Come in with the Rain

Senin, 22 Oktober 2012

In the Search for the Safest Place on Earth



I have a friend with a sceptical issue.  Dia sulit mempercayai sesuatu – atau seseorang.  We’ve been discussing things related to the issue.  Awalnya saya mengira dia seorang yang arogan.  Karena saya pikir, salah satu hal yang membuat kita tidak bisa mempercayai sesuatu – atau seseorang adalah  karena kita merasa menjadi yang paling benar, sehingga tidak bisa mempercayai pendapat orang lain.

But then I remember myself.

I used to be someone like that too.  And that’s because I felt insecure.  Banyak orang mengira saya menjalani kehidupan yang manis dan selalu menyenangkan.  But hey, every fairy tale has its own sad part too.  Saya mungkin terlihat tenang dan menyenangkan.  Tapi ada masanya saya tidak berlaku seperti saya saat ini.  Ada masanya saya mencurigai setiap orang dan melihat kemunafikan tergambar jelas di wajah mereka.  Ada saatnya saya selalu membangun benteng yang tinggi dan kokoh untuk melindungi diri saya sendiri, karena saya tahu, tidak akan ada orang lain yang melindungi saya selain diri saya sendiri.  Ada masanya saya ingin tiba-tiba terdampar di pulau tak berpenghuni agar tak harus bertemu siapa pun.  Ada kalanya pula saya ingin semua orang yang saya benci menghilang seperti adegan jin yang menghilang dalam asap.  Terdengar seperti saya sudah hidup lama sekali kan, and for God’s sake I’m just 25!

And for that insecurities I’ve been tied to, now I release it one by one.  Mungkin karena pengaruh usia, saya mulai bisa berpikir dengan tenang.  Mengurai satu per satu semua rasa sakit yang pernah saya alami.  Mencoba berpikir dari semua sisi dengan segala kemungkinan yang ada.  Beberapa mungkin tidak akan pernah saya temukan jawabannya, namun setidaknya hati saya kini lebih ringan, dan pembangunan benteng di hati saya pun vakum. 

Apa yang membuat saya berubah pikiran?  Sayangnya saya tidak bisa menjawab bahwa itu adalah seseorang yang spesial yang mampu mengubah hidup saya, no, because I haven’t met that someone yet.  Saya merasa, saya mulai berubah saat bertemu dengan teman-teman baik saya saat ini.  Sharing stories – good and bad, funny and sad – thinking about things from our seven perspectives, laughing and crying together, and building our trust once again.  I said once again, because we had that pure trust when we were children.  And I remember a quote “Everyone in life is gonna hurt you, you just have to figure out which people are worth the pain.”  It’s quite right, I don’t want to hold on to pain because someone that just not worth it.  Someone that’s just not worth enough being in my mind.

Memang tidak mudah menemukan seseorang yang membuat kita merasa aman disisinya.  Yang membuat kita tetap merasa aman saat kita menceritakan rahasia tergelap kita.  Yang membuat kita merasa aman hanya dengan mengetahui dia akan tetap ada disana, dengan seluruh trauma dan kepahitan yang pernah kita alami.  Yang akan mengingatkan siapa diri kita sebenarnya saat kita berubah menjadi orang lain.  Yang akan senantiasa menyebut nama kita dalam doa-doanya.  Because two places are the most valuable in this world; the nicest place is to be in someone’s thoughts, and the safest place is to be in someone’s prayers.

And I always hope there’s someone that says my name in their prayers.  Because I know then I’ll be safe.


PS. I suddenly remember a beautiful song from Rivermaya – You’ll be Safe Here

"Nobody knows
Just why we're here
Could it be fate
Or random circumstance
At the right place
At the right time
Two roads intertwine

And if the universe conspired
To meld our lives
To make us
Fuel and fire
Then know
Where ever you will be
So too shall I be

Chorus:

Close your eyes
Dry your tears
'Coz when nothing seems clear
You'll be safe here

From the sheer weight
Of your doubts and fears
Weary heart
You'll be safe here

Remember how we laughed
Until we cried
At the most stupid things
Like we were so high
But love was all that we were on
We belong
[ Lyrics from: http://www.lyricsmode.com/lyrics/r/rivermaya/youll_be_safe_here.html ]
And though the world would
Never understand
This unlikely union
And why it still stands
Someday we will be set free.
Pray and believe

Chorus:

When the light disappears
And when this world's insincere
You'll be safe here
When nobody hears you scream
I'll scream with you
You'll be safe here

Save your eyes
From your tears
When everything's unclear
You'll be safe here

From the sheer weight
Of your doubts and fears
Wounded heart

When the light disappears
And when this world's insincere
You'll be safe here

When nobody hears you scream
I'll scream with you
You'll be safe here

In my arms
Through the long cold night
Sleep tight
You'll be safe here

When no one understands
I'll believe
You'll be safe,
You'll be safe
You'll be safe here
Put your heart in my hands
You'll be safe here"

download this song here

Kamis, 06 September 2012

Because Love is Not Always Bright..

Dark Side performed by Kelly Clarkson

" There's a place that I know
It's not pretty there and few have ever gone
If I show it to you now
Will it make you run away

Or will you stay
Even if it hurts
Even if I try to push you out
Will you return?
And remind me who I really am
Please remind me who I really am

Everybody's got a dark side
Do you love me?
Can you love mine?
Nobody's a picture perfect
But we're worth it
You know that we're worth it
Will you love me?
Even with my dark side?

Like a diamond
From black dust
It's hard to know
What can become
If you give up
So don't give up on me
Please remind me who I really am

Everybody's got a dark side
Do you love me?
Can you love mine?
Nobody's a picture perfect
But we're worth it
You know that we're worth it
Will you love me?
Even with my dark side?

Don't run away
Don't run away
Just tell me that you will stay
Promise me you will stay
Don't run away
Don't run away
Just promise me you will stay
Promise me you will stay

Will you love me?

Everybody's got a dark side
Do you love me?
Can you love mine?
Nobody's a picture perfect
But we're worth it
You know that we're worth it
Will you love me?
Even with my dark side?

Don't run away
Don't run away

Don't run away
Promise you'll stay "

...and everybody's got a dark side, will you love mine?

Senin, 03 September 2012

What I enjoy most when running: Wind.



Saya tidak pernah menjadi orang yang dikategorikan jago olahraga.  Dari kecil, sampai sebesar ini.  Dan karena memang tidak dibiasakan berolahraga dalam keluarga, jadilah saya amatiran yang ala kadarnya.  Semasa sekolah, nilai pelajaran paling kecil pasti ya olahraga itu tadi, atau kalau dulu namanya Penjaskes.  Permainan dengan bola-basket, kasti, atau apapun-pasti kalah.  Senam lantai, cuma dapat nilai penuh untuk memberi hormat di awal dan di akhir.  Lempar lembing atau tolak peluru, cuma bergerak beberapa meter saja dari kaki.  Renang, keburu panik kalau di dalam air tanpa pijakan.  Lari, pasti urutan terakhir.  Untungnya badan saya tergolong “mungil” jadi semua orang pasti memaklumi kalau saya tidak mahir berolahraga.
But recently, setelah saya lulus sekolah dan tidak diharuskan mengikuti pelajaran olahraga, saya memilih lari pagi sebagai olahraga yang cukup saya nikmati.  Walaupun sebenarnya lebih karena alasan ekonomis dan kepepet.  And what I enjoy most when running:  Wind.  Merasakan belaian angin yang menerpa wajah saat berlari itu sangat menyenangkan.  Mungkin seperti itu rasanya merasakan belaian tangan orang terkasih yang menghapus airmata di pipi.  Merasakan kesejukan yang menenangkan.  Lalu, saat berlari, rasanya dunia pun ikut berlari dalam arah yang berlawanan, memberikan pemandangan yang indah dan memacu untuk terus bergerak maju.  Saat saya memperlambat langkah untuk beristirahat, saya juga menikmati detak jantung yang bergerak lebih cepat dari biasanya, dan terasa berdenyut sampai urat nadi.  Merasakan kehidupan.  Merasakan hidup.

Minggu, 12 Agustus 2012

(I Thought) God Must Hate Me

“Aku terserah persangkaan hamba-Ku.
 Aku bersamanya (memberi rahmat dan membelanya) bila dia menyebut nama-Ku.
 Bila dia menyebut nama-Ku dalam dirinya, aku menyebut namanya pada diri-Ku. 
Bila dia menyebut nama-Ku dalam perkumpulan orang banyak, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih banyak dari mereka.
 Bila dia mendekat kepada-Ku sejengkal (dengan melakukan amal shaleh atau berkata baik), maka Aku mendekat kepadanya sehasta.
 Bila dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. 
Bila dia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat (lari)”. (HR. Bukhari dan Muslim, lafadz hadits ini dalam shahih Bukhari)

God must hate me. Saat saya merasa semua hal yang saya kerjakan sia-sia.  Saat saya berpikir semua masalah datang silih berganti sampai rasanya habis seluruh tenaga untuk mengatasinya, dan tetap tidak berhasil.  Saat saya mencurigai semua orang di sekitar saya dan merasa muak dengan dualisme kemunafikan mereka.  Saat saya menghitung mereka yang saya sayangi beranjak pergi tanpa menoleh sedikit pun untuk mengucapkan selamat tinggal.  Saat semesta terasa bersekongkol untuk membuat keadaan menjadi lebih dramatis dan melankolis.  God must hate me, saya menuliskan kalimat itu di akun facebook pribadi saya.  Dan saat komentar berdatangan, satu yang paling saya ingat adalah hadits di atas, dituliskan dengan sangat indah oleh sahabat saya, Syavira Alattas (yang juga pemilik blog www.catatanputripelangi.blogspot.com) dengan tambahan kalimat "...jadi jangan suudzhon sama Allah".

Seketika itu juga mata saya menjadi kabur oleh air mata.  Dan saya terisak sendiri, merenungi setiap kata dalam hadits yang dicatatkannya.  Saya pun tersadar, bukan Dia yang membenci saya, tapi saya lah yang berjalan menjauh dari kemurahan-Nya.  Saya lah yang memilih jalan yang berliku dan menyalahkan semua hal selain diri saya sendiri. 

Semua akan saya lakukan kini, bila harus saya berjalan merangkak dengan lutut berdarah-darah, saya akan selalu mengingat janji-Nya, dan percaya Dia akan menanti dan mengampuni saya, Insya Allah.

"... Karena Aku terserah persangkaan hamba Ku..."

PS: Dear Vira, i'm glad i have you as one of my best friends, maybe if you have smaller eyes we could be sisters (-.-)

Minggu, 05 Agustus 2012

Beng


Tebak-tebakan jayus antara saya dan Dince setelah mendengar nama yang unik “Beng”.

Oya, baidevei Dince itu adik saya, nama asli kita samarkan saja karena kalau suatu saat dia baca tulisan ini pasti bakal ke-ge-er-an sampe ileran :D 

Rina       :  “Kalo dia berdua jadi apaan Dince?”
Dince     :  “Ga tau..”
Rina       :  “Beng-Beng..”
Dince     :  “Ga nyambung..”
Rina       :  “Kalo dia miring jadi apaan Dince?”
Dince     :  “Apaan sih ga jelas banget..”
Rina       :  “Jadi Bengkok dooong,,hehehe..”
Dince     :  “Yeee.. “
Rina       :  “Kalo dia nongkrong di lampu merah jadi apaan Dince?”
Dince     :  “Tauuu.. “
Rina       :  “Bengcong dong cyiiin… “
Dince     :  “Najoooongg…” :D
Rina       :  “Kalo dia ga punya mobil gimana Dince?”
Dince     :  “Bodo ah..”
Rina       :  “Salaah..jadinya neBeeeng doooong..ahahahaha…”
Dince     :  “Rina stress yak?” :D
Rina       :  “Trus kalo mobilnya ga bisa jalan gimana Dince?”
Dince     :  “Tau ah capek dengerinnya..” (-.-‘)
Rina       :  “Aaah..payaaaah..gitu aja ga tauu..kalo mobilnya ga jalan ya isi Bengsin dooong..gyahahaha..”

Padahal masih pengen ngelanjutin tapi keburu diomelin Ibu gara-gara berisik, hihihihihi…

Oya, maaf ya yang namanya Beng, bukan maksud menghina kok..Cuma nama kamu menginspirasi sekali.. maaf yaaaa…jangan tersinggung yaaa..Cuma bercanda koooook.. Piiiissss.. v(^.^)v


Kamis, 19 Juli 2012

Aksi = - Reaksi


When you made an action, everybody will react.

Just like the 3rd Newton Principles, Action = -Reaction.  Every action will cause a reaction with an exact energy but in an opposite direction.  That’s why when we act, we will get some reaction, and some of them will be in the opposite. 

And when I made a decision, people surround me gave reactions.  Some said that I’m stupid, some said that I’m selfish, some might said that I’m brave, some doubt I’d survive, some other felt pity for me, and some part of them (who knows me best) said that they understand and they support me.

I’m not stupid absolutely.  I know myself better than any other does, and when I think it’s enough, I will finish it.  And the other reasons will follow.  I have think about it over and over, I wrote down notes, and then I pray, and when there’s no more solution, I will take it.  I’m not little Miss Spoil and Selfish, I fully realize that my life is not only about me, that’s why I can’t be selfish, and I never feel sorry to have such destiny.

I’m not playing hero.  I have no intention to be a hero.  But I have to be brave.  Brave enough to embrace whatever happen next.  Maybe some people will doubt I’d survive, but they never know, neither do I.  So why they bothering about my future, when they already have theirs to worry about.  And please don’t feel pity, I’m not that pitiful.  I passed some problems that maybe some other never dreams about.  And I’m strong enough to stand with my head held up high.  Believe me.

Lucky me, I have such amazing family and friends that never judge me.  Because they trust me.  They know I’d never do something without some good reasons.  And that’s all I need.  Trust.  And I can trust them back.  To catch me when I fall, to hold me when I fly to high.  

And my God.  Another bigger reason.  Atheist may say I’m crazy, to believe in something I never know and I never see.  But should it be seen when I feel it everywhere.  When I know, everywhere I go, whatever I did wrong, I could always be forgiven and I would guided to find my way back.  Faith.  I hope it would never go away.

Tak usah kita pikirkan ujung perjalanan ini.

Saat saya memutuskan melangkah keluar dan meninggalkan tempat yang mendewasakan saya selama tiga tahun terakhir, saya hanya menerima, menerima apapun yang dikatakan orang lain.  Menerima apa yang mereka pikirkan, menerima takdir yang menuliskan demikian.

Tiga tahun itu, yang diwarnai dengan begitu banyak pelajaran yang berarti.  Perjumpaan, perpisahan, persahabatan, pertengkaran, tawa, air mata, kebencian, pengkhianatan, dan cinta.  Manusia dengan sifatnya masing-masing.  Manusia dengan kepentingannya masing-masing.  Manusia dengan hati yang berwarna-warni.  Kadang putih, kadang hitam, kadang abu-abu.  Sungguh banyak yang telah saya lihat.

Dan ketika saya harus pergi, saya akan pergi dengan hati yang lapang.  Dengan rasa lega karena hati saya telah berkata cukup, dan seperti kata-kata dari seorang sahabat “sudah saatnya kamu mencari kebahagiaan di tempat yang lain.” 


Thanks to Aulia Rachman, for those last words in the note.

Sabtu, 14 Juli 2012

Bahagia itu Sederhana


Untuk Angelia Nilda Rianti, yang menuliskan judul di atas di salah satu status Facebooknya.

Bahagia itu sederhana
Ya kan,
Sesederhana angin yang menerpa wajah saat dibonceng di atas sepeda motor
Sesederhana semburat senja di langit sore
 Sesederhana wangi tanah yang tersiram hujan
Sesederhana taburan bintang di langit malam yang dengan bebas bisa kau pandangi
Sesederhana lukisan Cumullonimbus yang berarak seperti gumpalan kembang gula raksasa

Atau mungkin lebih sederhana,
Sesederhana gelak tawa teman-teman saat kau melontarkan sesuatu yang lucu tanpa sadar
Sesederhana menonton acara kuis di tengah-tengah ruang tivi bersama keluarga
Sesederhana aroma nasi goreng buatan Ibu
Sesederhana harum kopi Bapak

Bahagiaku lebih sederhana
Sesederhana memandangi fotomu dan ikut bahagia untuk kebahagiaanmu
Sesederhana kata “Bahagia” dan “Sederhana” itu sendiri.

If only happiness always that simple..