Come in with the Rain

Selasa, 22 Oktober 2024

Winter is Coming

Two things I gave up on 2024 are love and the possibility of this country become a decent one, not needed to be something like a developing or superpower one.  

Sejarah akan mencatat tahun ini menjadi tahun runtuhnya demokrasi di negara ini, yang walaupun masih jauh dari demokrasi yang baik, tapi mengingat perjuangan yang dilakukan untuk keluar dari oligarki orde baru 26 tahun yang lalu, menjadi sia-sia kembali dan kita pun akan kembali ke dalam lingkaran oligarki dan kebusukan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang semakin terang-terangan di semua lini kehidupan.

Hilang sudah harapanku memiliki negara yang bisa menjamin kehidupan rakyatnya yang miskin, dan anak-anak sekolah yang harus berjuang menyeberangi sungai dan jarak yang jauh dengan jalanan yang rusak di pelosok sana, dan memberikan kehidupan yang lebih baik kepada mereka.  

Hilang sudah harapanku melihat pemerataan pembangunan dan kesejahteraan untuk seluruh rakyat, it's definitely a major bullshit.  Melihat betapa rakusnya para penguasa, dan lingkaran penjilatnya yang hanya mementingkan kekayaan pribadi saja, rakyat miskin hanya akan dipelihara kemiskinan dan kebodohannya untuk kepentingan statistik pendukung lima tahunan.

Tidak usah bermimpi menjadi Indonesia Emas, melihat semua yang terjadi hanya menimbulkan kecemasan.  Dalam kondisi seperti ini, semua hanya akan berada di survival mode, hanya berpikir bagaimana caranya bertahan hidup, tidak akan berpikir bagaimana untuk berkembang.

Aku tak lagi ingin berdoa agar Allah mengampuni dosa para pemimpin kami, aku hanya berdoa semoga saat negara ini hancur, aku sudah mati saja, I just couldn't watch it.

Tapi aku akan berdoa lebih keras agar itu tidak terjadi.


Sabtu, 06 Mei 2023

Just a Thought

Believe me I went through so much questions and comments and almost bullying because I'm still single.

Some are nice, more are mean.  Some makes you pray for good things, some other makes you wanna slap that person in the face with a chair. 👻

Ada yang pernah kasih tabel umur menikah plus nanti umur anak berapa pas pensiun.  Ada yang cerita kalau nanti ga nikah bakal kanker payudara atau kanker rahim.  Ada yang bilang nanti kalo punya anak pas umurnya lewat 35 anaknya berisiko jadi ABK.  Ada yang isinya nasehat tapi berbau "ga usah kebanyakan miliiih sadar umur wooy" 👽 

But I have a friend who broke all those bad words.  She married and have a cute healthy child at 40.  Walaupun takdir setiap orang pasti berbeda, tapi Allah tu seperti kasitau kalau semua mudah aja kalau Allah sudah berkehendak ya kaan.. yaudah husnudzhon aja sama takdir yang sudah Allah persiapkan.

Aku tu jadi pengen kasi ceramah Ustadzah Halimah yang panjang lebar tentang jodoh dan pernikahan jadinya kalau mulai ada yang nyindir dibalik nasihat eeaaa.. tapi kan nanti dibilang sok alim dan jago teori aja 😆

Serba salah pokoknya jadi wanita single eligible ya kaak.. mudah-mudahan Allah kasih hati yang lapang seluas samudera biar kalo ada kata-kata kotor jadi macam kotoran cumi aja di Samudra Pasifik - hilang ga ada bekas.


I'm not worry if I end up alone, I worry more if Allah leaves me.

Minggu, 16 April 2023

Nisab Kasih Sayang

Aku baru tahu, kalau kita tidak mungkin mencintai orang lain jika kita tidak pernah merasa dicintai.  Karena kasih sayang itu seperti zakat, kamu tidak bisa memberikannya ke orang lain kalau dirimu tidak mencapai nisabnya. Setiap orang perlu tungku kasih sayangnya penuh baru bisa menyayangi orang lain. Kalau dirimu sejak kecil tidak merasakan kasih sayang, kamu akan mudah terjebak dalam hubungan yang manipulatif, bersama seseorang yang hanya memanfaatkanmu, karena kamu merasa tidak pantas mendapatkan kash sayang yang utuh, dan hanya pantas berada dalam hubungan transaksional.

Kamu pun tidak tahu, bagaimana rupanya kasih sayang yang utuh itu karena kamu tidak pernah merasakannya. Dan ketika ia benar-benar datang, kamu akan terus meragukan kebenarannya, kamu akan terus meragukan orang yang membawanya. Kamu juga akan berpikir orang itu bisa menyakitimu kapan pun jika kamu mempercayainya. Pada akhirnya, kamu membentengi dirimu dan hatimu dari siapapun yang mencoba melewati batas yang kamu gariskan sendiri.

Tapi kemudian aku diberitahu, kalau kamu merasa tungku kasih sayangmu tidak penuh karena mungkin di masa lalu orang tuamu kurang menyayangimu, jangan khawatir, karena seberapapun kosongnya tungku kasih sayangmu akan mudah dipenuhi oleh Allah dan Rasulullah, mendekatlah pada Allah, pada Rasulullah, ingat Allah selalu, tungku kasih sayangmu akan penuh. Ingatlah kamu tidak lahir kecuali atas izin Allah, orang tuamu mungkin tidak mengharapkanmu tapi Allah mengharapkanmu, maka tidak usah cari kasih sayang dari orang tuamu, carilah kasih sayang dari Allah.

Jangan pernah tinggalkan Allah dalam hidupmu, Insya Allah begitu pula Allah tidak akan pernah meninggalkanmu. Jangan biarkan setan membelenggumu dan putuskan sanadnya jika di masa lalu kamu merasa tidak disayang. Maka berikan kasih sayang dan doa terus menerus pada anakmu, agar dia juga menyayangi yang lain.

Bukankah melelahkan mencari cinta manusia?

Latih dirimu utk selalu mengingat Allah dalam keadaan apapun, bahkan saat diam. Latih dirimu untuk melihat Allah dalam setiap ciptaan-Nya. Bukankah selama ini Allah tidak pernah menyia-nyiakanmu, apa yang kamu khawatirkan dari masa depan, ada Allah yang akan mengurusmu disana, tanpa pernah tidur dan mengantuk. Imam Syafii mengatakan “Jika kamu dalam hidupmu merasa tidak ada orang yang cukup mengurusi hidupmu, ketahuilah itu adalah surat cinta Allah untuk mengurusmu secara langsung.”

Berat, tapi harus dicoba.

La tahzan, innallaha ma'ana.


(nukilan tausiyah Ustadzah Halimah Alaydrus, yang selalu menguatkanku)

Jumat, 30 Desember 2022

What 2022 have taught me...

2022 marked the ten years of my blog (yeay!)

Dimulai dari tulisan-tulisan yang tidak jelas kemana arahnya (sampai sekarang pun begitu), curcol waktu kesepian, penyaluran overthinking, dan apapun yang ada di kepala and I just want to type it because I like the sound of my keyboards clicking.

Dari pertama buat ini memang tidak ada niatan untuk jadi blog hits yang bisa menghasilkan uang.  I just need a pensieve like one in Dumbledore's office to clear my mind.  And because I merely a muggle, so voila! let's just make it works with a blog.

To have a blog is like having an open diary where everyone can peep to your mind, but as an INFJ I should remind you that this blog is only a little glimpse about me and if you think you know me just because reading this, then you're wrong.

Cerita tahun ini jauh membaik dari dua tahun sebelumnya.  The world become better, and we grew stronger than two years before.  The virus is still - and always be - there, but the condition are a lot more improved and it feels like we almost living like how we used to before this pandemic hit us. 

Setelah melalui pandemi ini, rasanya jadi lebih menghargai hal-hal kecil, dan terutama waktu yang kita miliki dengan orang-orang yang kita sayangi.  Dan rasanya malas untuk membuang-buang waktu dengan sesuatu atau seseorang yang kita tidak suka.

Ada sebuah potongan tausiyah dari Ustadzah Halimah Alaydrus yang paling saya suka di tahun ini

"Seringkali bukan masalahmu yang berat, hanya hatimu saja yang kurang luas.  Orang yang hatinya sempit semua masalah akan terasa berat.  Sementara orang yang hatinya lapang akan biasa saja jika menghadapi masalah ataupun pujian.  Seperti lautan yang tidak terpengaruh dengan kotoran dan bangkai apapun yang jatuh kedalamnya karena luasnya lautan tersebut.  Hadapi ujian dengan hati yang tenang, ingat selalu Allah dalam hatimu, maka hatimu akan menjadi sangat luas.  Berprasangka baik selalu pada Allah dan makhluk-Nya, orang yang selalu husnudzhon, tidak akan pernah rugi walaupun salah dalam persangkaannya."

Jadi begitulah, I tried to remember the words every hard time comes.  Dan semoga tahun-tahun kedepannya bisa memiliki hati yang lebih luas dan lapang, dan sederet harapan lain yang tentunya semua berisi kebaikan.  

Alhamdulillah for 2022, Bismillah for 2023.



Kamis, 13 Januari 2022

Bougenville, dan Doa yang Terlupakan


Rute perjalanan saya ke sekolah saat SMA selalu melewati area komplek perumahan yang sama dengan berjalan kaki.  Saat itu memang belum ada aplikasi ojek online, dan pilihannya hanya naik becak, ojek pangkalan, atau jalan kaki.  Pilihan berjalan kaki menjadi satu-satunya pilihan bagi saya karena memang tidak ada uang untuk pilihan lainnya.

Komplek perumahan itu bukan komplek mewah memang, hanya komplek Perumnas dengan rumah-rumah yang terlihat sudah lama berdiri, baik dengan bentuk aslinya yang memang sangat sederhana, maupun rumah yang sudah mengalami renovasi dan menjadi lebih besar.

Setiap pagi saya biasa berjalan santai -kalau tidak sedang terlambat- dan melihat-lihat rumah sekitar.  Dari saat itu dan sampai sekarang pun saya suka melihat rumah-rumah, melihat bentuknya, warnanya, dan membayangkan kehidupan yang ada di dalamnya.  Terlebih karena saat itu saya belum memiliki rumah yang layak, jadi saya suka sekali membayangkan bagaimana enaknya tinggal di rumah yang bagus. 

Ada sebuah rumah di pinggir jalan yang selalu membuat saya menengok sebentar setiap saya lewati.  Rumah itu kebetulan rumah kakak kelas saya di SMA, dan saya kadang melihat dia sedang bersiap-siap di terasnya saat saya lewat.  Rumahnya tergolong besar tapi tidak seperti rumah “gedongan”, hanya berlantai dua dengan gaya klasik, pagar berulir, dan berwarna coklat muda.  

Yang membuat saya selalu mendongak ke atas adalah sebuah balkon kecil, dengan bunga bougenville di depannya yang menjulur sampai terlihat dari bawah.  Setiap melihat itu saya selalu berujar dalam hati “bagus ya, enak banget punya kamar ada jendelanya terus ada balkonnya yang banyak bunga begitu, pasti dari bangun tidur udah seneng banget deh”.  Sebuah ujaran dalam hati yang selalu terulang selama tiga tahun melewati rumah itu. 

Sampai tahun lalu, saya masih tidak ingat pernah berpikir seperti itu.  Waktu melihat bougenville di luar kamar saya kadang merasa seperti ada sesuatu yang terlupa dan saya berusaha mengingat tapi tidak bisa.  

Sampai kemudian saya membaca sesuatu tentang doa, sesuatu seperti “yang pergi untuk kembali padamu hanyalah doa” atau “doamu pasti akan dikabulkan Allah di waktu yang terbaik, dan jika tidak pastilah Allah hanya menghindarkanmu dari keburukan yang tidak kamu ketahui”, dan “walaupun kamu hanya mengucap dalam hati, bisa jadi itu adalah sebuah doa yang akan Allah kabulkan pada waktunya”.  Dan kemudian terbayang kejadian di Madinah saat saya tidak benar-benar dalam posisi berdoa tapi Allah kabulkan, barulah kemudian saya ingat.

Delapan belas tahun setelah saya melewati rumah kakak kelas saya itu, Allah ternyata tidak pernah lupa dengan apa yang saya ucapkan dalam hati.  Mungkin sebagian orang memperoleh semua yang mereka inginkan dengan cepat, mungkin sebagian lain harus menunggu bertahun-tahun, tapi itu pasti hanyalah apa yang kita lihat.  

Tidak ada yang terlalu cepat atau terlambat dalam takdir yang sudah digariskan.  Semua berjalan sesuai garisnya masing-masing.  Lalu untuk apa berdoa? Karena kita tidak tahu doa mana yang mungkin mengubah takdir kita itu, doa mana yang akan dikabulkan, atau doa dari siapa yang ternyata darinya lah semua kemudahan yang kita peroleh.  Mengutip kata-kata dari Ustazah Halimah Alaydrus “Jangan menjadikan doa hanya sekedar, sebab doa adalah semua yang kamu perlukan. Jangan sedikit berdoa, jadilah orang yang sedikit-sedikit berdoa.” 

Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, karena Allah yang maha meng-ijabah segala doa.  Doamu akan didengar bukan karena dirimu, tapi karena Allah Ar Rahman Ar Rahim, As Sami’ud Du’aa. 



Kamis, 29 Juli 2021

My Covid Stories - part 2

 Jadi, apa yang harus dilakukan kalau hasil tes PCR kamu positif?

These points below are my experiences, you can try it, or find another better way.. it's just my stories..

1.  Tenang, jangan panik, dan kalau kamu muslim mengikuti nasihat Aa Gym, ucapkan tiga hal berikut:

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (sesungguhnya kita adalah milik Allah dan semuanya akan kembali pada Allah SWT.)

Qadarullah wa ma syafa a'la (Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki Dia lakukan)

Alhamdulillah ala kulli hal (Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan)

Loh kenapa Alhamdulillah? karena bisa jadi sakitmu ini menjadi jalan untuk menggugurkan dosa-dosamu, dan ketika Allah mencintai suatu kaum, maka mereka akan diuji.. Ge-er ngga? Ge-er ngga? Ge-er laaah.. masa ngga.. 😁

2.  Lapor ke Puskesmas dan Ketua RT, supaya terdata dan terpantau.  Staff Puskesmas nanti akan menghubungi kita, memberikan obat, dan memantau kondisi kita setiap hari.  Dan jika ada perburukan akan dibantu penanganannya.  Well kecepatan tiap Puskesmas memang berbeda, tapi setidaknya data kita sudah masuk dalam database pemerintah dan karena Covid ini ditanggung pemerintah jika dirawat di RS maka mudah-mudahan akan lebih mudah.  In my case, karena Puskesmas-nya agak lama, kami inisiatif untuk konsultasi ke dokter RS Swasta dulu dan dilakukan rontgen thorax, kemudian diberi obat sesuai gejala yang muncul.

3.  Segera pisahkan diri dari anggota keluarga lain yang serumah.  Jika tersedia ruangan yang berbeda lantai dan kamar mandi lebih baik, tapi jika tidak, you need extra careful terutama di area kamar mandi.  Pastikan semua benda dipisahkan dari yang sehat, dan ekstra semprot-semprot disinfektan di kamar mandi.

4.  Semua alat makan dan alat mandi juga dipisahkan.  Jika selesai makan, siram dengan air panas dulu baru kemudian dicuci dengan sabun, diusahakan memakai sarung tangan bagi yang mencuci piring/pakaian penderita.

5.  Minum obat, makan yang banyak, berjemur.  Sisa waktu bisa kerjakan hal yang berfaedah lainnya, kalau pusing, tidur aja karena tidur juga salah satu waktu imun tubuh berperang melawan virus.

6.  Buat catatan kronologis harian, sejak mulai muncul gejala dan kemudian kondisi kesehatan harian: suhu tubuh, saturasi oksigen, gejala yang dialami hari itu, anything that will be useful when your condition drop unexpectedly.

7.  Memang virus ini akan menghilang sendiri setelah kurang lebih 14 hari, tapi jangan lengah namun juga jangan terlalu stress.. ambil posisi ditengah-tengah, tetap aware dan waspada dengan kondisi tubuh sendiri atau orang yang dirawat.  Terutama saturasi oksigen.  

8.  Berdoa, dzikir, whatever you can do untuk mendekatkan diri ke Dia yang menciptakan tubuh kamu dan virus itu.  When you can't do anything, or you have nothing, pray is your biggest greatest weapon to change it.

Terus, minum apa aja?

Yang pasti: Jangan sembarangan beli obat!!! 

Walaupun sumbernya dari WAG keluarga dan katanya dari dokter.  Kondisi tiap orang berbeda, dan lebih aman untuk konsultasi ke dokter dulu untuk mendapat resep yang sesuai dengan kondisi badan kamu.

Untuk suplemen tambahan, my family used:

- Propoelix HDI

- Madu (any kind of it, Madu uray, clover honey, madu apa aja yang ada dirumah)

- Yogurt, susu, buah-buahan, semua cemilan sehat

- Cuci hidung pakai cairan infus/NaCl (bisa cari di YouTube cara lengkapnya)

- Diffuse Young Living Oil waktu tidur siang dan malam: Thieves, Eucalyptus, Raven, RC, Peppermint, semua yang ada dirumah deh.

Sekali lagi ini bukan kewajiban, hanya pengalaman kami saja, dan Alhamdulillah berhasil.

Lalu yang terakhir, yah setelah berusaha dan berdoa, tinggal pasrah aja hasilnya seperti apa.. 

but at least we've tried our best, don't we.. 

I hope this is our last time facing it, me and my father already got vaccinated btw, and we still caught by the virus.. tapi mungkin karena efek vaksin juga jadi gejala kami ringan saja.  So,  if you have a chance to get vaccinated, go on.. supaya kita lebih cepat keluar dari pandemi ini dan bisa jajan-jajan jalan-jalan lagi ya kaaan...

💓💓💓






My Covid Stories

Wait, what's with the plural on the title?

Well, it's because I had three cases in my house. 😅

Jadi semenjak virus ini merebak, kami berusaha dengan sekuat tenaga untuk selalu menaati prokes, minum vitamin, dan menghindari jalan-jalan diluar kepentingan yang sangat mendesak.

Tapi قدر الله وما شاء فعل   qadarullah wa maa syafa a'la saya dan keluarga diberikan ujian untuk mengalami Covid ini dan Alhamdulillah kami diberikan kemudahan untuk melewatinya.

Januari 2021

Diawali dengan Ibu merasa ga enak badan, pusing, terasa ngilu di seluruh badan, tapi masih menolak untuk ke dokter karena merasa ga kuat ngantri di dokter yang selalu penuh.  Sampai setelah sekitar 5 hari kemudian setelah demam, Ibu saya tiba-tiba bilang "kok ini lagi tumis bumbu ga kecium ya.."🙈My sister who was at home instantly panic dan WA ke saya dan kakak dan kami langsung berkata "yaudah positif itu mah" dan saya yang saat itu di kantor langsung izin pulang.

Esok harinya saya, ibu, bapak dan adik langsung ke RS untuk PCR (and that day was my birthday 😅) dan benar saja Ibu saya positif dan kami bertiga negatif.  Dua hari setelahnya dihabiskan dengan Ibu dan Bapak berantem menebak-nebak dari mana virusnya datang 😂 , karena Bapak masih suka nongkrong ngobrol dengan bapak-bapak tetangga dan Ibu masih suka ikut pengajian.

Setelah mereda dan menerima kenyataan, saya dan adik saya pun berperan jadi suster plus tukang masak selama 2 minggu kemudian, yang ga usah ditanya rasa masakannya, dan merasakan pusingnya pertanyaan "besok masak apa ya?" hahaha.. that question and thought was demanding, you should try it to know.

Juli 2021

Tiga hari setelah Bapak melayat ke tetangga dekat rumah (sudah dikasih tau bolak-balik ga usah pergi, tapi karena kami orang Indonesia yang 'ga enakan' akhirnya tetap pergi), Bapak mulai batuk-batuk dan menurut saya agak beda dengan batuknya yang biasa, dan masih berkelit katanya batuk karena makan mie untuk menghindar dari suruhan kami ke dokter.  Tiga hari setelah mulai batuk itu barulah Bapak mau ke dokter dan tes antigen-nya pun positif.  Tapi kami sudah tidak kaget lagi dan merasa yaaah udah laaah.. 

Kemudian saya dan adik saya pun kembali menjadi suster dan tukang masak karena Ibu pun diungsikan ke lantai 2 dan tidak boleh mendekat ke bawah tempat Bapak isoman.  Sampai 3-4 hari setelah Bapak dinyatakan positif, saya mulai merasakan gatal di tenggorokan yang saya pikir karena Ch*t*me yang saya beli sebelumnya, tapi kemudian saya juga merasa demam yang naik turun dan rasanya aneh karena belum pernah merasakan demam seperti itu.  Deep down I have that feeling this might be because the virus too, dan kemudian terkonfirmasi dengan tes PCR.  And then, jadilah kami berdua diisolasi di lantai 1, dan adik saya jadi suster untuk dua orang 😄

Kalau ditanya "yang dirasain apa sih?" saya sungguh bersyukur baik saya dan kedua ortu saya mengalami gejala ringan, walaupun Ibu sepertinya masuk ke gejala sedang karena sempat sakit dada, mual, dan nyeri badan.  Saya cuma merasa seperti orang pilek dan lucunya hidung tersumbat tapi masih bisa bernafas dengan baik, tidak seperti hidung tersumbat karena pilek pada umumnya, dan beruntung tidak hilang penciuman. 

You know everybody says you should take it easy and don't be stressed out when you got tested positive.  For me personally, what makes my mind can't stop worrying is the possibility of the virus to do anything unexpectable on your body.  And that makes my mind always on Red Alert mode and that was tiring.

Well, luckily we can get through those times, and I share it as a reminder for myself, to be grateful always for all that happened.


                                                                                                                                   ...to be continued

Kamis, 31 Desember 2020

2020: A Year Like Never Before

Tahun ini terasa begitu istimewa.  Mungkin dalam satu abad terakhir sejak pandemic Spanish Flu, belum pernah lagi ada kejadian luar biasa yang memaksa seluruh manusia di seluruh dunia untuk tunduk sekali lagi kepada alam.  It’s like the world pushed us to stop for a while.  Sudah satu tahun pandemic Covid 19 ini berlangsung – di Indonesia sendiri sekitar 9 bulan – dan belum ada tanda-tanda akan segera berakhir, well at least here.

Dan dalam sembilan bulan terakhir, sungguh banyak kejadian yang memberi kita – saya khususnya – pelajaran dan renungan.  Tentu saja yang pertama adalah mengenai kebesaran Allah.  Sungguh betapa sesuatu yang sangat kecil dan bahkan tidak terlihat, bisa mengubah kehidupan semua orang.  Sungguh betapa makna “Sabar dan Syukur” menjadi sebuah pelajaran yang jelas.  Bagaimana bersabar untuk semua ujian, dan bagaimana bersyukur di setiap keadaan, yang selalu terdengar mudah saat diucapkan, namun terasa sulit sekali dilaksanakan.

Tahun ini pun menjadi bukti, bahwa manusia memang diciptakan dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa.  Bagaimana kemudian pandemi ini memaksa kita untuk beradaptasi dengan teknologi, dengan keterbatasan, dengan jarak, dan bagaimana memaksa kita untuk tetap waras dalam menjalani semua perubahan yang sangat cepat dan mungkin tidak selalu menyenangkan.

But this pandemic also reminds us, that the safest place is home.

For me personally, this year taught me many things. 

I found many good books in which I learned to discover new things about myself.  Books that inspires me, and even heals me in some ways.  This year too, I learned new skills.  Yang tadinya paling malas kalau melihat pola jahitan, di tahun ini bisa punya niat beli mesin jahit dan belajar jahit – walaupun hasilnya baru bisa buat masker sendiri.  But I think that was a quantum leap for myself.  Many encouraging movies, stories, and songs, that every one’s trying to cheer up each other, and that was warming. 

This year too, I’ve lost myself again.  Many times my heart saw the way out, but I didn’t have the courage to walk to that way.  But then again, the aayah ‘and He found you lost and guided you’ from the surah Ad Dhuha was proven.  Then here I am, thinking that it’s been a roller coaster ride this year, but I’m glad that it’s still on track.  And if someday I lose the track again, I believe Allah will light the way once more.

I hope 2021 everything will get better for everyone.  And we can live like we used too - even if it  won't be exactly the same like before, but I guess we'd become stronger, and wiser.

 


Jumat, 17 April 2020

New Normal Life

Hari ini adalah hari ke-47 semenjak kasus pertama Covid-19 diumumkan di Indonesia tanggal 2 Maret 2020 lalu.  Angka yang semula hanya 2 orang, hari ini berubah menjadi 5.516 orang yang terkontaminasi positif saat ini, dengan jumlah korban jiwa 496 orang.  Semula kita tidak ada yang mengira akan seperti ini saat pertama mendengar virus ini mewabah di Wuhan-China.  Well, mungkin tidak semua.  Para dokter dan peneliti sebenarnya sudah memperkirakan, tetapi sepertinya pemerintah hanya ingin bermain aman.  Di awal-awal instead of memperingatkan warganya, malah sibuk membuka iklan pariwisata kalau Indonesia aman dan bebas virus, dengan mengeluarkan dana-dana promosi yang besar-besaran.  Mungkin saat ini adalah balasan dari kesombongan saat itu.

Musuh yang dihadapi saat ini sesuatu yang sangat kecil dan tidak terlihat.  Betapa bukti kebesaran Allah, dengan makhluk sekecil itu bisa memporakporandakan kehidupan.  We are adapting to a new normality right now.  Social distancing, work from home, school from home, hygiene and food habit, and everything else's change.  No more social gathering, no more travelling around, even no more religious activities together.  And the frightening things, after the pandemic, there will be likely a global economic crisis, but I do hope it won't be happen.

Awal-awalnya membaca dan mendengarkan semua berita ini menjadi sebuah keharusan, tapi mungkin karena terlalu banyak informasi, akhirnya malah jadi stress sendiri.  Saat ini membatasi diri dari membaca terlalu banyak.  Mendengarkan yang baik-baik.  Belajar banyak hal, dan terutama mensyukuri lebih banyak hal.

Disaat-saat seperti ini, saya yang sering berpikir "hidup gue ya gini-gini aja sih, ga kayak orang lain yang punya banyak hal untuk dibanggain - atau dipamerin 😁 - atau mungkin kayak temen-temen gue yang rasanya udah meniti a dream life deh.. di umur segini udah punya jabatan, atau bisnis sendiri, punya suami/istri plus anak-anak yang lucu, rumah minimalis yang mahalmiris 😄 jalan-jalan kemana-mana pasang foto cakep di IG"  dan sederet ke-iridengki-an saya yang ga ada habisnya.

Tapi benar yang pernah saya dengar di salah satu ceramah "hidup kamu yang rasanya 'gini-gini aja' itu sebenarnya sebuah nikmat, karena Allah menghindarkan kamu dari musibah yang kamu ga tau.."
And that was definitely true..
Siapa yang tau saya bakal kayak jadi orang yang seperti apa kalau dapat semua kemudahan dan kemewahan ya kan.. mungkin bakal jadi kayak cerita Bawang Merah or even worse.

Dan ditengah keterbatasan karena pandemi ini, i really miss my mediocre - normally - nothing so special - life alias hidup yang selalu gini-gini aja..
Bangun pagi, siap-siap ke kantor, pesen gojek ke stasiun, naik kereta yang penuh sesak, judes-judesan sama emak-emak di kereta, ketemu mas-mas kece di stasiun -ups🤭, becanda di kantor, riweuh disuruh-suruh ama bos, makan siang bareng, jajan bubur and bakso di pinggir jalan, kalo habis gajian bisa jalan ke mall, potong rambut di salon, main ke rumah temen trus ngerumpi seharian..
so many little things that now become a luxury things to have..

Dan bersyukur sekali di situasi saat ini bekerja di perusahaan yang membolehkan work from home, dan kalaupun terpaksa ke kantor ada antar jemput karyawan.. sementara masih banyak orang yang tidak mendapatkan fasilitas seperti itu diluar sana.. bersyukur banget walaupun dirumah tapi masih tetap digaji.. bukan lagi dalam kondisi yang kalau tidak keluar cari uang ya tidak bisa makan..
I think Allah really put us in the best time of our timeline..
And my heart and prayer will always be for people who still have to be outside doing their job, to the medical workers, to police officers, to all of us.. we are facing it together..
And I really wish this new normal will end soon..



Senin, 17 Februari 2020

About Time


The theories about time always interesting.
Mulai dari teori waktu adalah linear, waktu adalah titik 4 dimensi, time is an illusion, time is fluid.  I think everything is make sense to me.
My second book this year is about time-travelling.  It’s from Japanese author Toshikazu Kawaguchi called “Before the Coffee Gets Cold”.  The book told 4 stories about 4 time travellers, in which they going back to the past and the future in a coffee shop.  But series of rules follow everyone who wants to try the time travelling experience.  The rules are pretty hard; you must sit at one particular chair – but you have to wait the ghost that always sitting there to leave for a short moment on unpredictable time, you have to come back before the coffee in front of you gets cold, and another series of rules.  But the most important rule, you can’t do anything that can change the present.


So maybe some of you asking what’s the point of going back to the past if we can’t change anything?
Well, I wouldn’t mind… 
If only I could turn back time to feel a couple of things once again,
To say the words unsaid before,
To see someone you knew you could never see them again in the future,
I think it worth the try.

Me personally touched by stories in this book, I guess you can tell how the ending for each stories, but still continue to read it.  For me, I want to know how they accept the fate and letting go at the same times.
And among those many theories about time, I believe one from Sapardi Djoko Damono:
Yang fana adalah waktu
Kita abadi
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
Sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Kita abadi.





Senin, 06 Januari 2020

The Last Time

“ I know you’re gonna be alright,
I just knew from the moment I saw you
That we’d be perfect for each other
But we both knew, that being together is an option we could never choose
And i have to choose to leave you
Because i know, you’re strong enough to face it
And you’re smart enough not to fall into a person like me anymore 
And I hope you know how much I love you, and how I wish you to be happy 
I will always be here watching you, even if you don’t notice 
And I will make sure you’re doing fine ..
I’m terribly sorry, to make you cry like this..”

I wish you said that,
nine years ago. 

Minggu, 20 Oktober 2019

Makkah Al Mukarramah


Makkah al Mukarramah – Makkah yang dimuliakan.  Dalam rangkaian perjalanan umroh kemarin, kami dijadwalkan berada di Makkah selama 4 hari juga.  Kami berangkat dari Madinah di hari keempat setelah bermiqat di Bir Ali dan berniat umroh.  Perjalanan dari Madinah ke Makkah sekitar 4-5 jam menggunakan bis rombongan.  Kami berangkat dari Madinah sekitar pukul 4 sore, dan karena sudah briefing sebelumnya bahwa solat Magrib akan dijamak dengan Isya, kami hanya berhenti tanpa turun di rest area dan bisa sampai di kota Makkah sesuai rencana.

Tiba di Makkah kami hanya istirahat sebentar dan menaruh barang-barang di hotel, kemudian langsung bersiap untuk melaksanakan umroh.  Pada waktu melihat jadwal umroh, saya sebenarnya agak kaget dan waswas, karena di jadwal kami baru mulai umroh sekitar jam 11 malam, which is itu sudah jam tidur saya dan biasanya kalau belum tidur saya akan merasa mengantuk dan lelah.. tapi saat itu saya hanya berdoa semoga dikuatkan dan dimudahkan dalam pelaksanaan umrohnya.

Alhamdulillah selama melaksanakan inti ibadah umroh tersebut, benar-benar saya merasa diberi kekuatan dan kemudahan, sampai tidak berhenti menangis karena I don’t think I deserve it.  Rasanya semua orang yang diberi kesempatan solat di Baitullah akan merasakan hal yang sama.  Saat itu saya cuma berpikir kenapa bisa sebaik ini ya Allah, padahal dosa-dosaku begitu banyak.. sampai rasanya berdoa saja tidak terpikir apa lagi yang mau saya minta.. I’ve already had this much.. it’s more than enough, much more than I deserve..

Dan sebelum saya berangkat, saya mendengar cerita orang-orang yang sudah pernah berangkat, katanya apa yang kita pikirkan atau ucapkan, pasti kejadian.  Mendengar itu sebenarnya agak waswas mengingat saya ini suka komentar dan suka berpikir negatif.  Makanya sewaktu di Makkah – dan Madinah, setiap saya mulai berpikir aneh sedikit, langsung mengingatkan diri sendiri untuk berdzikir.  Dan saya mengalami kejadian itu sendiri.  Saya ingat sempat bergumam sendiri di Masjid Nabawi “pasti bagus banget ya kalau bisa melihat payung-payung ini kalau lagi dibuka pagi-pagi..”dan besoknya langung dikasih, sambil menunggu solat dhuha saya duduk di luar dan tiba-tiba payung-payung itu mengembang.. I was so speechless.

Di Makkah juga saya sempat berpikir saat melihat orang-orang solat di pelataran Masjidil Haram saat magrib “gimana rasanya ya solat diluar gini, kan penuh dan ramai .. “ ternyata besoknya kami tidak kebagian tempat di dalam waktu solat Isya karena berangkatnya telat, dan akhirnya harus keluar lagi dan solat di pelataran.  I was like, oh this is it, I get what my thought told me yesterday :D
Saya juga ingat sempat berpikir “disini bacaan solatnya panjang-panjang dan bukan dari juz 30 yang familiar.. padahal pengen banget denger surat Al A’la atau Al Lail langsung dari imam Masjidil Haram ya..” dan langsung dibayar tunai besok hari waktu solat Subuh, Al Lail dibacakan langsung oleh Imam Masjidil Haram.  Rasanya seperti dikasih tau “I hear you and I will give it to you..” Masya Allah ..

Yang paling saya ingat di hari kedua setelah umroh, setelah Isya Pak Ustadz pembimbing mengajak kami untuk mencoba solat di Hijr Ismail karena beliau melihat keadaan tidak begitu ramai dan sepertinya bisa kalau mau coba solat di sana, tapi tidak wajib dan hanya yang mau saja.  Hijr Ismail itu adalah salah satu tempat mustajab dan berdoa atau solat di dalamnya itu seperti solat di dalam Ka’bah.  Siapa yang tidak ingin solat di sana coba.. akhirnya saya dan Ibu pun pergi bersama sedikit rombongan, karena memang tidak wajib dan kami berserah diri sambil berdoa semoga sekali saja bisa diberi kesempatan ini.  Waktu sampai disana memang tidak terlalu ramai, tapi tetap saja di pintu masuk Hijr Ismail sudah bergerombol orang yang mengantri.  Waktu saya mengantri, yang ada di pikiran saya cuma doa “Ya Allah, sekali saja.. Cuma sekali dan sebentar saja, saya tidak akan lama-lama supaya bisa bergantian dengan orang lain, setelah Ibu saya bisa masuk, ijinkan saya sekali saja, 2 rakaat saja, even if this is my last time, but I hope it wont be my last time, sekali saja ya Allah, ingin berdoa di jarak terdekat dengan-Mu..” dan jalan itu terbuka.. untuk saya, Ibu saya, dan rombongan kecil kami.  Walau tetap harus berdesakan, tapi kami semua Alhamdulillah bisa solat dua rakaat.  Kami semua yang keluar setelah solat penuh dengan air mata.  I don’t know what others think, but again, I think this was too much.. why do I get everything more than I deserve.. 

Allah begitu baik.

Selama di Makkah saya dipertemukan dengan ayat-ayat ini saat tilawah

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu” ( Ar Ra’d : 2)

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Ibrahim : 7)

Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya.
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Ibrahim:34)

I really wish and sincerely prayed semoga saat itu adalah bukan saat terakhir saya mengunjungi Makkah dan Madinah.  Semoga ada kesempatan lagi dan bisa pergi bersama orang-orang yang saya sayangi, dan berharap kami bisa berkumpul bersama di surga nanti.




Jumat, 04 Oktober 2019

Madinah al Munawarah

Madinah al Munawarah - Madinah kota yang bercahaya.
Tiba di Madinah di malam hari memang penuh dengan cahaya.  Tapi al Munawarah yang dimaksud adalah kota ini akan menjadi kota yang bercahaya di hari kiamat nanti karena kesuciannya.
Jadwal yang kami dapat adalah 4 hari berada di Madinah, sebelum berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan umroh.

Day 1-2
Setelah penerbangan sembilan jam dari Jakarta, kami tiba di hotel sekitar jam 12 malam waktu setempat.  Selama di Madinah, kami menginap di Nozol Munawarah, hotelnya hanya 5 menit berjalan kaki dari/ke masjid Nabawi.  Jadi setelah pembagian kamar, kami hanya beristirahat sebentar, kemudian menuju ke Masjid Nabawi untuk solat tahajud dan solat subuh. 


Prince Mohammed bin Abdul Aziz Int'l Airport

Yang pertama kali dirasakan saat masuk ke Masjid Nabawi tentu saja terharu, tidak menyangka bisa sampai ke tempat ini dan berada dekat sekali dengan Rasulullah SAW.  Walaupun Masjid ini tidak pernah sepi, ada kedamaian yang terasa menyelimuti di tengah hiruk pikuk lalu lalang jamaah.  It's just a peaceful atmosphere surround us. 
Inside Masjid Nabawi


Setelah solat subuh, kami kembali ke hotel untuk sarapan pagi, dan kemudian bersiap untuk ziarah dalam Masjid Nabawi, Makam Baqi, dan Raudhoh.
Saat ziarah ini, Alhamdulillah kami dipandu langsung oleh Aa Gym, beliau menjelaskan segala hal tentang Masjid Nabawi, dan kami juga dibawa berziarah ke Makam Baqi, tempat dimakamkannya orang-orang soleh, dan menurut riwayat, orang-orang yang dimakamkan disini akan dibangkitkan lebih dulu saat hari kiamat nanti.






Setelah keliling Masjid, jamaah wanita dan jamaah pria dipisahkan karena akan mengunjungi Raudhoh dan Makam Rasullullah SAW.  Kalau jamaah pria lebih beruntung karena bisa mengunjungi makam Rasulullah SAW, namun untuk jamaah wanita, dibatasi hanya sampai Raudhoh, tempat diantara mimbar dan rumah  Rasullullah SAW yang menjadi tempat mustajab untuk berdoa.
Namun perjuangannya untuk sampai ke Raudhoh luar biasaaaa saudara-saudara.  Kami sudah mengantri untuk masuk, dan begitu sudah sampai ke batas Raudhoh, dimulailah dorong-mendorong terjadi karena penuh sekali jamaah yang ingin masuk, dan akhirnya saya dan Ibu menyerah dan tidak sempat solat di saf depan, kami mencari tempat yang agak sepi dari dorong-mendorong jamaah lain.
Beberapa orang bilang kalau malam lebih sepi, tapi rasanya kami tidak berani mencoba lagi, karena jamaah dari negara-negara Arab dan India badannya jauh lebih besar dan bergerombol, tenaganya pun besar dan benar-benar membuat kita merasa akan jatuh terpental :p



Personally, saya suka sekali solat di Masjid Nabawi, karena ketenangan dan keteraturannya.  I don't know why but everything seems so beautifully in order, bahkan burung-burung merpati yang terbang di halamannya pun dalam satu irama yang sama.  Mengingatkan saya pada ayat “Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan). Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersamanya (Daud) di waktu petang dan pagi. Dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul (sehingga bertasbih bersamanya). Masing-masing burung itu amat taat kepada-Nya.” (QS. Shad:17-19)




Day 3-4
Di hari ketiga, kami city tour kota Madinah dengan mengunjungi masjid Quba, makam syuhada Perang Uhud, dan kemudian kebun kurma.  Diriwayatkan bahwa keutamaan solat di Masjid Quba adalah sama seperti pahala berumroh. 



Masjid Quba
 Tapi dari city tour hari ketiga ini, yang paling mengharukan adalah saat berziarah ke Makam syuhada perang Uhud.  Ustadz pembimbing kami mengisahkannya dengan sangat indah, bahwa para syuhada ini tidak gentar dan menuruti perintah untuk tetap berada di posisi mereka walaupun dikepung musuh dalam jumlah yang jauh lebih besar.  Pak Ustadz bilang, para syuhada ini sebenarnya tidak pernah mati, mereka menunggu dalam kenikmatan sampai hari dimana mereka akan masuk ke syurga, hanya bagi kita di dunia saja mereka terlihat sudah menjadi jenazah, tapi saat ada perbaikan makam dan terpaksa membongkar makam, jenazah mereka masih utuh dan bahkan darahnya belum mengering.  In my memory, adegan perang paling keren adalah di Lord of The Ring The Return of The King, waktu adegan Aragorn membawa pasukan hantu yang dulu pernah berkhianat untuk kembali berperang bersamanya agar mereka bisa beristirahat dengan tenang.  But this story of Syuhada is a lot more affected me, dan seribu kali lebih mengharukan.
Di makam itu pun saya berdoa, semoga saat hari akhir nanti, saya bisa melihat mereka, dan berada di barisan yang sama, walaupun saya berada jauuuuh sekali di paling belakang, it doesn't matter.










Minggu, 15 September 2019

H - 7


Sejujurnya, sampai sekitar 3 tahun lalu, saya tidak pernah membayangkan dan memimpikan untuk pergi Umroh ataupun Haji.  The main reason of course masalah biaya, sudah kebayang berapa yang harus dikeluarkan, belum lagi, kalau pergi sendiri tapi orang tua belum pergi rasanya juga kurang pantas.
Setelah berhitung-hitung dan merasa mustahil, akhirnya terlupakan juga.
Tapi salah satu hal yang paling saya syukuri adalah saya selalu dikelilingi orang-orang baik, yang selalu mengingatkan tentang hal-hal baik, walaupun saya sendiri juga ga baik-baik amat.. Dan somehow teman-teman ini membawa saya ke hal-hal yang mengingatkan kembali untuk berpikir “oh iya ya, daripada jalan-jalan ke Korea atau Jepang, mendingan umroh aja dulu ..” tapi kembali terpikir “Cuma kalo pergi bertiga jadi berapa ya?” dan kemudian nyengir sendiri karena rasanya impossible kalo ngitung-ngitung tabungan dan gaji.
But I have this funny connection with Allah.. kalau lagi galau atau lagi bimbang, selalu saja Allah ingetin dengan nemu ayat yang artinya pas dibaca kok kayak paasss banget gitu.. atau tulisan-tulisan yang rasanya juga kok kayaknya dituntun buat gue baca yaa.. :D rasanya agak kege-eran sih..tapi bener-bener kejadian..
Dan kemudian lewatlah tulisan dari Ustadz Salim A. Fillah yang di-share salah satu teman di FB, dan walhasil wara-wiri di timeline FB saya, and that was my A-HA moment to fix my “niat” to go Umroh..

APA KIRANYA PERASAAN...
<Salim A. Fillah>

1) Apa kiranya perasaan Ash Shiddiq saat Nabiﷺ bersabda, "Andai kuambil kekasih di antara insan; pasti kujadikan Abu Bakr sebagai Khalilku"?

2) Apa kiranya perasaan 'Umar, saat dia berpamit 'umrah & Nabiﷺ bersabda padanya, "Jangan lupakan kami dalam doamu duhai saudara tersayang"?

3) Apa kiranya perasaan 'Utsman saat membekali pasukan Tabuk & Nabiﷺ bersabda, "Tiada bahayakan 'Utsman apapun yang ia lakukan setelah ini"?

4) Apa kiranya perasaan 'Ali kala Nabiﷺ bersabda, "Hanyasanya kedudukanmu di sisiku laksana Harun di sisi Musa, tapi tiada Nabi sesudahku"?

5) Apa kiranya perasaan Thalhah saat Nabiﷺ bersabda, "Siapa yang ingin melihat syahid yang masih berjalan di atas bumi, lihatlah Thalhah"?

6) Apa kiranya perasaan Az Zubair saat RasuluLlahﷺ bersabda, "Setiap Nabi memiliki Hawari, dan Hawariku adalah Zubair ibn Al 'Awwam"?

7) Apa kiranya perasaan Abu 'Ubaidah saat Nabiﷺ bersabda, "Setiap ummat memiliki Amin, dan orang kepercayaan ummat ini adalah Abu 'Ubaidah"?

8) Apa kiranya perasaan 'Abdurrahman ibn 'Auf saat dirinyalah dimaksud oleh sabda Nabiﷺ kepada Khalid ibn Al Walid, "Jangan cela sahabatku..Demi Allah andai kalian berinfak emas seberat gunung Uhud; hal itu takkan menyamai shadaqah segenggam atau setengah genggam tepungnya."

9) Apa kiranya perasaan Sa'd ibn Abi Waqqash saat Nabiﷺ bersabda, "Panahlah duhai Sa'd, panahlah! Ayah & Bundaku sebagai tebusan bagimu"?

10) Apa kiranya perasaan Mu'adz ibn Jabal, di saat RasuluLlahﷺ bersabda padanya, "Wahai Mu'adz, demi Allah, aku benar-benar mencintaimu"?

11) Apa kiranya perasaan Ibn 'Abbas, saat Nabiﷺ merengkuh & mencium kepalanya lalu berdoa, "Ya Allah faqihkan dia & ajarkan tafsir padanya"?

12) Apa kiranya perasaan Ubay ibn Ka'b, saat Nabiﷺ berkata padanya, "Allah memerintahkanku tuk membacakan Surat Al Bayyinah ini kepadamu"
hingga dengan wajah berseri-seri dia bertanya, "Ya RasulaLlah; benarkah Allah menyebut namaku kepadamu?" & Nabiﷺ menjawab, "Benar!"?

13) Apa kiranya perasaan Abu Musa Al Asy'ari, di saat Nabiﷺ bersabda, "Esok datanglah menjumpaiku, aku ingin mendengarkan bacaan Quran-mu"?

14) Apa kiranya perasaan 'Aisyah, saat Nabiﷺ menyebut namanya tanpa ragu di urutan pertama, kala ditanya 'Amr siapakan yang paling dicintai?

15) Apa kiranya perasaan Ibn Mas'ud, kala betis kecilnya ditertawakan; maka Nabiﷺ bersabda, "Betis itu di sisi Allah lebih berat dari Uhud"?

16) Apa kiranya perasaan 'Ukasyah, saat disebut 70.000 orang masuk ke surga tanpa hisab & Nabiﷺ berkata, "Engkau termasuk di antara mereka"?

17) Apa kiranya perasaan Bilal ibn Rabah, saat Nabiﷺ bersabda, "Ceritakan padaku hai Bilal, 'amal apakah yang paling kau jaga dalam Islam, sebab sungguh aku mendengar bunyi terompahmu di surga?", lalu dia menjawab tersipu, "Menjaga wudhu' & dua raka'at syukur atas wudhu'"?

18) Apa kiranya perasaan orang-orang Anshar, di kala Nabiﷺ bersabda, "Jika manusia memilih jalan melalui sebuah lembah, sedang kaum Anshar mengambil suatu celah, niscaya aku turut serta di celah yang dilalui para Anshar. Ya Allah rahmatilah Anshar & anak-cucu kaum Anshar"?

19) Apa kiranya perasaan para sahabat semuanya, yang mereka berjumpa Nabiﷺ pada petang & pagi, berjalan mengiringi, beroleh senyum & doanya?

Yang lebih penting & jelita dari itu semua; bagaimana dengan kita? Apa kiranya perasaan kita saat kelak bertemu Nabiﷺ & para sahabatnya?

Adakah Nabiﷺ kan bersabda, "Kaliankah orangnya, yang telah membuatku menangis karena rindu, yang telah membuat para sahabatku cemburu"?

"Kaliankah orangnya; yang beriman kepada apa yang kubawa meski kita tak berjumpa; yang mengucap shalawat atas namaku meski tak bertemu?"

Ini kami Ya Rasulullah; yang rindu tapi malu, membaca shalawat dengan lidah kelu; adakah kami layak jadi ummatmu, & beroleh syafaa'atmu?

Ya Allah, limpahkan shalawat pada Muhammadﷺ, sampaikan salam kami padanya. Pula ridhaMu atas semua sahabat; jadikan kami bersama mereka.

I was instantly crying when I read that post, and I automatically saved it to my FB.  Membayangkan bagaimana rasanya menjadi sahabat Nabi dan juga orang-orang yang pernah bertemu dengannya, selalu terpikir ah..bagaimana ya rasanya.. pasti bahagia sekali..
Dan kalau denger ceramah, katanya orang-orang yang beramal sholeh dan memiliki timbangan amal yang lebih berat daripada timbangan kejahatannya, akan berjalan dalam rombongan Rasullullah SAW nanti di hari kiamat, bersama-sama menuju surga.  It was like a slap.  Rasanya kalau ngandelin amal, masih jauuuuh banget untuk sampai ke surga.  Padahal saya ingin sekali berjalan dalam rombongan itu, walaupun di barisan paling belakang dari entah berapa milyar or trilyun orang – orang soleh sepanjang masa.  Dan kemudian saya putuskan, at least, kalau amal saya masih jauh, dan entah apakah akan cukup membawa saya dalam rombongan itu, saya ingin sekali saja dalam masa kehidupan ini, bisa berada di jarak terdekat dengan Rasulullah, sekali saja berada di rumah Allah, whatever will happen to me there, or whatever it takes to get me there.  Even if it’s just once in my lifetime.

Kemudian, dari niat itu, saya buka tabungan haji supaya ga bisa diutakatik uangnya, dengan niat “Ya Allah, terserah mau berapa lama harus nabung, tapi kalau sudah jalanku, mudahkanlah..” kalau ga salah cuma modal lima juta pas awal buka tabungan.  Kalau diitung-itung saya nabung sebulan Cuma 500 ribu, dan kalo dibagi biaya umroh, itu harusnya kira-kira 8 tahun baru kekumpul kalau mau pergi berdua – karena niatnya ya kalau ga cukup bertiga, buat Ibu sama Bapak dulu aja deh.  Sekali lagi ini hitungan manusia.  Ketika denger ceramah tentang haji, lupa siapa yang ceramah, beliau bilang “Allah itu memampukan yang diundang, bukan mengundang yang mampu” Saat itu saya kembali ge-er :D dan berdoa “Ya Allah, undanglah aku dan keluargaku, sekaliiii aja.. boleh yaa.. “ gitu aja terus diulang-ulang.  Terus kata Pak Ustadz kan kalau kita sedekah di jalan kebaikan, Allah pasti ganti berkali-kali lipat, yah minimal 10 kali katanya.  Saya mikir gimana ya caranya sedekah.. kalau ngasih pengemis tu agak males setelah melihat liputan mereka bisa ikut arisan yang jumlahnya bisa lebih gede dari gaji gueeh… :D

Akhirnya karena saya adalah pengguna ojol tiap pagi, saya niatkan sedekah dengan kasih tip abang ojol, karena somehow kalo sama abang ojek suka ga tega, mengingat Bapak dulu juga profesinya opang – ojek pangkalan, hehe.. And believe it or not, setiap berangkat kerja saya kasih tip abang ojol 5000, ya 5000 aja, yang mereka terima dengan senang dan sumringah, kadang pake drama “mbaa ga usaah.. kan udah pake gopay” sambil Tarik-dorong tu uang ahahahaha.. Dan Alhamdulillah, ketika akhirnya uang saya terkumpul untuk pergi berdua sama Ibu –karena Bapake diajak ga mau – saya mulai menghitung, jangan-jangan uangnya ini hasil perkalian dari 5000 tiap pagi.. karena kok ya paas banget.. Dan saya ga perlu nunggu selama 8 tahun seperti hitung-hitungan awal, saya juga ga tau dateng dari mana itu tabungan, gaji kan segitu-gitu aja, bonus juga segitu-gitu aja.. dan kemudian mewek again. 

Setelah daftar pun, sibuk lah dengan urusan yang lain.  Tapi kemudian terasa sekali betapa Allah mudahkan semua urusan.
Waktu buat paspor untuk Ibu, ternyata di surat nikahnya ga ada tulisan tanggal lahir, padahal akte kelahiran juga ga punya.  Rasanya sempet lemes karena Ibu petugas imigrasi bilang ‘kami kan harus menyamakan KTP dengan akta lahir atau buku nikah, sebagai pembanding, tapi di punya Ibu ga ada.. tapi sudah sering kasus begini kok saya maklum aja karena di kampung dan jaman dulu banget ya.. jadi minta surat keterangan aja di KUA kecamatannya, mudah-mudahan bisa, kalau ga bisa ya terpaksa ke tempat ngeluarin buku nikah ini..”
Terbayang harus pergi ke Cijambe untuk ngurus buku nikah yang salah tersebut sodara-sodara.. akhirnya hari itu juga langsung pergi ke KUA , dan ternyata diminta buat surat pengantar dulu di Kelurahan, cuss ke kelurahan, balik lagi ke KUA, hujan banjir, tapi Alhamdulillaaaah selesai hari itu juga sebelum imigrasi tutup, dan bisa langsung balik buat ngasih kekurangan surat-suratnya.

Waktu urusan vaksinasi pun, semua dimudahkan.  Tidak terlalu ramai, sistem antrian dan pendaftaran jelas, dokternya baik, dan yang penting suntiknya ga sakit ;D semua juga selesai dalam 1 hari.

Dan karena uang saya ya Cuma segitu-gitunya, sempet bingung juga mau pilih travel apa ya, secara ga punya pengalaman dan takut juga kalo sampe kejadian kayak first travel kan.. akhirnya Bismillah pilih yang tau aja deh, akhirnya ikut MQ Travel punya Daarut Tauhid, yang dalam pikiran saya””Insya Allah ga akan kejadian, kan ini punya Aa Gym..” dan beruntungnya dapet paket hemat.. dan lebih beruntung lagi karena ternyata landing Madinah jadi ga perlu ada perjalanan darat dari Jeddah atau transit di Oman..
Pas manasik kemarin pun, baru tau kalau nanti Insya Allah bisa ikut tausiyah bareng Aa walaupun bukan paket gold, dan pembimbing di bis nya pun Ustadzah Erika yang bertanggung jawab dalam masalah fikih wanita.. haaah.. rasanya Allah baik banget..

And I wrote it down here, semoga Allah membebaskan hati ini dari rasa riya’ dan ujub.. saya menulis ini hanya untuk mengingatkan diri sendiri akan momen ini, dan siapa tau bisa menjadi motivasi untuk yang kebetulan membaca.. sama seperti saat saya membaca blog orang lain dan kemudian berdoa semoga saya bisa merasakan hal yang sama seperti penulis blog itu..

Waktu manasik kemarin pun, Aa Gym menyampaikan tausiyah, kata beliau, banyak orang yang lebih soleh, lebih banyak amalnya, lebih rajin tahajudnya, tapi belum diundang ke rumah Allah .. jangan-jangan kita yang diundang ini justru karena yang banyak dosanya – auto mewek again – dan begitulah.. saya yang terlampau banyak dosa ini dan masih disayang orang-orang karena Allah menutupi aib saya, sangat bersyukur, dan berharap sampai umurnya untuk benar-benar bisa berangkat dan beribadah di Mekkah dan Madinah, di jarak terdekat dengan Rasullullah..

And if this is my last post, I hope you will remember all the good things about me and pray for me.


(picture from reddit.com)