantu suami mereka mencari nafkah sedang
berdiri kelelahan. Tidakkah mereka melihat
bayangan ibu dan istri mereka di mata para wanita itu. Sekali lagi mudah-mudahan ini hanya suudzhon
saya semata. Dan bukan berarti saya
ingin mendapat tempat duduk besok pagi, saya merasa masih sanggup berdiri.
Saya pun teringat film pendek dari Jepang yang pernah
saya tonton di pesawat. Saya lupa
judulnya, tapi film itu bercerita tentang kehidupan beberapa orang yang bertemu
di kereta yang sama, namun mereka tidak pernah saling kenal. Ada
remaja yang memiliki pacar yang suka mabuk dan memukulinya namun ia tak pernah
berani untuk pergi. Ada seorang ibu yang hidup dengan penghasilan
suami yang pas-pasan namun memaksakan diri ikut di dalam lingkaran sosial yang
lebih tinggi agar tidak digunjingkan. Ada seorang pelajar yang
belajar supaya lulus ujian karena ia akan menyampaikan perasaannya kepada pria
pujaannya hanya jika lulus ujian. Dan
yang paling menyentuh adalah kisah seorang wanita yang telah tiga tahun
bertunangan dengan teman sekantornya, namun tunangannya malah ingin menikahi
teman wanitanya di kantor yang sama karena wanita itu terlanjur hamil.
Saya ingat wanita yang ditinggal menikah ini datang ke
acara pernikahan tunangannya tersebut dengan gaun yang sangat indah dan riasan
yang sangat cantik sampai pengantin wanitanya pun kalah cantik, dan karena sang
pengantin wanita risih melihat tamunya lebih cantik, wanita ini pun diminta
pulang lebih dulu. Dan pulanglah wanita
ini dengan membawa souvenir, berjalan dengan anggun dan membiarkan pengunjung
yang lain berpikiran bahwa pengantin pria sudah salah memilih mempelai. Terdengar kejam? Tidak menurut saya. Karena setelah wanita itu naik kereta dalam
perjalanan pulang, mulailah ia menangis tersedu menunjukkan kehancuran hatinya.
Penumpang yang lain hanya memperhatikan dengan aneh. Sampai seorang nenek bertanya apakah ia mau
bercerita mengapa ia menangis begitu hebatnya.
Diceritakanlah semua beban hatinya kepada seorang nenek yang baru
pertama kali ia temui di dalam kereta.
Dan komentar nenek tersebut setelah mendengar ceritanya adalah
“Mungkin
saya berbeda dengan kebanyakan orang tua lain yang akan berkata bahwa
tindakanmu adalah tindakan yang buruk. Tidak.
Kalau kamu ingin membalas laki-laki itu saya akan melakukan hal yang
sama. Balaslah sampai kamu puas. Tapi kemudian kamu harus bangkit dari dendam
itu, pindah dari pekerjaanmu, dan memulai kehidupan yang baru. Tidak apa-apa seorang wanita menangis. Tapi wanita sejati adalah mereka yang
memiliki kekuatan untuk menghentikan air matanya sendiri.”
Nenek itu pun memberikan saran kepada wanita
tersebut untuk turun di stasiun berikutnya dan menenangkan diri. Wanita ini setelah sempat merasa ragu
akhirnya menuruti saran nenek itu.
Berhentilah ia di stasiun berikutnya.
Dan setelah berkeliling barulah ia mengerti kenapa nenek itu menyuruhnya
berhenti di stasiun tersebut. Ia turun
di kota yang
sangat damai dan indah untuk menenangkan diri.
Setelah cerita panjang lebar saya, terima kasih masih
melanjutkan. Lalu mungkin teman-teman
bertanya, “Lantas, apa maksud cerita tersebut?”
Setiap hari di dalam kereta, hampir semua orang sibuk
dengan telepon genggamnya masing-masing (ya, saya juga termasuk di
dalamnya). Dengan headset di telinga,
kita sibuk menjelajah dunia maya. Jarang
kita temui lagi orang-orang yang bertemu di dalam kendaraan bertegur sapa dan
mengobrol tentang hal-hal sederhana.
Setiap orang yang mencoba mengajak berbicara pasti langsung kita
curigai, dan kita takut menatap matanya karena takut dihipnotis. Akibatnya, kita pun tidak berani mengajak
berbicara karena takut dicurigai. Lalu
kemana perginya “ramah-tamah” dan “tolong-menolong” itu? Apakah kita melakukannya hanya terhadap orang
yang kita kenal? Apakah semua orang itu
adalah “orang asing” sampai kita tau pin BB-nya atau alamat facebook-nya?
Dan di akhir film itu, epilog dari sang nenek
“Mungkin
kita merasa, tidak ada gunanya kita menceritakan masalah kita kepada orang
lain, apalagi kepada orang yang tidak dikenal.
Kalau semua orang berpikiran seperti itu, tidak ada lagi orang-orang
yang saling berbagi cerita. Jangan pernah
berpikir kalau satu suaramu tidak akan membuat perbedaan. Jangan pernah berpikir kalau kamu hanya akan
melakukan perbuatan yang sia-sia. Karena
menceritakan masalahmu kepada orang lain tidak pernah sia-sia.”
See how a small thing can make a big difference? Let’s begin with a small step.
Jika kita belum mau menceritakan masalah kita kepada
orang lain, dengarkanlah mereka yang ingin bercerita. Jika kita tidak bisa memberikan kursi,
bantulah untuk mengimbau kepada yang pura-pura tertidur (balik lagi ke kereta
:p) and see how we can make a big difference to their life.
Senin, 22 Oktober 2012
In the Search for the Safest Place on Earth
I have a friend
with a sceptical issue. Dia sulit
mempercayai sesuatu – atau seseorang.
We’ve been discussing things related to the issue. Awalnya saya mengira dia seorang yang
arogan. Karena saya pikir, salah satu
hal yang membuat kita tidak bisa mempercayai sesuatu – atau seseorang adalah karena kita merasa menjadi yang paling benar,
sehingga tidak bisa mempercayai pendapat orang lain.
But then I
remember myself.
I used to be
someone like that too. And that’s
because I felt insecure. Banyak orang
mengira saya menjalani kehidupan yang manis dan selalu menyenangkan. But hey, every fairy tale has its own sad part
too. Saya mungkin terlihat tenang dan
menyenangkan. Tapi ada masanya saya
tidak berlaku seperti saya saat ini. Ada masanya saya
mencurigai setiap orang dan melihat kemunafikan tergambar jelas di wajah
mereka. Ada saatnya saya selalu membangun benteng
yang tinggi dan kokoh untuk melindungi diri saya sendiri, karena saya tahu,
tidak akan ada orang lain yang melindungi saya selain diri saya sendiri. Ada
masanya saya ingin tiba-tiba terdampar di pulau tak berpenghuni agar tak harus
bertemu siapa pun. Ada kalanya pula saya ingin semua orang yang
saya benci menghilang seperti adegan jin yang menghilang dalam asap. Terdengar seperti saya sudah hidup lama
sekali kan ,
and for God’s sake I’m just 25!
And for that
insecurities I’ve been tied to, now I release it one by one. Mungkin karena pengaruh usia, saya mulai bisa
berpikir dengan tenang. Mengurai satu
per satu semua rasa sakit yang pernah saya alami. Mencoba berpikir dari semua sisi dengan
segala kemungkinan yang ada. Beberapa
mungkin tidak akan pernah saya temukan jawabannya, namun setidaknya hati saya
kini lebih ringan, dan pembangunan benteng di hati saya pun vakum.
Apa yang membuat saya berubah pikiran? Sayangnya saya tidak bisa menjawab bahwa itu
adalah seseorang yang spesial yang mampu mengubah hidup saya, no, because I
haven’t met that someone yet. Saya
merasa, saya mulai berubah saat bertemu dengan teman-teman baik saya saat
ini. Sharing stories – good and bad, funny
and sad – thinking about things from our seven perspectives, laughing and
crying together, and building our trust once again. I said once again, because we had that pure
trust when we were children. And I
remember a quote “Everyone in life is gonna hurt you, you just have to figure
out which people are worth the pain.”
It’s quite right, I don’t want to hold on to pain because someone that
just not worth it. Someone that’s just
not worth enough being in my mind.
Memang tidak
mudah menemukan seseorang yang membuat kita merasa aman disisinya. Yang membuat kita tetap merasa aman saat kita
menceritakan rahasia tergelap kita. Yang
membuat kita merasa aman hanya dengan mengetahui dia akan tetap ada disana,
dengan seluruh trauma dan kepahitan yang pernah kita alami. Yang akan mengingatkan siapa diri kita
sebenarnya saat kita berubah menjadi orang lain. Yang akan senantiasa menyebut nama kita dalam
doa-doanya. Because two places are the
most valuable in this world; the nicest place is to be in someone’s thoughts,
and the safest place is to be in someone’s prayers.
And I always hope
there’s someone that says my name in their prayers. Because I know then I’ll be safe.
PS. I suddenly
remember a beautiful song from Rivermaya – You’ll be Safe Here
"Nobody knows
Just why we're here
Could it be fate
Or random circumstance
At the right place
At the right time
Two roads intertwine
And if the universe conspired
To meld our lives
To make us
Fuel and fire
Then know
Where ever you will be
So too shall I be
Chorus:
Close your eyes
Dry your tears
'Coz when nothing seems clear
You'll be safe here
From the sheer weight
Of your doubts and fears
Weary heart
You'll be safe here
Remember how we laughed
Until we cried
At the most stupid things
Like we were so high
But love was all that we were on
We belong
[ Lyrics from: http://www.lyricsmode.com/lyrics/r/rivermaya/youll_be_safe_here.html ]
And though the world would
Never understand
This unlikely union
And why it still stands
Someday we will be set free.
Pray and believe
Chorus:
When the light disappears
And when this world's insincere
You'll be safe here
When nobody hears you scream
I'll scream with you
You'll be safe here
Save your eyes
From your tears
When everything's unclear
You'll be safe here
From the sheer weight
Of your doubts and fears
Wounded heart
When the light disappears
And when this world's insincere
You'll be safe here
When nobody hears you scream
I'll scream with you
You'll be safe here
In my arms
Through the long cold night
Sleep tight
You'll be safe here
When no one understands
I'll believe
You'll be safe,
You'll be safe
You'll be safe here
Put your heart in my hands
You'll be safe here"
Just why we're here
Could it be fate
Or random circumstance
At the right place
At the right time
Two roads intertwine
And if the universe conspired
To meld our lives
To make us
Fuel and fire
Then know
Where ever you will be
So too shall I be
Chorus:
Close your eyes
Dry your tears
'Coz when nothing seems clear
You'll be safe here
From the sheer weight
Of your doubts and fears
Weary heart
You'll be safe here
Remember how we laughed
Until we cried
At the most stupid things
Like we were so high
But love was all that we were on
We belong
[ Lyrics from: http://www.lyricsmode.com/lyrics/r/rivermaya/youll_be_safe_here.html ]
And though the world would
Never understand
This unlikely union
And why it still stands
Someday we will be set free.
Pray and believe
Chorus:
When the light disappears
And when this world's insincere
You'll be safe here
When nobody hears you scream
I'll scream with you
You'll be safe here
Save your eyes
From your tears
When everything's unclear
You'll be safe here
From the sheer weight
Of your doubts and fears
Wounded heart
When the light disappears
And when this world's insincere
You'll be safe here
When nobody hears you scream
I'll scream with you
You'll be safe here
In my arms
Through the long cold night
Sleep tight
You'll be safe here
When no one understands
I'll believe
You'll be safe,
You'll be safe
You'll be safe here
Put your heart in my hands
You'll be safe here"
download this song here
Kamis, 06 September 2012
Because Love is Not Always Bright..
Dark Side performed by Kelly Clarkson
" There's a place that I know
It's not pretty there and few have ever gone
If I show it to you now
Will it make you run away
Or will you stay
Even if it hurts
Even if I try to push you out
Will you return?
And remind me who I really am
Please remind me who I really am
Everybody's got a dark side
Do you love me?
Can you love mine?
Nobody's a picture perfect
But we're worth it
You know that we're worth it
Will you love me?
Even with my dark side?
Like a diamond
From black dust
It's hard to know
What can become
If you give up
So don't give up on me
Please remind me who I really am
Everybody's got a dark side
Do you love me?
Can you love mine?
Nobody's a picture perfect
But we're worth it
You know that we're worth it
Will you love me?
Even with my dark side?
Don't run away
Don't run away
Just tell me that you will stay
Promise me you will stay
Don't run away
Don't run away
Just promise me you will stay
Promise me you will stay
Will you love me?
Everybody's got a dark side
Do you love me?
Can you love mine?
Nobody's a picture perfect
But we're worth it
You know that we're worth it
Will you love me?
Even with my dark side?
Don't run away
Don't run away
Don't run away
Promise you'll stay "
...and everybody's got a dark side, will you love mine?
" There's a place that I know
It's not pretty there and few have ever gone
If I show it to you now
Will it make you run away
Or will you stay
Even if it hurts
Even if I try to push you out
Will you return?
And remind me who I really am
Please remind me who I really am
Everybody's got a dark side
Do you love me?
Can you love mine?
Nobody's a picture perfect
But we're worth it
You know that we're worth it
Will you love me?
Even with my dark side?
Like a diamond
From black dust
It's hard to know
What can become
If you give up
So don't give up on me
Please remind me who I really am
Everybody's got a dark side
Do you love me?
Can you love mine?
Nobody's a picture perfect
But we're worth it
You know that we're worth it
Will you love me?
Even with my dark side?
Don't run away
Don't run away
Just tell me that you will stay
Promise me you will stay
Don't run away
Don't run away
Just promise me you will stay
Promise me you will stay
Will you love me?
Everybody's got a dark side
Do you love me?
Can you love mine?
Nobody's a picture perfect
But we're worth it
You know that we're worth it
Will you love me?
Even with my dark side?
Don't run away
Don't run away
Don't run away
Promise you'll stay "
...and everybody's got a dark side, will you love mine?
Senin, 03 September 2012
What I enjoy most when running: Wind.
Saya tidak
pernah menjadi orang yang dikategorikan jago olahraga. Dari kecil, sampai sebesar ini. Dan karena memang tidak dibiasakan
berolahraga dalam keluarga, jadilah saya amatiran yang ala kadarnya. Semasa sekolah, nilai pelajaran paling kecil
pasti ya olahraga itu tadi, atau kalau dulu namanya Penjaskes. Permainan dengan bola-basket, kasti, atau
apapun-pasti kalah. Senam lantai, cuma
dapat nilai penuh untuk memberi hormat di awal dan di akhir. Lempar lembing atau tolak peluru, cuma
bergerak beberapa meter saja dari kaki.
Renang, keburu panik kalau di dalam air tanpa pijakan. Lari, pasti urutan terakhir. Untungnya badan saya tergolong “mungil” jadi
semua orang pasti memaklumi kalau saya tidak mahir berolahraga.
But recently,
setelah saya lulus sekolah dan tidak diharuskan mengikuti pelajaran olahraga,
saya memilih lari pagi sebagai olahraga yang cukup saya nikmati. Walaupun sebenarnya lebih karena alasan
ekonomis dan kepepet. And what I enjoy
most when running: Wind. Merasakan belaian angin yang menerpa wajah
saat berlari itu sangat menyenangkan.
Mungkin seperti itu rasanya merasakan belaian tangan orang terkasih yang
menghapus airmata di pipi. Merasakan
kesejukan yang menenangkan. Lalu, saat
berlari, rasanya dunia pun ikut berlari dalam arah yang berlawanan, memberikan
pemandangan yang indah dan memacu untuk terus bergerak maju. Saat saya memperlambat langkah untuk
beristirahat, saya juga menikmati detak jantung yang bergerak lebih cepat dari
biasanya, dan terasa berdenyut sampai urat nadi. Merasakan kehidupan. Merasakan hidup.
Minggu, 12 Agustus 2012
(I Thought) God Must Hate Me
“Aku terserah persangkaan hamba-Ku.
Aku bersamanya (memberi rahmat dan
membelanya) bila dia menyebut nama-Ku.
Bila dia menyebut nama-Ku dalam
dirinya, aku menyebut namanya pada diri-Ku.
Bila dia menyebut nama-Ku
dalam perkumpulan orang banyak, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang
lebih banyak dari mereka.
Bila dia mendekat kepada-Ku sejengkal (dengan
melakukan amal shaleh atau berkata baik), maka Aku mendekat kepadanya
sehasta.
Bila dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat
kepadanya sedepa.
Bila dia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa),
maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat (lari)”. (HR. Bukhari dan
Muslim, lafadz hadits ini dalam shahih Bukhari)
God must hate me. Saat saya merasa semua hal yang saya kerjakan sia-sia. Saat saya berpikir semua masalah datang silih berganti sampai rasanya habis seluruh tenaga untuk mengatasinya, dan tetap tidak berhasil. Saat saya mencurigai semua orang di sekitar saya dan merasa muak dengan dualisme kemunafikan mereka. Saat saya menghitung mereka yang saya sayangi beranjak pergi tanpa menoleh sedikit pun untuk mengucapkan selamat tinggal. Saat semesta terasa bersekongkol untuk membuat keadaan menjadi lebih dramatis dan melankolis. God must hate me, saya menuliskan kalimat itu di akun facebook pribadi saya. Dan saat komentar berdatangan, satu yang paling saya ingat adalah hadits di atas, dituliskan dengan sangat indah oleh sahabat saya, Syavira Alattas (yang juga pemilik blog www.catatanputripelangi.blogspot.com) dengan tambahan kalimat "...jadi jangan suudzhon sama Allah".
Seketika itu juga mata saya menjadi kabur oleh air mata. Dan saya terisak sendiri, merenungi setiap kata dalam hadits yang dicatatkannya. Saya pun tersadar, bukan Dia yang membenci saya, tapi saya lah yang berjalan menjauh dari kemurahan-Nya. Saya lah yang memilih jalan yang berliku dan menyalahkan semua hal selain diri saya sendiri.
Semua akan saya lakukan kini, bila harus saya berjalan merangkak dengan lutut berdarah-darah, saya akan selalu mengingat janji-Nya, dan percaya Dia akan menanti dan mengampuni saya, Insya Allah.
"... Karena Aku terserah persangkaan hamba Ku..."
PS: Dear Vira, i'm glad i have you as one of my best friends, maybe if you have smaller eyes we could be sisters (-.-)
Minggu, 05 Agustus 2012
Beng
Tebak-tebakan jayus antara saya dan Dince setelah mendengar
nama yang unik “Beng”.
Oya, baidevei Dince itu adik saya, nama asli kita samarkan
saja karena kalau suatu saat dia baca tulisan ini pasti bakal ke-ge-er-an sampe
ileran :D
Rina : “Kalo dia berdua jadi apaan Dince?”
Dince : “Ga tau..”
Rina : “Beng-Beng..”
Dince : “Ga nyambung..”
Rina : “Kalo dia miring jadi apaan Dince?”
Dince : “Apaan sih ga jelas banget..”
Rina : “Jadi Bengkok dooong,,hehehe..”
Dince : “Yeee.. “
Rina : “Kalo dia nongkrong di lampu merah jadi apaan
Dince?”
Dince : “Tauuu.. “
Rina : “Bengcong dong cyiiin… “
Dince : “Najoooongg…” :D
Rina : “Kalo dia ga punya mobil gimana Dince?”
Dince : “Bodo ah..”
Rina : “Salaah..jadinya neBeeeng doooong..ahahahaha…”
Dince : “Rina stress yak?” :D
Rina : “Trus kalo mobilnya ga bisa jalan gimana
Dince?”
Dince : “Tau ah capek dengerinnya..” (-.-‘)
Rina : “Aaah..payaaaah..gitu aja ga tauu..kalo
mobilnya ga jalan ya isi Bengsin dooong..gyahahaha..”
Padahal masih pengen ngelanjutin tapi keburu diomelin Ibu
gara-gara berisik, hihihihihi…
Oya, maaf ya yang namanya Beng, bukan maksud menghina kok..Cuma
nama kamu menginspirasi sekali.. maaf yaaaa…jangan tersinggung yaaa..Cuma bercanda
koooook.. Piiiissss.. v(^.^)v
Langganan:
Postingan (Atom)
