Aku melihat laut,
karena hal itu yang dulu kau katakan padaku
karena kecintaanmu pada laut
dan laut akan membawamu padaku
Aku membaca pesanmu
menelusuri setiap abjad yang tertulis disana
dan membayangkan ekspresimu
saat mengucapkannya langsung
Aku mendengarkan lagu
yang dulu pernah kau nyanyikan untukku
dan berharap suaramu yang mengalun
menghiburku
and then,
when I miss you
I just close my eyes
and I'll see you...
Come in with the Rain
Minggu, 24 Juni 2012
Selasa, 19 Juni 2012
Hidup Tanpa Spasi.
We never know what we've got till it's gone, dan tombol "space" atau "spasi' menjadi sangat berarti saat tombol tersebut tidak berfungsi, seperti salah satu teman saya yang mengalami kemalangan tersebut pada handphone-nya. Dan kehidupan tanpa spasi-nya pun dimulai. Mengirimkan pesan tanpa spasi pun menjadi membingungkan dan bias. Sampai akhirnya dengan perpaduan kreatifitas yang disebabkan kombinasi dari seni kepepet dan belum cukup dana untuk membeli yang baru, akhirnya teman saya pun mengganti spasi dengan tanda "." titik .
Kejadian itu pun membuat saya berpikir. "Spasi" atau "Space" yang di dalam kamus Oxford berarti "amount of an area or place that is empty and available for use" atau yang diartikan "sejumlah area atau tempat yang kosong dan tersedia untuk digunakan". What a meaningful word for a button. Membayangkan hidup tanpa spasi berarti menjalani hidup penuh dengan ketergesa-gesaan. Hidup yang berkejaran dengan waktu dan bertubrukan satu sama lain. Hidup penuh dengan orang-orang yang lalu lalang tanpa menyadari siapa yang kita temui. Pathetic.
Hidup tanpa spasi pun menjadi hidup dengan menyimpan semua beban. Hidup dengan mengubur luka dan kesedihan. Hidup yang hanya sekedar menjalani dengan menjejalkan semua yang datang, tanpa memberikan ruang kosong dengan membuang hal-hal yang seharusnya tidak disimpan terlalu lama. Padahal, kalau hidup itu sendiri mengalir, menuangkannya terus-menerus ke wadah yang sudah penuh akan membuatnya tumpah dan terbuang sia-sia. Pilihan yang tersisa kemudian adalah: Membuang sebagian, atau Menambah volume wadahnya.
"Space" atau "Spasi" juga memiliki arti "the universe" atau "semesta" dan "whole area in which all things exist and move" atau "ruang yang seluruh komponen di dalamnya nyata dan bergerak". Wow, bahkan kita memiliki semesta di genggaman tangan, dan kita menggerakkannya tanpa disadari. Kata "spasi" ini pun terus mengusik kepala saya, dan saya pun mulai berpikir, dan menghubungkannya dengan teori dari Paulo Coelho di dalam buku The Alchemist-nya "When you really want something, all the universe will conspires in helping you to achieve it". Ketika kamu menginginkan sesuatu, seluruh semesta akan berkonspirasi untuk membantumu mewujudkannya. Tentu saja, karena tanpa sadar, kita yang menjadi penggerak dari semesta.
Dan akhirnya, setelah menyadari arti "space", saya akan menjalani dan menghargai hidup dengan spasi. Dengan memberi ruang untuk yang datang dan yang pergi. Dengan jeda yang akan saya ambil setiap kali saya merasa terengah-engah. Dengan menggunakan jarak di dalam spasi itu sendiri untuk mengamati yang ada di belakang dan di depan saya. Dengan menyadari, memiliki semesta dalam genggaman tangan berarti sebuah tanggung jawab yang besar, namun bukanlah sebuah beban. Tanpa sebuah spasi, ternyata hidup ini menjadi kurang bermakna.
#terimakasihyachristianyosuasiraituntukmengirimipesansepertiiniyangmembuatsayaberpikirsaatmembacanyadanternyatamembuatsayaberpikirlebihpanjangsetelahnyasemogahapenyacepetsembuhyaatausemogacepetdapetgantinyahehehe..
Minggu, 20 Mei 2012
My First Incidentally Meeting with Something Called "Sastra"
I love reading. Bahkan sebelum saya bisa membaca dan merangkaikan huruf-huruf menjadi sebuah kalimat. Saat Ibu saya mulai tidak sempat membacakan dongeng-dongeng dari majalah Bobo milik kakak, saya pun terpaksa - dan dipaksa - untuk membaca sendiri. Di bawah didikan ala Sparta dari kakak, saya berhasil membaca koran di usia 4 tahun, dan pelajaran di bangku Taman Kanak-Kanak pun menjadi sangat membosankan. #smug :)
Saya suka membaca apa saja. Bahkan saat di perjalanan, mata saya tidak pernah berhenti memandangi huruf-huruf yang berkelebatan. Tapi, pertemuan pertama saya dengan karya sastra adalah dengan sebuah puisi karya Sapardi Djoko Damono di halaman depan pojok kanan bawah Kompas Sabtu, lebih dari 10 tahun lalu, dan sampai saat ini saya tidak tahu judulnya, tapi saya hapal mati puisinya..
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Setelah membaca puisi itu, saya langsung tertarik dengan penuturan cerita yang menggunakan tata bahasa yang baik dan benar dan -kebanyakan- metaforis, atau yang biasa mereka sebut "Sastra". Saya sendiri sih tidak begitu mengerti. Saya pun tidak bisa membedakan mana yang baik dengan yang buruk, mana yang kontemporer mana yang klasik, saya hanya membedakannya menjadi tiga jenis: 1. Yang saya mengerti dan enak dibaca. 2. Yang saya mengerti tapi tidak enak dibaca. 3. Yang saya tidak mengerti dan tidak enak dibaca. Yah, penggolongan yang saya baca memang murni berdasarkan selera saya, dan pasti tidak sama dengan orang lain. Dan sungguh (bukan) sebuah kebetulan saya bersekolah di SMA dengan koleksi buku lengkap di perpustakaan. Jadi mulai SMA, saya sudah terbiasa dengan karya macam Memoirs of Geisha, Sam Pek Eng Tay, Ca Bau Kan, Da Vinci Code, sampai sastra lama seperti Salah Asuhan.
Tapi tidak ada karya sastra yang mampu merubah pola pikir dan cara pandang saya selain karya dari Dewi "Dee" Lestari. Buku pertama yang saya baca adalah Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Dan setelah perkenalan dengan buku pertama, saya pun mulai kecanduan dengan semua karyanya. Books, Songs, and coming soon Movies. It was just like finding an oasis in the middle of the dessert (Oke, mungkin terdengar sedikit lebay). But it's true, please feel free to proof it yourself. Membaca karya-karyanya membuat saya merasa tidak tahu apa-apa dan rasanya jadi ingin membaca lebih banyak supaya bisa tahu lebih banyak, hehe..
Saya akan re-post puisi-puisi yang tercetak di halaman awal seri Supernova. Buat yang ingin tahu lebih banyak, bisa baca bukunya langsung, or just simply follow her @deelestari, or @deequotes or www.dee-idea.blogspot.com . Hope you like it too.. ;)
Supernova : Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh
Engkaulah getar pertama yang meruntunhkan gerbang tak
berhujung mengenal hidup.
Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta tak bermuara.
Engkaulah matahari firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara.
Kau hadir dengan dengan ketiadaan.
Sederhana dalam ketidakmengertian.
Gerakmu tak pasti.
Namun aku terus disini.
Mencintaimu.
Entah kenapa.
Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta tak bermuara.
Engkaulah matahari firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara.
Kau hadir dengan dengan ketiadaan.
Sederhana dalam ketidakmengertian.
Gerakmu tak pasti.
Namun aku terus disini.
Mencintaimu.
Entah kenapa.
Supernova : Akar
Engkaulah gulita yang memupuskan segala batasan dan alasan.
Engkaulah petunjuk jalan menuju palung kekosongan dalam samudra terkelam.
Engkaulah sayap tanpa tepi yang membentang menuju tempat tak bernama namun terasa ada.
Ajarkan aku.
Melebur dalam gelap tanpa harus lenyap.
Merengkuh rasa takut tanpa perlu surut.
Bangun dari ilusi namun tak memilih pergi.
Tunggu aku.
Yang hanya selangkah dari bibir jurangmu.
Engkaulah petunjuk jalan menuju palung kekosongan dalam samudra terkelam.
Engkaulah sayap tanpa tepi yang membentang menuju tempat tak bernama namun terasa ada.
Ajarkan aku.
Melebur dalam gelap tanpa harus lenyap.
Merengkuh rasa takut tanpa perlu surut.
Bangun dari ilusi namun tak memilih pergi.
Tunggu aku.
Yang hanya selangkah dari bibir jurangmu.
Supernova : Petir
Engkaulah kilatan cahaya yang menyapulenyapkan segala jejak
dan bayang.
Engkaulah bentang sinar yang menjembatani jurang antar duka mencinta dan bahagia terdera.
Engkaulah terang yang kudekap dalam gelap saat bumi bersiap diri untuk selamanya lelap.
Andai kau sadar arti pelitamu.
Andai kau lihat hitamnya sepi di balik punggungmu.
Tak akan kau sayatkan luka demi menggarisi jarakmu dengan aku.
Karena kita satu.
Andai kau tahu.
Engkaulah bentang sinar yang menjembatani jurang antar duka mencinta dan bahagia terdera.
Engkaulah terang yang kudekap dalam gelap saat bumi bersiap diri untuk selamanya lelap.
Andai kau sadar arti pelitamu.
Andai kau lihat hitamnya sepi di balik punggungmu.
Tak akan kau sayatkan luka demi menggarisi jarakmu dengan aku.
Karena kita satu.
Andai kau tahu.
Supernova : Partikel
Engkaulah keheningan yang hadir sebelum segala suara
Engkaulah lengang tempatku berpulang
Bunyimu adalah senyapmu
Engkaulah lengang tempatku berpulang
Bunyimu adalah senyapmu
Tarianmu adalah gemingmu
Pada bisumu, bermuara segala jawaban
Pada bisumu, bermuara segala jawaban
Dalam hadirmu, keabadian sayup mengecup
Saput batinku meluruh
Saput batinku meluruh
Tatapmu sekilas dan sungguh
Bersama engkau, aku hanya kepala tanpa rencana
Telanjang tanpa kata-kata
Cuma kini
Cuma kini
Tinggal sunyi
Dan, waktu perlahan mati.
Rabu, 09 Mei 2012
Judulnya Mencoba Menghibur Diri Sendiri...
Ibu saya - yang lebih banyak ngomel daripada ceramah, hehe.. - pernah memberikan satu kalimat yang selalu saya ingat..
"Manusia itu ada yang dicoba dengan kemudahan, ada juga yang dicoba dengan kesulitan"
just a simple sentence i know, but it means a lot.
Pernah ngga sih, bertemu orang yang menurut kita "perfect" ? Saya..sayangnya sering.
Kakak kelas saya jaman SMA, is absolutely perfect - at least, that's how i saw him. Gimana nggak, pinter, anak orang pinter, kaya dari lahir, ketua osis, aktivis rohis, plus guanteng yang bikin semua orang kelibas (yg ini agak saya perbuas,hee..). Ibarat orang Jawa bilang, Bibit-Bebet-Bobot sudah lulus uji kelayakan. Semua yang kakak ini kerjakan pasti hasilnya oke, kalo pidato di depan orang juga keren, dan semenjak dapet beasiswa kuliah di NTU, kakak ini tinggal di sana..terakhir dengar kabar kalau sudah menikah dengan teman sekelasnya pas SMA dulu..life just like a fairy tale for him.
Ada lagi teman saya, super cantik, pinter, kuliah di kampus no.1, uang bukan sesuatu yang dipikirkan, lembut tutur katanya, plus dapet suami dokter yang juga tipikal perfect seperti itu.. Haaah..life sometimes seems so unfair. Seperti sebuah kalimat di novel yang pernah saya baca "Betapa mood Tuhan sedang bagus saat menciptakannya.."
Sebagai orang yang terlahir dari kaum rakyat kebanyakan, kasta sudra mungkin kalau di India, ditambah terlahir di dunia di mana materi berwujud menjadi benda-benda yang harus diperjualbelikan, hal yang material memang selalu jadi tolak ukur keberhasilan -garis miring- kebahagiaan. Walaupun statement saya akan dicap sebagai hal yang materialistis, saya akan mengambil poin "realistis" dari kata tersebut. Mereka yang pernah merasakan penderitaan sampai ambang batas kesabaran tidak akan berkata "uang bukan segalanya" atau "money can't buy happiness".. i've been there..and that was something i would never ever ever let it happen to me again.
Dan seperti cerita saya, ada banyak orang yang sepertinya menjalani hidup dengan sangat mudah, apapun yang diinginkan pasti mudah didapatkan, yang sayangnya sering mengundang rasa iri. Tapi, saya pribadi tidak pernah merasa iri. Kalau berkata "kapan ya bisa kayak gitu.." atau "coba kalau saya seperti itu juga.." itu sih jujur aja lumayan sering :D
tapi setelah itu yaa kembali melanjutkan kehidupan normal saya yang sudah menanti.
Di sisi lain, ada juga orang-orang yang ditakdirkan hidup dalam kondisi serba kekurangan. Orang-orang tua yang seharusnya di rumah menggendong cucu namun masih memulung sampah, mereka yang tinggal di gerobak, mereka yang mencari makanan sisa yang masih layak, dan mereka-mereka lainnya yang saya tidak pernah sanggup untuk menatap matanya lama-lama, bukan karena jijik atau lain hal, tetapi karena saya belum bisa melakukan apa-apa untuk membantu. Saya malu. Dan saya tidak ingin mereka melihat saya terharu.
Manusia, memang pada dasarnya makhluk egois yang suka membanding-bandingkan. Kita sering membandingkan kebahagiaan dan penderitaan. Merasa lebih jika mendapat kebahagiaan. Merasa senang jika masih ada yang kurang beruntung. Padahal, seperti yang Ibu saya katakan
"Manusia itu ada yang dicoba dengan kemudahan, ada juga yang dicoba dengan kesulitan"
jadi, semua yang kita miliki pada hakikatnya adalah cobaan. Apakah dengan cobaan-cobaan itu kita masih dapat mengingat unsur utama kita yang diciptakan dari tanah. Saya selalu berusaha mengingat kata-kata Ibu itu setiap hari, terutama saat saya sedih. Tuhan pun memiliki cara Nya sendiri untuk menghibur saya, setiap kali saya merasa sedih, saya akan naik ke lantai paling atas (kost-kostan saya tingkat 3 :p ) dan di langit malam, pasti ada hamparan bintang yang berkilauan, yang seperti berkata "you're just gonna be allright". Seriously, it's real. And i will take a deep breath, menghibur diri sendiri sambil berkata "mungkin memang sedang dicoba dengan kesulitan, siapa tau lain kali dicoba dengan kemudahan."
Senin, 30 April 2012
Bermula dari Ngomongin Gondongan di Pantry
Beberapa minggu yang lalu saat istirahat siang, seperti biasa saya menghabiskan makan siang di pantry kantor bersama dengan dua rekan kantor, sebut saja namanya AS dan SR. Saat itu kami membicarakan teman sekantor yang terserang penyakit cacar. Dan kemudian obrolan kami pun merambat ke penyakit-penyakit menular lain yang pernah kami derita. Topik pun beralih ke penyakit Gondongan. Dan teringatlah saya kenangan saat terserang gondongan saat masih kecil dahulu..
Terlahir sebagai blasteran Jawa - Sunda, saya dibesarkan in a superstitious family - di dalam keluarga yang sangat mempercayai mitos. Nasihat-nasihat turun temurun, kebiasaan, mitos, dan terutama segala hal yang bermula dari kata "pamali". Saya pun terbiasa dengan segala hal-hal yang sekilas terlihat sangat tidak masuk akal dan mungkin tergolong aneh. Salah satu hal aneh yang masih saya ingat adalah saya pernah memakai kalung dari nenek-nenek tukang pijit yang - katanya - bisa menggemukkan. Dan saat kalung tersebut harus dilepas karena mulai terasa sempit, saya harus mandi kembang setelahnya. Yeaaah..it's kinda spooky i know.. tapi karena saya masih polos dan belum menyadari banyak hal, pengalaman itu justru menjadi pengalaman yang membuat saya berkata "Waaaaoooooowwww..." :D
but please don't think that me and my family believe in other thing than our God, we have our own religion, and what we did is just traditions. Traditions and religion can never be compared.
Dan teringatlah pengalaman gondongan saya. Saya mengalaminya kira-kira saat kelas 1 atau 2 SD. Dan seperti semua orang yang mengalami gondongan, pipi saya pun membengkak dan terasa sakit di leher. Rasa sakit yang menyebabkan saya menjadi sangat lapar karena hanya bisa makan sedikit bubur (T.T)
Dan sayangnya, Ibu saya termasuk orang yang dibesarkan dalam kebiasaan Sunda yang teramat baik, sehingga dokter adalah pilihan terakhir saat itu (untunglah akhir-akhir ini sudah sedikit berubah :p ), and then voila.. Segala resep yang berasal dari kepercayaan pun dimulai.. Daun belimbing wuluh yang ditumbuk, gambir, nasi panas yang digulung di daun pisang dan ditiup-tiup..sampai yang paling ekstrim: Rajah Cina dengan Blau di Pipi!
Buat yang belum tau Blau, itu adalah sejenis bahan yang biasa digunakan di kalangan masyarakat menengah ke bawah untuk memutihkan baju, selain dengan obat cair yang merknya xxxClin. Bentuk Blau adalah bubuk yang dipadatkan menjadi seperti garam balok, dan digunakan pada bilasan terakhir cucian dengan menghancurkannya di air.
Entah dari mana datangnya kepercayaan itu, tapi yang jelas ketika beberapa resep sebelumnya tidak berhasil, Ibu mengajak saya ke salah satu kios di Pasar Buncit. Dan - yang entah darimana juga dapat alamatnya - akhirnya saya bertemu dengan Ngkoh2 pemilik kios beras itu. Setelah berbincang sebentar, Ngkoh X itu mengambil sesuatu di mangkuk dan mulai mengolesi pipi saya dengan cairan di dalamnya.
Karena saya teramat sangat polos dan tidak tau apa-apa, saya pun hanya menurut dan berpikir apa yang kira-kira dilakukan Ngkoh X itu. Setelah itu, Ibu mengajak saya mampir di warung baso yang paling enak di Pasar Buncit, dan saya mulai berpikir, apapun yang dioleskan Ngkoh X tadi sangat manjur! Buktinya saya langsung bisa makan bakso, hehe..
Saat pulang dari Pasar, kami naik bus kota untuk sampai ke rumah. Di dalam bus saya mulai merasakan kejanggalan. Saya mulai berpikir, kenapa ya semua orang di dalam bus - dan selama perjalanan - memperhatikan saya dengan begitu takjub dan kemudian menahan senyum, was I that adorable? :p
dan ternyata setelah sampai di rumah, saya mengetahui jawabannya saat bercermin: Pipi saya ada tulisan Cina gede banget dan dari blau pula!! Oemjiiiii.... Pantas semua orang takjub melihat saya, pasti karena saya kelihatan seperti anak vampir yang lepas.. (_ _") ckckck..
Sampai sekarang pun, saya tidak tahu apa yang dituliskan di pipi saya saat itu, dan bahkan saat saya cari di Google pun tidak ada jawaban yang tersedia. Tapi saya berani jamin cara itu manjur sodara-sodara! I'm highly recommended for that!
Hidup saya pun berlanjut dengan kebiasaan-kebiasaan dan pamali-pamali lainnya. And i'm pretty much like it actually (^^#)
Dan balik lagi dari obrolan saya di pantry saat makan siang, yang akhirnya kami akhiri karena jam istirahat dan makanan telah habis, dengan satu pertanyaan retoris dari salah satu peserta obrolan
"Tapi lo kayaknya gondongan tu ya? pipi lo kok jadi tembem begitu?"
hhaaaaahhhh..... #take a very deep breath (-o-)
Terlahir sebagai blasteran Jawa - Sunda, saya dibesarkan in a superstitious family - di dalam keluarga yang sangat mempercayai mitos. Nasihat-nasihat turun temurun, kebiasaan, mitos, dan terutama segala hal yang bermula dari kata "pamali". Saya pun terbiasa dengan segala hal-hal yang sekilas terlihat sangat tidak masuk akal dan mungkin tergolong aneh. Salah satu hal aneh yang masih saya ingat adalah saya pernah memakai kalung dari nenek-nenek tukang pijit yang - katanya - bisa menggemukkan. Dan saat kalung tersebut harus dilepas karena mulai terasa sempit, saya harus mandi kembang setelahnya. Yeaaah..it's kinda spooky i know.. tapi karena saya masih polos dan belum menyadari banyak hal, pengalaman itu justru menjadi pengalaman yang membuat saya berkata "Waaaaoooooowwww..." :D
but please don't think that me and my family believe in other thing than our God, we have our own religion, and what we did is just traditions. Traditions and religion can never be compared.
Dan teringatlah pengalaman gondongan saya. Saya mengalaminya kira-kira saat kelas 1 atau 2 SD. Dan seperti semua orang yang mengalami gondongan, pipi saya pun membengkak dan terasa sakit di leher. Rasa sakit yang menyebabkan saya menjadi sangat lapar karena hanya bisa makan sedikit bubur (T.T)
Dan sayangnya, Ibu saya termasuk orang yang dibesarkan dalam kebiasaan Sunda yang teramat baik, sehingga dokter adalah pilihan terakhir saat itu (untunglah akhir-akhir ini sudah sedikit berubah :p ), and then voila.. Segala resep yang berasal dari kepercayaan pun dimulai.. Daun belimbing wuluh yang ditumbuk, gambir, nasi panas yang digulung di daun pisang dan ditiup-tiup..sampai yang paling ekstrim: Rajah Cina dengan Blau di Pipi!
Buat yang belum tau Blau, itu adalah sejenis bahan yang biasa digunakan di kalangan masyarakat menengah ke bawah untuk memutihkan baju, selain dengan obat cair yang merknya xxxClin. Bentuk Blau adalah bubuk yang dipadatkan menjadi seperti garam balok, dan digunakan pada bilasan terakhir cucian dengan menghancurkannya di air.
Entah dari mana datangnya kepercayaan itu, tapi yang jelas ketika beberapa resep sebelumnya tidak berhasil, Ibu mengajak saya ke salah satu kios di Pasar Buncit. Dan - yang entah darimana juga dapat alamatnya - akhirnya saya bertemu dengan Ngkoh2 pemilik kios beras itu. Setelah berbincang sebentar, Ngkoh X itu mengambil sesuatu di mangkuk dan mulai mengolesi pipi saya dengan cairan di dalamnya.
Karena saya teramat sangat polos dan tidak tau apa-apa, saya pun hanya menurut dan berpikir apa yang kira-kira dilakukan Ngkoh X itu. Setelah itu, Ibu mengajak saya mampir di warung baso yang paling enak di Pasar Buncit, dan saya mulai berpikir, apapun yang dioleskan Ngkoh X tadi sangat manjur! Buktinya saya langsung bisa makan bakso, hehe..
Saat pulang dari Pasar, kami naik bus kota untuk sampai ke rumah. Di dalam bus saya mulai merasakan kejanggalan. Saya mulai berpikir, kenapa ya semua orang di dalam bus - dan selama perjalanan - memperhatikan saya dengan begitu takjub dan kemudian menahan senyum, was I that adorable? :p
dan ternyata setelah sampai di rumah, saya mengetahui jawabannya saat bercermin: Pipi saya ada tulisan Cina gede banget dan dari blau pula!! Oemjiiiii.... Pantas semua orang takjub melihat saya, pasti karena saya kelihatan seperti anak vampir yang lepas.. (_ _") ckckck..
Sampai sekarang pun, saya tidak tahu apa yang dituliskan di pipi saya saat itu, dan bahkan saat saya cari di Google pun tidak ada jawaban yang tersedia. Tapi saya berani jamin cara itu manjur sodara-sodara! I'm highly recommended for that!
Hidup saya pun berlanjut dengan kebiasaan-kebiasaan dan pamali-pamali lainnya. And i'm pretty much like it actually (^^#)
Dan balik lagi dari obrolan saya di pantry saat makan siang, yang akhirnya kami akhiri karena jam istirahat dan makanan telah habis, dengan satu pertanyaan retoris dari salah satu peserta obrolan
"Tapi lo kayaknya gondongan tu ya? pipi lo kok jadi tembem begitu?"
hhaaaaahhhh..... #take a very deep breath (-o-)
Minggu, 22 April 2012
Mengapa Baru Terpikir Membuat Blog?
Baru-baru
ini saya menyadari kalau saya senang menulis.
Menyuarakan apa yang selalu diributkan di dalam kepala saya menjadi
kata-kata ternyata mengasyikkan. Saya sudah sering menulis notes di facebook saya, dan saat menyadari jumlahnya semakin banyak, saya mulai terpikir untuk membuat blog seperti teman-teman saya yang sudah jauh lebih dulu memulainya. Dan karena saya perpaduan antara gaptek + tidak pernah mendengarkan dosen saat mata kuliah Komputer (yang disitu pernah diajarkan cara membuat blog) + ga punya waktu untuk ngutakatik program-program atau apapun untuk tau teknik-teknik agar blog terlihat lebih canggih..maka,,inilah hasilnya..blog sederhana yang cukup untuk menampung semua yang terlintas di pikiran saya.
Saya menyadari isi pikiran saya agak abstrak dan terkadang berloncatan kesana kemari. Dan isi blog saya akan seperti itu. Saya tidak ingin membuat blog khusus puisi, atau khusus cerita, atau apapun bergenre tertentu. Apapun yang mengusik dan terlalu berisik di kepala saya untuk diabaikan akan saya tuangkan di blog ini, puisi, lagu, cerita, kekonyolan saya, iklan, isi buku, apapun itu. Mungkin teman-teman akan menyadari dalam blog ini banyak karya Dewi " Dee " Lestari yang saya re-post. Hal ini karena she's my
biggest influence and my favourite author dan saya senang untuk membagi keindahan karya-karyanya ke teman-teman semua. Tidak pernah terpikir juga sih akan menyaingi
kehebatannya dalam berkarya, tetapi mengetahui kami berbagi hari lahir dan
bintang-bintang yang beredar pada saat dia lahir kembali bertemu di hari
kelahiran saya, mudah-mudahan saja saya mendapat sedikit kecerdasannya.. (and i
always proud of it :D )
I named my
blog "Once in a Rainy Day" karena saya selalu menyukai hujan. Mungkin kalau saya lahir di saat hujan nama
saya akan menjadi Rinai. Saya selalu
menemukan berbagai hal yang menarik untuk dilakukan saat hujan; melamun,
mencium harum tanah yang tersiram hujan, melihat rintik air yang bercucuran
dari atap, memandangi genangan air yang tersebar di jalan-jalan, titik-titik
air yang berpola di dedaunan, bergelung di dalam selimut sampai ketiduran, atau
memasak mie instan dengan semua anggota keluarga saya. Rain is always beautiful.
Saya akan
senang sekali kalau teman-teman juga meluangkan waktu menikmati hujan..and off
course enjoy my blog, as i enjoy making it :)
Apr 14th, 2012 - Beautiful Words from Ads
I was stunned when I
heard these beautiful words in a TV Commercial. And what more stunning
was that’s a children product, with children models and voices. It
must be amazing if all the creator and advertiser do these “smart ads”
every time they create something that broadcasted widely. I really can
imagine the effect. Beautiful.
The commercial itself contain three parts, and every part has its own words. I got all of them. Enjoy.
*I want to live my life to the absolute fullest
To open my eyes to be all I can be
To travel roads not taken,
To meet faces unknown
To feel the wind, to touch the stars
I promise to discover myself
To stand tall with greatness
To chase down and catch every dream
Life is an adventure.
*I wanna make clouds,
I want to jump over fences
Play with shadows
Paint faces
Get wet
Invent
Chase rainbows
And collect stars
Life is an adventure.
*Let’s call on the interested
The wide eyed
The hopeful
The princesses and the princes
Their believer
Let’s some..on the generals
The queens
The kings
And the knights start ride adventures trail
Let’s call on the ledgers
The lovers
The big ones
The small ones
The boundaries
The attendance
Discoverers
The conductors
The scientist
The CEO’s
Let’s call on the sky walkers
The movers
The shakers
Let’s call on the curious
And bring on the hope
Life starts here.
The commercial itself contain three parts, and every part has its own words. I got all of them. Enjoy.
*I want to live my life to the absolute fullest
To open my eyes to be all I can be
To travel roads not taken,
To meet faces unknown
To feel the wind, to touch the stars
I promise to discover myself
To stand tall with greatness
To chase down and catch every dream
Life is an adventure.
*I wanna make clouds,
I want to jump over fences
Play with shadows
Paint faces
Get wet
Invent
Chase rainbows
And collect stars
Life is an adventure.
*Let’s call on the interested
The wide eyed
The hopeful
The princesses and the princes
Their believer
Let’s some..on the generals
The queens
The kings
And the knights start ride adventures trail
Let’s call on the ledgers
The lovers
The big ones
The small ones
The boundaries
The attendance
Discoverers
The conductors
The scientist
The CEO’s
Let’s call on the sky walkers
The movers
The shakers
Let’s call on the curious
And bring on the hope
Life starts here.
Langganan:
Postingan (Atom)