Come in with the Rain

Jumat, 14 Maret 2014

The Antagonist

Saya sudah lama tahu, 
bahwa dalam sebuah cerita, hanya akan mengisahkan pemeran protagonis saja.
Pemeran utama. 
Bagaimana kehidupannya, bagaimana masa lalunya, bagaimana cerita cintanya, dan bagaimana semua akan berakhir bahagia. 

A perfect happy ending.

Tidak ada yang akan menceritakan bagaimana akhir kisah dari pemeran antagonis.
Lebih banyak yang menceritakan bagaimana akhirnya pemeran antagonis mati akibat kejahatannya sendiri.
Tapi antagonis sendiri kan tidak selalu jahat, bukan? 
Antagonis sejatinya adalah tokoh yang menciptakan konflik dengan sang protagonis. 
Antagonis yang akan membuat sang protagonis berjuang sampai mengeluarkan segenap kekuatan yang ia tidak pernah sadar ia memilikinya.
Lalu, apakah antagonis tidak berhak untuk bahagia? Apakah ia tidak berhak dicintai and have a happily ever after life seperti protagonis? Apakah ia harus selalu mengalami nasib tragis di akhir cerita? Apakah ia akan selalu mendapat sumpah serapah penonton?

Semua pertanyaan pembelaan  muncul di benak saya. Tapi kemudian tiba-tiba terlintas jawabannya: 

"Ah benar, ini kan bukan kisah sang antagonis.  Mereka akan memiliki kisahnya sendiri dimana mereka akan menjadi pemeran utamanya."

#terinspirasi sosok antagonis di drama The Heirs, Choi Young Do, yg diperankan dengan sangat indah sampai-sampai saya bisa merasakan perasaannya yang begitu dalam. And yes, I would love to be the audience's enemy just to be on the same side of him.


Senin, 20 Januari 2014

27 and Proud



I’m 27 and I’m proud of it.

Agak heran sih kalau beberapa orang merasa malu kalau ditanya umur, padahal menurut saya sih biasa aja deeh..malah terasa keren aja sudah bisa melewati hidup sampai usia kita saat ini, ya kan..
Dan mungkin banyak wanita yang mulai merasa was-was akan banyak hal saat sudah memasuki usia 27, I can’t say I never think about it, I do think a lot, but it kinda wasting time if we just thinking and worrying about something that might be happen, but there’s also a fat chance that those things are might not be happen.  So why don’t we just looks good, feels good, and doing good things.  I believe if we always keep beautiful things inside our mind and our heart, we’re gonna be effortlessly beautiful. 

I do feel blessed to have such a life until now, it might not be perfect and easy like anyone else’s, it’s kinda hard sometimes, but I think I wouldn’t be like I am right now if I never feel that difficulties.  And it’s also wonderful to realize that I have good –yet weird- friends, great sisters, unusual parents, and abnormal life that always make me laugh at the end of the day. 

And in my 27 years of life now, I proudly announce that I still do these –so called silly- things:

1.       Ngefans berat sama Idol Group JKT48 karena lagu-lagu mereka yang bersemangat ditambah dengan dance yang bikin tambah semangat (lagu River-nya cocok banget buat jadi soundtrack pagi hari, dan lagu Yuuhi wo Miteiruka-nya cocok banget untuk mengakhiri aktivitas di sore hari).  Okay, it’s kinda freak I know, dengan lagu terjemahan yang mungkin terdengar aneh pertama kali, tapi lupakanlah soal tata bahasa dan dengarkan saja maknanya, it sounds cool actually.  Nggak usah dipikirin juga sih mereka lipsing atau ngga, tapi setiap ngeliat performnya tu rasanya pengen ikutan mas-mas yang nonton rame-rame bawa lightsticks warna-warni sambil teriak “OY – OY – OY” !(>.<)!  !(>o<)!  !(>3<)!

2.       Selalu ngga sabar nunggu manga Yotsuba & ! muncul di situs manga online (karena bukunya susaaaaah dan lammmmaaaa banget keluarnya) dan selalu berakhir dengan cekikikan sendiri tiap baca chapter terbarunya, berlaku juga sama komik Hai Miiko yang juga super lama keluarnya.  Dan dua komik itu memang segmentasinya untuk anak-anak, walaupun boleh dibaca semua umur ya..tapi rasanya saya selalu mendapat lirikan aneh tiap cekikikan ngga berenti-berenti waktu baca 2 komik itu, but who da*n cares? XD

3.       Pernah jilatin sisa adonan kue bolu / brownies di mangkuk mixer ngga?  Kalo ngga pernah, asli rugi! XD  sisa kocokan mixer dari telur, terigu, gula, mentega, dan coklat yang masih menempel di mangkuk sama di spatula setelah adonan itu dituang ke loyang, itu rasanya ajiiiibb b(^-,^)d  cobalah sekali-kali!

4.       Ngga pernah gengsi ambil “potongan gengsi”.  Tau dong kalau ada makanan di kantor –di rumah juga sih - pasti sisa potongan terakhirnya pada ragu-ragu untuk mengambil.  Entah karena takut dibilang rakus, malu karena ketauan doyan, atau males bawa piringnya ke dapur.  Oke pemirsa, kalau saya suka makanannya, saya akan ambil potongan gengsi itu tanpa banyak cakap, dan bawa piringnya ke dapur, yah kalo yang ngelirik sambil mupeng sih itu deritanya..siapa suruh pake gengsi.. XD

5.       Sering lupa kalau lagi mencari suatu kata di kamus, masalahnya, yang saya lupakan ya kata yang dicari itu.  Biasanya terjadi kalau menemukan kata-kata yang tidak saya tahu artinya, or some strange words just pop inside my head, bergegaslah saya membuka kamus, tetapi karena mata saya keburu menangkap kata-kata yang lain – apalagi kalau pakai Oxford Advanced Learner’s yang pembahasannya banyak plus ada sinonimnya – pasti ada jeda 5-10 menit sampai saya sadar kalau saya sedang mencari sesuatu karena saya keburu keasikan membaca kata-kata yang lain, dan akan menghabiskan 5 menit setelahnya berusaha mengingat-ingat kata apa ya yang tadi saya lagi cari.. ahahaha.. XD  I guess I’m bad at handling distraction :p
 
6.       Dengan hasil IQ test untuk kemampuan spasial rata-rata hanya 50%, dapat dipastikan itulah penyebab saya sering nyasar sodara-sodara!  I am so bad in remembering directions, terutama untuk jalan yang tidak saya lewati setiap hari.  Bahkan kalau hanya mengambil rute terbalik dari yang biasa saya jalani, rasanya pusiiing sekali, it may sounds ‘lebay’ for you, but it’s true.  Kalian mungkin ga akan pernah paham bagaimana ruwetnya bayangan jalanan dan gedung-gedung berbentuk 3D berputar-putar  di dalam otak saya kalau saya lagi nyasar.  So pleaseee..jangan ajak saya main jauh-jauh yaa.. (>o<)

7.       Kalau kalian menerima uang kembalian yang ternyata kurang dari abang angkot, apa yang akan kalian lakukan? Apakah kalian akan diam saja dan mengikhlaskan? 

Kalau saya, tangan saya akan diam terjulur sambil menatap abangnya dan berujar tenang “kurang Bang”.  Ini bukan soal keikhlasan Bung, ini adalah soal hak dan kewajiban.  Coba ingat-ingat, kalau kita bayar kurang 200 perak aja, abangnya pasti teriak-teriak ngomel, nah kalau kita dikasih kembalian tapi kurang, ya menurut saya kita berhak dong minta juga, ya tapi ngga usah pake teriak-teriak ngomel juga sih, nanti kelas kita sama dong kayak abang angkotnya.  Hak dan kewajiban harus dijalankan sesuai dengan proporsinya masing-masing.  Pas, tidak kurang – tidak lebih.  Jika kurang dan atau lebih, rasanya ‘ikhlas’ itu cuma segelintir orang-orang terpilih saja yang bisa benar-benar melakukannya.

8.       Salah satu teman saya di kantor bilang kalau saya ini seperti Saipul Jamil, karena kalau dia menyanyikan sebaris lirik saja, saya pasti akan segera menyambung liriknya sambil berpose ala karaoke dengan wajah sendu atau dengan dance-dance yang cocok dengan lagunya (baca:goyang).  Yah, apa boleh buat, rasanya gatal kalau tau liriknya tapi tidak ikut bernyanyi.  And I don’t know why I just remember lyrics, in fact, if I could remember lessons like I remember lyrics, I would have been a geeeenius.  Tidak usah dibayangkan suara saya sebagus apa, it’s better for you not to hear the truth.  XD

Ah, kalau kalian mulai bingung kenapa saya membongkar aib sendiri, saya hanya ingin kalian tahu pendapat saya, kalau melakukan sesuatu yang kita sukai, selama tidak merugikan orang lain, bukanlah hal yang kekanak-kanakan.  Seiring pendewasaan kita karena pengalaman-pengalaman dalam kehidupan, kita akan tahu kapan dan dimana waktu yang tepat untuk menunjukkannya.  And we usually show “the truly me” if we’re with people we comfortable with, right? So if you see me doing those things, that means I feel comfortable enough with you.

And I think, to be grown up doesn’t mean to lose our self and being a fake person, someone that definitely ‘bukan gue banget’. 


Senin, 13 Januari 2014

We Might As Well Be Strangers


I learnt a new phrase in Structure Class last Saturday. 

We might as well do something:  we should do it because there is no better alternative.  There is no reason not to do it.

Suddenly I remember one song from British band, Keane, we might as well be strangers.  Which I just realized the meaning, we should become a stranger once more because there is no better alternative, there is no reason not to do it.

It’s a confusing thing, love is.

You start from two strangers, then you realize there’s more than an ordinary feeling inside your heart, and then you become someone that so obsessive, you want that someone be yours forever, but then, when something wrong happen, both of you become strangers once more.


It’s also confusing to see some people around us, that deals with divorce, if they were so in love before, why should they separated as enemy?  Why can’t they separate as good friends, remembering they had spent much time together? I wonder if it hurts, but it must be very hurt. 

Not only divorcement, I bet two lovers that separate because some reasons also feel hurt.  To become strangers once more means to forget anything special between you two.  Letting go of feelings and memories, that must be the hardest part of holding on after the break up. But once more, we might as well be strangers, we should become a stranger once more because there is no better alternative, there is no reason not to do it, the destiny doesn’t write our name to be together, it only wrote that we should meet and then go back into our own path.

Love, might be hurt sometimes.  But then we decide who worth the hurt and the fight.   And we also decide, do we worth for the hurt and the fight?

It’s a confusing thing, love is.


I don't know your face no more

Or feel your touch that I adore
I don't know your face no more
It's just a place I'm looking for 
We might as well be strangers in another town
We might as well be living in a different world
We might as well
We might as well
We might as well 



I don't know your thoughts these days
We're strangers in an empty space
I don't understand your heart
It's easier to be apart 



We might as well be strangers in another town
We might as well be living in a another time
We might as well
We might as well
We might as well be strangers
Be strangers
For all I know of you now
For all I know of you now
For all I know of you now
For all I know

We Might As Well Be Strangers - Keane




Senin, 16 Desember 2013

Grown Ups Thing


when you said you're going to get married next year,
honestly I didn't know what to say
i should have said congratulation if i follow the ethics
but those words seemed very hard to slip away

my first thought was our debate,
our long discussion about your  apathetic
our long conversation about human and destiny
about literature, quotes, songs, and poetry,
about words, beautiful words, something that others may think as a boring subject
about economic theory, and how i never get that
about the past and the future,
something we would never understand

then i thought i'm gonna lose an equal enemy in our endless fight
an enemy i respect
someone who never feel intimidate by my thought, none like the others
someone who could cruelly say that i'm mediocre but i end up laughing instead of being insulted

and then next year, in the name of ethics too,
i should not asking you about something that would turns out into endless debate
i should keeping the distance into somewhat i call now as a cliche relation
i should show up just to ask how's work and the weather
and i'm gonna follow your life just from your pictures shown

i know that people change,
things change,
life changes,
normal people should grow up
and now i think i know why Peter Pan refused to be grown ups,
if to be grown ups mean losing some people because they no longer fit in our life,
can i refuse too?


because it's not who you can live with actually,
but who you can't live without..

Jumat, 29 November 2013

Things i wanna do before i die..


Things I wanna do before I die:

1.       Trapped in the middle of flash mob without knowing it, and then dance along with the mob. 

2.       Being in the front line of live concert from my favorite musicians:  Simple Plan, Taylor Swift, or Maroon 5.  Scream with the energy of Pierre’s voice, or swear with the revenge song from Taylor, or staring and drooling for Adam Levine.

3.       Being able to play guitar and sing my favorite songs with it.  And it will gonna be a looooong playlist.

4.       Being a teacher and then have my own school, one like in Totto chan novel.

5.       Traveling to other island or other country with my best friends.  Spending a whole week doing nothing but explore.

6.       Join a dancing class, traditional dancing and pop dance will be great.

7.       Visiting London and try to find 9 ¾ platform at the King Cross Station, hopefully I find Hogwart Express too.


8.       Have a farmyard and lots of milk cow, so I can drink fresh milk everyday, making ice cream, playing on the yard, and walking around with my barefoot on the grass.

9.       Living in a neighborhood with my soul-sisters only doors away, maybe we can make a neighborhood’s choir or something and join a championship every independence day.



10.   Tell everyone I love, how much I love them and how grateful I am too meet them and for them being a part of my life, right before I die.


.                                                                                                                   .. to be continued.. 




"Synopsis"


“don’t judge the book by it’s cover”

Terlalu naïf rasanya jika terus menganggap semua orang akan berpegang pada pepatah tersebut.  Menilai seseorang dari penampilan luarnya, cara bicaranya, bagaimana pergaulannya, kekayaannya, atau apa saja yang akan dijadikan tolok ukur penilaian kita rasanya tidak akan pernah bisa objektif kalau kita tidak mengalami apa yang orang itu alami tiap detiknya.  Termasuk keputusan-keputusan yang dibuat oleh seseorang.  Manusia kan pada dasarnya hanya pengamat dan penikmat, aneh rasanya jika harus menjadi penilai bagi orang lain sementara dirinya sendiri juga belum tentu lebih bagus dari orang yang dinilai (jujurlah tendensi kita pasti ingin menilai orang lain berada di bawah kita).

Tetapi, di era penuh pencitraan seperti saat ini, kitalah yang harus menentukan citra apa yang ingin kita buat dan kita tampilkan ke orang lain.  Karena first impression seseorang datang dari mata, dari apa yang dia lihat, barulah orang lain akan bersedia mengenalnya lebih jauh.  Ibarat sebuah sinopsis yang tertulis di sampul belakang sebuah buku, and we’re the one who should write that synopsis of ourselves.  and no I’m not just talking about fashion, it’s also about manners. 

First, fashion.  Personally, I’m not fashion freak, saya ngga pernah merasa ada kewajiban mengikuti tren-tren fashion yang lagi ‘IN’ banget, saya hanya memakai baju yang menurut saya nyaman, yang juga menurut saya orang lain akan nyaman melihatnya.  Oke mungkin selera orang akan berbeda-beda, tetapi rasanya sebagian besar orang akan setuju kalau melihat terlalu banyak motif tabrak lari atasan dan bawahan itu agak aneh.  Atau dengan warna yang terlalu mencolok dan seragam dari atas sampai bawah, atau yang warnanya sama sekali ngga nyambung atas dan bawah.  Atau yang bajunya kucel dan kotor apalagi beraroma.  Atau yang memakai celana/rok terlalu ketat sampai garis celana dalamnya kelihatan –pilihlah mau pakai seamless panties atau pakaian yang tidak terlalu ketat.  Atau terlalu update sampai-sampai tidak peduli lagi apakah style itu cocok dengan tubuhnya atau tidak.  Rasanya banyak sekali kejanggalan mode yang sepertinya malah akan menjadikan saya dicap sebagai “Kudet – Kurang apDET” .  But please, anyone, pilihlah fashion yang setidaknya masih diterima dalam batas wajar di tempat kalian tinggal, yang sesuai dengan kepribadian dan juga acara yang dihadiri, jangan sampai salah kostum dan menjadi fashion crime.

Second, manners.  For me, manners DOES matters, it actually shows us how your parents teach you. Mengucapkan “tolong” “maaf” “permisi” dan “terima kasih” rasanya sudah semakin sulit diucapkan sekarang-sekarang ini.  Berbicara sambil teriak-teriak, ketawa cekikikan sampai kedengaran meja sebelah di restoran, makan tapi mulut dan tangan berisik, malas menegur dan senyum lebih dulu ke orang-orang yang sering ditemui, merasa diri paling oke dan paling apdet sampai merendahkan orang lain, dan banyak lagi hal-hal kecil yang bisa bikin “ilfil” seketika.  Dan rasanya kaum adam akan mendapat nilai lebih jika menerapkan manner ini dengan baik, gelar “Gentleman” pun tidak akan sungkan kami sematkan ke cowok-cowok yang kalau nyebrang selalu ambil posisi kanan lalu pindah ke kiri saat di ruas penyebrangan kedua, atau mereka yang tidak segan membukakan pintu, atau yang tetap bersifat ramah dan humble, cowok-cowok yang tidak merokok di dalam angkutan umum atau tempat umum lainnya, it’s the little things that men usually don’t realize but it actually means a lot. 

Jadi menurut saya, don’t judge the book by it’s cover only, read the synopsis, and if you like it, you can read the whole chapter inside, and maybe write a recommendation on the front page.  J

Kamis, 21 November 2013

a whole new world ..


Huaaa.. it’s been a long while since my last post.  Rasanya sudah banyak kejadian yang terlewatkan, dan entah sekarang masih diingat atau tidak.  Saat Pak Tommy-Bos saya di tempat kerja dulu- bertanya tentang catatan-catatan kecil saya, that time I suddenly realized that I miss writing so much.

September lalu, saya mulai terlibat dalam aktivitas yang sudah yah kurang lebih 4 tahun tidak saya lakukan, yaitu kuliah dan mengerjakan segala pernak-perniknya.  Lalu kemudian saat orang-orang di sekitar saya tau apa yang kini saya lakukan, pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang datang berentetan seperti petasan adalah: kuliah dimana? Jurusan apa? Ngapain kuliah lagi? Kenapa lo ambil begituan? XD dan hal-hal sejenis lah yang ditanyakan.  Pertama, saya kuliah di universitas milik yayasan PGRI di dekat rumah, lalu, ambil jurusan yang 1000% melenceng dari almamater awal, yaitu Pendidikan Bahasa Inggris, trus kenapa, ya pasti biar bisa jadi guru hehe..

Entah kenapa saya selalu merasa orang-orang berpikir diam-diam bahwa saya stress dan kurang kerjaan saat saya mengatakan cita-cita saya, but no, absolutely not.  Rasanya memang dari dulu saya menyadari profesi guru sangat menyenangkan, dan kalaupun nanti saya tetap ingin bekerja seperti saat ini, saya bisa mengajar untuk pekerjaan tambahan.  Prinsipnya sama seperti gelas yang diisi air terus-menerus.  Lama-lama air dalam gelas akan tumpah kan, jadi lebih baik menumpahkannya dalam gelas-gelas yang lain, yang mungkin akan menjadi lebih bermanfaat.  Dan ngomong-ngomong tentang guru, mungkin sosok yang sangat menginspirasi saya adalah Butet Manurung, lulusan S2, kehidupan lebih dari cukup, bisa punya karir yang menjanjikan di Jakarta, mungkin bisa jadi anggota dewan, tetapi lebih memilih mengajar anak-anak dari Suku Anak Dalam di tengah hutan dan mendirikan Sakola Rimba.  Mungkin saya belum se-ekstrim itu, but who knows someday?

Minggu lalu saya juga baru menyelesaikan satu judul film seri (yap, Korea lagi)  yang menceritakan tentang kehidupan seorang guru dan murid-muridnya, judul filmnya The Queen’s Classroom.  Guru Ma dalam cerita tersebut, adalah seorang guru yang sangat kejam bahkan sampai dijuluki Nenek sihir Ma.  Dan hal itu bukan tanpa alasan, dari awal saya selalu merasa Guru Ma tidak berperikemanusiaan.  Mendiskriminasi anak berdasarkan nilai, mengadu domba anak muridnya, menghukum dengan pekerjaan fisik yang melelahkan, bahkan membiarkan seorang muridnya dikucilkan.  But later on, di episode-episode terakhir terungkaplah bahwa Guru Ma sengaja bertindak seperti itu agar seluruh kelas bersatu, walau untuk melawannya.  Guru Ma sengaja mendidik anak muridnya dengan keras agar mereka tahu bahwa kehidupan nyata juga sama-bahkan lebih-keras.  Dan dibalik sifatnya yang keras, dia menyimpan catatan yang sangat detail tentang setiap anak didiknya, sampai ke sifat dan psikologis si anak.  Dia bahkan tidak peduli jika anak-anak akan membencinya, dia hanya ingin tiap anak berjuang melawan kekurangan mereka, dan percaya bahwa mereka tidak sendirian, percaya bahwa mereka memiliki teman-teman yang akan membantu mereka.

Dan di episode terakhir yang mengharukan, saya teringat dialog Guru Ma dengan Kim Seo-hyun.

Kim Seo-Hyun:  “Guru, Guru pernah mengatakan bahwa orang yang belajar untuk masuk universitas yang baik atau mendapatkan pekerjaan yang baik agar punya uang banyak adalah kesalahan besar.  Guru juga mengatakan belajar untuk mendapat nilai terbaik juga adalah hal yang bodoh.  Jika seperti itu, lalu untuk apa kita belajar?”

Guru Ma              :  “Ya, aku akan selalu berpendapat belajar untuk hal-hal seperti itu adalah kesalahan.  Ingatlah, ketika kalian masih bayi, kalian akan belajar mengenali siapa orang yang memberi kalian makan, siapa orang yang akan kalian panggil ayah dan ibu, kalian akan mulai membedakan benda-benda disekitar kalian, kalian akan mulai menjejakkan kaki kalian ke tanah.  Untuk apa semua itu, karena kalian ingin tahu seperti apa rasanya.  Saat mulai dewasa kalian juga setiap hari bertanya kepada orang tua kalian, dan kalian akan terus mencoba melakukan hal-hal yang tidak pernah kalian lakukan.  Untuk apa, karena kalian ingin tahu.  Jadi jangan lupakan rasa ingin tahu kalian itu, ingatlah, bahwa kalian belajar karena kalian ingin tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kalian lontarkan,dan kalian pikirkan.  Jika kalian belajar karena keingintahuan itu, maka kalian pun tidak akan pernah berhenti belajar.”

dan ada satu lagi dialog dari murid bernama Shim Ha-na kepada Guru Ma.

Shim Ha-na         :  "Guru, Guru pernah berkata bahwa hanya 1% orang di dunia ini yang benar-benar bahagia, yang mendapatkan apa yang mereka inginkan setelah bekerja dan belajar dengan keras.  Tapi apa yang kurasakan berbeda.  Seo-hyun merasa bahagia saat membaca buku, Dong-Goo bahagia saat bermain dengan serangga, Bo-mi bahagia saat menggambar komik, aku bahagia saat wajahku dibuat komik oleh Bo-mi.  Jadi bukankah kebahagiaan setiap orang berbeda-beda, dan jika ada 25 anak di kelas ini berarti ada 25 macam kebahagiaan?"

Guru Ma             : "Shim Ha-na, peganglah terus apa yang kamu percayai.  Apapun yang terjadi, kamu harus berjuang untuk apa yang kamu percaya.  Ingatlah kalau kalian tidak sendirian, jadi jika kamu bahagia, kamu harus melihat teman-temanmu, melihat apakah mereka juga bahagia.  Jika kamu bahagia, temanmu juga harus ikut bahagia."

Terlepas dari apa yang akan saya hadapi nanti, terlepas dari takdir yang sudah digariskan, apapun itu, saya tidak menyesal, karena sudah melakukan apa yang saya sukai saat ini  Terus belajar karena ingin mengetahui sesuatu.  Melakukan hal-hal yang membuat saya bahagia.  Dan tentu saja ikut menyaksikan kebahagiaan orang-orang di sekitar saya.