That one second when you're in danger,
You never realized that it was dangerous.
That one second when your mind was blank and you just stare,
you didn't even realize that you were holding your breath
And one second after that,
You just realized that death was closer than you ever thought.
And "what if" thoughts that comes afterwards are even worse.
Then you just realized that you're afraid of death.
Then I was realized that it wasn't my death i fear most,
But what will happen to my parents when I die.
What will they eat and where will they sleep if my sister not around.
Come in with the Rain
Rabu, 10 September 2014
Jumat, 15 Agustus 2014
Destiny Never Comes Too Late
I strongly believe that destiny never comes too late, that never a single leaf would fall without written by the Creator.
Lalu kalau ada orang yang berkata saya terlambat muncul dalam hidup seseorang, saya jadi bingung. I mean, I’m always here, I never know when my life would cross someone else’s line. It’s not my power to decide when I will show up in someone's mind. I just here.
And sadly, it wasn't happened just once, I already went through this kind of situation several times. And in my past years, I would blame destiny of course. But now I think I've grown up. I would never blame anything, anyone, or anyhow. I believe that everything happens for a reason. There'll always be a reason when you're not destined to fit into someone's life. Besides, only good people for another good people, while maybe I'm not good enough, God knows.
And now, as I'm getting tired of that "why not me" questions from myself and others, I simply will do nothing than pray, because that's the only thing I can do.
I will pray, for myself, for you, for everyone else, for wherever my road may lead, it will lead me to a good one, the best one.
So please my friend, can we just stop the questions and asking another questions instead?
I always try not to have regrets anymore, " tidak ada yang kusesali, tidak juga nanti, kuharap kamu juga demikian.." Kata Dee di Supernova. Dan kalau mengutip kata-kata Fahd Djibran "Lagipula, diatas segalanya, jodoh bukan cuma soal perasaan..".
It's destiny. And destiny never comes too late.
Rabu, 02 Juli 2014
A Different Side of the City: KL
KL actually my first plan trip to go abroad, but it turned
out to be my second. If my first trip to
Singapore I went with my sister, then in my second trip, I went with 5 other
people: my best friend’s Vira, Vira’s mom – tante Ida, Vira’s former office
mate – Indah, Indah’s Mom, and Indah’s aunt.
Yes, it was a pack. Dan menurut saya, kunci untuk berkunjung ke
tempat asing adalah menyusun itinerary yang bagus. Dari jauh-jauh hari kita harus sudah
menentukan mau mengunjungi apa saja disana, lalu cari-cari info rute dan harus
naik apa ke tempat-tempat itu, dan yang paling penting: hotel. Kalau waktu ke Singapore saya tinggal terima
beres karena semua itinerary sudah dibuat dengan sangat cantik oleh kakak,
perjalanan ke KL ini lebih banyak kompromi dan diskusi mengenai itinerary
karena kami harus membawa rombongan Ibu-Ibu.
Kalau kami bertiga yang masih muda kan bisa tidur dimana saja, dan bisa
jalan kaki sepuasnya, tapi kali ini harus mempertimbangkan kenyamanan Ibu-Ibu
dalam rombongan. Dan hasilnya, setelah 3
kali mengganti pilihan hotel, dan membolak-balik itinerary, akhirnya kami
memilih itinerary yang pas dan disetujui semua rombongan.
Kalau Singapore sangat terlihat futuristik dan tertata rapi,
KL sebenarnya tidak ada bedanya dengan Jakarta.
Udaranya, tata kotanya, orang-orang yang melintas, bahasa yang dipakai,
semua hampir sama dengan Jakarta, menurut saya sih hampir mirip dengan kawasan
Pasar Baru, Mangga Dua dan sekitarnya.
Tapi memang di KL sarana transportasi sudah lebih baik dengan jalur MRT
yang tak ubahnya seperti jaringan commuter line di Jakarta. Bedanya, penyedia jasa MRT tidak dimonopoli,
setiap jalur yang berbeda pasti dikelola oleh perusahaan yang berbeda, mungkin
itu sebabnya masing-masing penyedia jasa selalu meningkatkan servisnya. Bus yang tersedia pun nyaman dan terawat.
Saat berkunjung kemana pun, saya selalu lebih tertarik
memperhatikan orang-orang yang ada di tempat tersebut. Apa yang mereka lakukan dan bicarakan, apa
yang mereka pakai, bagaimana bunyi bahasa dan dialeknya, bagaimana kebiasaan
disana, etc. Di KL, dominasi penduduk
adalah dari ras Melayu, kemudian disusul Cina, dan India. Sisanya adalah pendatang, dari Thailand,
Indonesia, dan negara-negara lain. Dan
karena bahasa Melayu yang paling banyak digunakan, kami pun berbahasa Indonesia
dengan mencampur dialek Melayu saat berbicara dengan orang-orang disana –
karena bahasa Indonesia dan bahasa Melayu juga hampir sama artinya, dan
buktinya kami sama-sama mengerti apa yang dimaksudkan J
Nah, kalau ada kesempatan main ke KL, saya pikir harus
mencoba beberapa hal ini;
1.
Makan di
warung mamak! Warung mamak sih sebenarnya warung kopi yang buka 24 jam, tapi
selain kopi, best seller-nya adalah nasi lemak dan roti canai. Di depan hotel saya, Hotel Sentral, ada
warung mamak namanya Restoran An Nur yang top banget. Karena setiap pagi kami sarapan disana dan
mencoba menu yang berbeda tiap harinya, Uncle pemilik warung sampai meminjamkan
kartu diskon swalayannya untuk kami berbelanja :D saya juga pernah mencoba makan di warung
mamak saat malam hari, dan suasananya jauh berbeda. Kalau malam, warung mamak biasanya dipenuhi
uncle-uncle India yang asik mengobrol sambil makan. Seru!
2.
Main kemanapun, harus berani coba makanan yang
belum pernah kita temui. Yang paling
saya suka di KL, tentu saja teh tarik dan roti canai dan pratha, dimakan dengan
cocolan kuah kari, huaaa.. enaaakkk.. >.<
3.
Berkunjung ke Batu Caves yang jaraknya seperti
Jakarta – Bogor, kemudian naik sampai ke puncaknya. Batu Caves sebenarnya kuil pemujaan untuk
dewa Hindu, dan disana ada patung dewa raksasa yang sangat iconic. Nah, dikaki patung itu, ada tangga yang
puanjaaaaannng menuju gua diatasnya.
Kami bertiga – saya, Vira, dan Indah- bertekad untuk naik sampai ke
puncak. Tapi sungguh perjalanan tak
mudah kawan. Maka benarlah yang
dikatakan “Stairway to Heaven, Highway to Hell.” Sungguh perjalanan ke surga tidak mudah. Kami yang masih muda saja entah berapa kali
harus berhenti untuk tarik napas dan istirahat.
Tapi begitu sampai diatas terbayarlah semuanya, di dalam gua ada kuil Hindu yang masih
digunakan untuk beribadah. Yang kurang
nyaman hanya ratusan monyet yang mengiringi perjalanan dan bau-bau yang
menyertai, hehe.. Dan saat kami hendak
turun, kami berpandangan terlebih dahulu, saling menguatkan tekad dan semangat,
dan menghilangkan dorongan untuk menggelinding saja sampai ke bawah XD
4.
Naik kereta gantung di Genting Resort. Sumpeeee itu kereta gantung tingginyaaaaaa…
jujur saja saya takut ketinggian, walaupun kalau naik pesawat saya tidak takut
karena saya yakin itu aman, justru yang lebih menakutkan yang kecil-kecil
seperti kereta gantung atau bianglala.
Dan kereta gantung ini naiiiiiiikkkkk terus sampai ke puncak berkabut. Walhasil saya dan tante Ida sibuk komat kamit
baca doa sambil berpegangan, sementara Vira sibuk foto-foto pemandangan sambil
berdiri. -__- But it was fun. Kalau tak dicoba kan ga bakal tau.
5.
Berkeliling KL naik bis Hop On Hop Off. Dijamin puas berkeliling dengan double decker
berkeliling KL, bisa berhenti di setiap halte, puter-puter sambil foto-foto,
naik lagi ke bis, lanjut lagi, begitu terus macam turis. :D
6.
Beli baju India yang dijual di toko-toko
India. Asli saya menyesal cuma beli 2
potong. Padahal harga disana cuma RM 10,
which is kurang lebih Rp 40.000,- dan begitu saya lihat di Thamrin City baju
yang mirip-mirip harganya berubah jadi Rp 120.000,- dunia bisnis sungguh kejam
(T^T)
7.
Mencoba mengambil foto diri di Twin Tower. Oke, it might looks easy, tapi kami
membutuhkan kurang lebih setengah jam untuk keker sana-keker sini, dengan
posisi berdiri – miring-duduk-jongkok-berdiri dekat-berdiri jauh-berdiri di
pojok-berdiri di seberang kolam-sedikit nungging-intinya semua posisi sudah
dicoba- supaya dapat angle yang pas yang bisa membingkai kami ditengah dengan
menara yang kelihatan sampai ke puncak.
Dan ternyata posisi yang pas adalah…. Silakan dicoba sendiri supaya
lebih berkesan! (>0<)
Oya, satu yang paling menarik adalah baju yang dipakai
wanita Melayu disana. Karena Malaysia
adalah negara Islam, kebanyakan muslimah disana memakai baju kurung model
sederhana sepanjang lutut-bahkan betis- dengan bawahan rok lurus atau rampel
kecil-kecil. Motifnya juga sederhana,
kalau tidak polos ya kembang-kembang kecil, dipadu dengan jilbab sederhana. Persis seperti baju Kak Ros di Ipin
Upin. Baju yang kalau di Jakarta pasti
bakal dibilang “lo mo kondangan?” padahal disana mereka pakai baju itu ke
kantor, ke sekolah, bahkan jalan-jalan di mall, dan terlihat sangat anggun dengan pembawaan yang santun. Melihat mereka jadi sedikit malu, dan akhirnya sekarang bertekad “kalau
beli baju, panjangin sedikit ah, biar ga malu dan ga kalah sama tetangga” J
Jumat, 27 Juni 2014
A different side of the city: Singapore.
Few years ago, travelling to another country was just a
b*llsh*t dream for me. That it was only
a dream in my highest imagination.
That I never imagined it would become true. But it did.
It was all started when my friend, Vira, asked me if I want to join her to
a trip to KL because she got a promo ticket, and I just said I would. I thought my first destination abroad will be
KL, but then when my sister heard that we’d travelling to KL –me and Vira
- she envied us and then asked me to go
to Singapore, and of course I said I would, again. So then I got 2 plans abroad in October 2013
and February 2014, and it was so much exciting.
So my first trip changed to Singapore then.
I remember the scene from The Hunger Games movie, when
Katniss and Peeta from district 12 was seeing Capitol for the first time, when
they saw everything in amazement, and that’s exactly how I felt when I came to
Singapore.
Sebenarnya sih keadaan Singapura dan Jakarta secara iklim
tidak jauh berbeda. Secara penduduk juga
sama dengan Jakarta dengan masing-masing keragaman yang dimilikinya. Namun harus diakui kalau pembangunan
infrastruktur, sarana dan prasarana publik di Singapura sudah jauh diatas
Jakarta. Apalagi sarana
transportasinya. Singaporean yang
mengendarai motor atau mobil pribadi hanyalah mereka yang masuk golongan kelas
atas, karena pajak kendaraan dan biaya parkir yang tinggi. Sisanya, lebih memilih transportasi
publik. Jalur MRT dan bus yang
menghubungkan seluruh kota dengan tarif terjangkau dan jadwal yang reliable menjadi
alasan untuk lebih memilih menggunakan transportasi massal ini.
Dan satu hal lagi yang mengagumkan dari Singaporean adalah
ketertiban mereka dalam segala hal. Yah
wajar saja sih karena di setiap sudut ada CCTV dan ancaman denda yang lumayan
mahal untuk setiap pelanggaran. Memang
kehidupan mereka jadi seperti terlihat monoton dan seperti robot, but I prefer
order than chaos. And when I was there,
ada beberapa hal menarik yang saya temui dan mungkin harus diketahui jadi kalau
suatu saat kalian kesana, kalian tidak akan terlihat “Indonesia banget”.
1.
Singaporean use escalator in 2 lines/2
sides. The left side is for those who
prefer to stand and enjoy the escalator.
While the right side is for those who prefer to walk. Jadi, jangan berlaku seperti saat di
Indonesia ketika naik escalator dengan teman dan kalian berdiri bersisian dan
hanya diam menikmati pemandangan sambil mengobrol.
2.
Ketika naik kendaraan umum, khususnya MRT,
mereka yang ingin naik tidak berdiri di depan pintu, tetapi di kedua sisi pintu. Jalan di depan pintu hanya untuk yang
turun. Bandingkan dengan adu otot yang
terjadi saat mau naik Commuter Line di Jakarta.
Sungguh saya merasa seperti orang barbar.
3.
Tidak ada makan/minum didalam MRT!
4.
Young Singaporean prefers to stand inside the MRT,
even if the seats are empty, even if the seats are not in the priority
area. They might wear something weird,
but they know how to prioritize the priority people.
5.
In fast food restaurant, when you have finished
your meal, you should take the tray and throw the trash in the trash bin, then
put the tray in its place (usually beside the trash bin). Never leave your trash behind!
6.
The toilets are dry toilets. They rarely use water, so you should prepare
wet tissues.
7.
Singaporean
are use to walk. Jadi walaupun jarak
antar halte bus mungkin sedikit jauh, jangan manja, semua orang berjalan kaki
dan menikmatinya. Kalau tidak mau capek
atau kepanasan, ya di hotel saja. Dan berjalanlah dengan mengikuti ritme orang-orang disana, karena ritme pejalan kaki di Singapura lebih cepat dari pada pejalan kaki disini yang suka jalan sambil berleha-leha.
And what amazed me most is, many old men and women are still
working. Kakek-kakek dan nenek-nenek
yang berjalan saja sudah pelan-pelan, masih bekerja menjadi cleaning service
atau pengawas ketertiban di stasiun MRT.
Agak sedikit miris, tapi bangga melihatnya. Dan saya membaca bahwa setiap lansia memang
masih berhak bekerja, dan ada perusahaan yang khusus merekrut mereka, bahkan
sebenarnya perusahaan tidak boleh menolak mereka selama mereka masih sanggup
dan ada lowongan yang tersedia. Para
lansia itu bekerja dengan beragam alasan, tapi kebanyakan untuk mengisi waktu
pensiun dan agar bisa memberi angpau pada cucu-cucunya. Pemerintah Singapura berpendapat untuk
pekerjaan-pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian khusus seperti cleaning
service, tidak boleh diserahkan ke anak
muda, karena anak muda harus bekerja di bidang lain yang bisa ikut membangun
bangsa. Dan ternyata ada kisah
mengharukan di balik kesempatan bekerja dan penghargaan bagi para lansia ini,
you can find the link’s story here
Memegang kata-kata bos saya, Bu Sanni, “Daripada membeli
benda mahal-mahal yang ujung-ujungnya bakal rusak juga, mending kamu beli
pengalaman, kalau pengalaman bakal diingat terus. Dan menurut saya,, untuk sekali seumur hidup
setidaknya, kamu harus coba jalan-jalan keluar negeri, supaya tau kehidupan
yang berbeda di luar sana, ngga akan rugi, walaupun uang kamu habis dan
tabungan sisa 100 ribu, tapi kan orang-orang ngga bakal tau juga.” Keren
ya!
Jumat, 23 Mei 2014
Doing Fine
I keep telling myself that I'm fine
That everything is going to be just fine
Because that's the only thing I can do
hopes,
expectations,
efforts,
reality.
For sometimes they just don't appear like what you dream of,
but you'll gonna be just fine after all.
Selasa, 20 Mei 2014
Obituari untuk Pak Tommy
Saya masih ingat
perkenalan dengan Pak Tommy. Saya dan
teman-teman seangkatan saat itu ditugaskan di Balikpapan. Entah berapa kilometer jauhnya dari rumah
saya di Depok. Terbuang di Kalimantan,
di tempat pertama saya bekerja, tentu selain merasa excited, pasti juga terasa
homesick, bingung, stress menghadapi pekerjaan, dan beragam perasaan lainnya. Pak
Tommy lah yang membawa cerita tentang dirinya yang juga mengalami hal yang sama
bertahun-tahun sebelumnya, dan menciptakan suasana yang penuh canda agar kami melupakan bahwa kami sedang jauh dari rumah.
Kami mengenalnya
sebagai sosok yang amat baik, rendah hati, low profile yang membuatnya mampu
bercanda dengan siapa saja, dan tentunya dengan hobi merokoknya yang bahkan
bisa membuatnya merokok di dalam ruangan.
Pak Tommy selalu berpembawaan santai dan seperti tanpa masalah. Tidak pernah bertindak seperti atasan lain
yang gila hormat dan suka menyuruh seenaknya.
Bu Tommy, istrinya, pun sangat baik, selalu ramah, penuh senyum, senang bercanda
dengan kami, tidak pernah bertindak seperti “ibu pejabat”, dan bahkan saya
sangat menyukai anak-anaknya, terlebih Rima, anaknya yang ketiga, yang saat itu
sedang lucu-lucunya. Dan tahun pertama
saya berada di Balikpapan pun terasa seperti di rumah sendiri, dan saat Pak
Tommy dipindahtugaskan ke Jogja, mulailah orang-orang baik mengikutinya pergi
dan rasanya “rumah” tak lagi sama.
Saya menulis ini,
karena Pak Tommy juga, yang walaupun sudah tidak satu tempat kerja, tetapi masih suka
menanyakan kabar kami lewat facebook walau hanya sekedar ‘say hi’, dan yang
paling saya ingat adalah saat Pak Tommy menanyakan tulisan-tulisan kecil saya,
dan anjurannya agar saya terus menulis. Saya,
yang menulis ala kadarnya saja, sangat tersanjung membacanya, dan berjanji untuk
terus menulis. Dan akhirnya hari ini
saya menulis khusus untuk Bapak, walaupun tidak pernah terbayang yang akan saya
tulis adalah obituari Bapak.
Semoga Bapak
tenang disana ya Pak, dan mendapat balasan atas kebaikan-kebaikan yang pernah
Bapak lakukan, dan semoga istri dan anak-anak Bapak senantiasa diberikan
kekuatan dan kesabaran sepeninggal Bapak.
Saya pun teringat kata-kata orang-orang terdahulu, bahwa orang-orang
baik memang selalu dipanggil lebih dulu, karena Allah lebih menyayangi mereka.
“Dan di dunia
ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula
kembali pulang. Seperti dunia dalam
pasar malam. Seorang-seorang mereka
datang dan pergi. Dan yang belum pergi
dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah kemana” (Dunia dalam
Pasar Malam – Pramoedya Ananta Toer)
Senin, 12 Mei 2014
Faith
Waktu SMA dulu, saya ingat mengisi sebuah form dengan pertanyaan :
Menurut kamu, iman itu apa?
Dan kemudian saya menjawab, iman itu seperti tali layang-layang, tipis, kuat, membawa kita melihat tempat tinggi, tapi tetap menahan kita untuk tidak terbang lepas, tentu kita adalah layang-layangnya.
Lalu kalau sekarang saya mendapat pertanyaan yang sama, saya akan menjawab,
Menurut saya, iman itu, saat kamu memegang dada kirimu dan merasa takjub akan detak jantung yang terasa begitu ritmik, lebih indah dari simfoni Mozart atau Beethoven nomor berapapun, terus berdetak tanpa terlihat dirigen-nya, tapi kamu percaya ada dirigen yang luar biasa hebat sampai menciptakan ritmik seperti itu dalam milyaran tubuh manusia.
Menurut saya, iman itu saat kamu memandangi langit dan mendapati bintang-bintang diam bersinar di tempatnya, tanpa kamu merasa khawatir mereka akan jatuh menimpamu -yah walaupun memang bisa- karena ada yang menahan mereka untuk tetap beredar di garis edarnya masing-masing.
Menurut saya, iman itu saat kamu bisa merasakan tetesan hujan -yang ternyata air tawar, bukan air asin, apalagi air asam- padahal hujan itu dari air laut yang menguap, yang seharusnya akan terasa asin. Dan kamu bersyukur bahwa hujan yang turun hanya rintik-rintik air, bukan datang dalam rintik-rintik bijih besi atau selongsong peluru.
Menurut saya, iman itu berarti terus melangkah, walaupun kamu tidak tau apa yang ada di depan sana, kamu hanya meyakini bahwa segelap apapun, pasti langkahmu akan menjejak di tanah, dan mungkin kamu akan menemukan matahari, atau sinar bulan, atau cahaya lilin, kunang-kunang, atau hanya cahaya fluorescent seperti sticker glow in the dark bentuk bintang-bintang yang biasa kamu tempelkan di dinding kamar, yang akan menerangi jalanmu, sedikit demi sedikit.
Lalu, kalau ada rasa percaya seperti itu, apa perlu lagi agama?
Ya itu sih terserah kalian,
Tapi saya percaya, kalau agama yang akan memberikan batasan-batasan mengenai apa yang kalian percayai.
Lalu, kalau misalnya ada orang lain yang menetapkan batasan yang berbeda, dan bilang kalau kalian melewati batasannya, terus apakah lantas kalian akan saling menghina satu sama lain?
Itu terserah kalian juga.
So let it be.
Menurut kamu, iman itu apa?
Dan kemudian saya menjawab, iman itu seperti tali layang-layang, tipis, kuat, membawa kita melihat tempat tinggi, tapi tetap menahan kita untuk tidak terbang lepas, tentu kita adalah layang-layangnya.
Lalu kalau sekarang saya mendapat pertanyaan yang sama, saya akan menjawab,
Menurut saya, iman itu, saat kamu memegang dada kirimu dan merasa takjub akan detak jantung yang terasa begitu ritmik, lebih indah dari simfoni Mozart atau Beethoven nomor berapapun, terus berdetak tanpa terlihat dirigen-nya, tapi kamu percaya ada dirigen yang luar biasa hebat sampai menciptakan ritmik seperti itu dalam milyaran tubuh manusia.
Menurut saya, iman itu saat kamu memandangi langit dan mendapati bintang-bintang diam bersinar di tempatnya, tanpa kamu merasa khawatir mereka akan jatuh menimpamu -yah walaupun memang bisa- karena ada yang menahan mereka untuk tetap beredar di garis edarnya masing-masing.
Menurut saya, iman itu saat kamu bisa merasakan tetesan hujan -yang ternyata air tawar, bukan air asin, apalagi air asam- padahal hujan itu dari air laut yang menguap, yang seharusnya akan terasa asin. Dan kamu bersyukur bahwa hujan yang turun hanya rintik-rintik air, bukan datang dalam rintik-rintik bijih besi atau selongsong peluru.
Menurut saya, iman itu berarti terus melangkah, walaupun kamu tidak tau apa yang ada di depan sana, kamu hanya meyakini bahwa segelap apapun, pasti langkahmu akan menjejak di tanah, dan mungkin kamu akan menemukan matahari, atau sinar bulan, atau cahaya lilin, kunang-kunang, atau hanya cahaya fluorescent seperti sticker glow in the dark bentuk bintang-bintang yang biasa kamu tempelkan di dinding kamar, yang akan menerangi jalanmu, sedikit demi sedikit.
Lalu, kalau ada rasa percaya seperti itu, apa perlu lagi agama?
Ya itu sih terserah kalian,
Tapi saya percaya, kalau agama yang akan memberikan batasan-batasan mengenai apa yang kalian percayai.
Lalu, kalau misalnya ada orang lain yang menetapkan batasan yang berbeda, dan bilang kalau kalian melewati batasannya, terus apakah lantas kalian akan saling menghina satu sama lain?
Itu terserah kalian juga.
So let it be.
Langganan:
Postingan (Atom)







.jpg)




